Sejarah Kabupaten Blora

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)

A. Kabupaten Blora dalam Lintasan Kerajaan Besar

Nama kabupaten Blora memang arum kuncara. Kata Blora berasal dari kata Belo dan Ara-ara. Blora juga bermakna belo ing ara-ara. Belo itu anak kuda. Ara-ara berarti padang rumput. Belo merupakan hewan piaraan yang punya masa depan gemilang. Belo yang dirawat dengan baik akan menjadi hewan ternak yang mewah megah. Kalau beruntung kuda yang bermutu tinggi pasti menjadi kesayangan para bangsawan utama.

Dalam tradisi kerajaan Jawa hewan kuda merupakan sebuah kebanggaan yang bergengsi tinggi. Belo yang digembala dipadang rumput akan menjadi bahan perhatian semua mata yang menatap. Tak terkecuali wilayah Blora. Sejak dulu menjadi perhatian berbagai pihak. Di Blora ada imbalan yang sangat memadai. Sesungguhnya kabupaten Blora memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pada jaman kerajaan Majapahit wilayah Blora kerap menjadi tujuan kunjungan para pejabat istana.

Pada tahun 1352 Prabu Hayamwuruk berkunjung ke Bedander Bojonegoro. Raja Majapahit ini napak tilas perjuangan leluhurnya yaitu Prabu Joyonagoro. Perjalanan diteruskan ke Cepu Blora. Di sana beliau mengamati potensi alam Cepu Blora yang berlimpah ruah. Kayu jati dan minyak merupakan kekayaan alam yang mahal harganya. Kerajaan Majapahit memberi perlindungan dan pengaturan yang menguntungkan rakyat.

Kerajaan Majapahit masa kepemimpinan Prabu Brawijaya V semakin peduli pada wilayah Blora. Prabu Brawijaya V pernah tapa ngeli di Kali Lusi. Beliau juga melakukan meditasi di Gunung Kendheng. Rombongan kraton Majapahit kembali ke Surabaya naik perahu Kyai Rajawesi. Berangkat dari Cepu de-ngan menelusuri Bengawan Solo.

Masyarakat Blora telah sepakat menetapkan hari jadi kabupaten Blora. Hari ulang tahunnya diambil dari Kamis Kliwon tanggal 2 Sura 1675 atau 11 Desember 1749. Bupati pertama dijabat oleh Adipati Wilwatikta. Saat itu Blora dibawah pembinaan kraton Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun paku Buwana III.

Dalam Serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwana V yang memerintah karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1820-1823 Blora banyak disebut. Wilayah Blora memiliki 5 keunggulan.

1. Kayu Jati
Kayu jati Blora berkualitas internasional. Penanaman kayu jati memerlukan waktu yang lama. Setidak-tidaknya 50 tahun. Itu baru bisa dipanen. Hari raya tentu lebih baik.
2. Minyak tanah
Sumur yang mengalir di wilayah Cepu menjadi kekayaan berlimpah ruah. Karunia Tuhan yang diberikan kepada masyarakat Blora amat besar.
3. Semen Gamping
Sepanjang gunung Sewu dan gunung Kendheng merupakan bahan untuk membuat semen. Bahkan sudah tersedia. Tinggal mengolah saja sudah menjadi barang mewah.
4. Padi Gogo
Padi gogo ditanam di ladang yang kering. Tidak perlu air yang cukup. Padi gogo tumbuh subur di sekitar tanah tandus. Rasanya enak sekali. Mutu rasanya berkelas dunia.
5. Burung Perkutut
Manuk kutut bersuara merdu, nyaring atau kung. Orang yang mendengar akan merasa tenang ayem tentrem. Burung perkutut sekitar gunung Kendheng sungguh memikat dan mahal harganya.

Tim kerajaan Surakarta sejak tahun 1810 sudah melaku-kan kajian yang mendalam atas wilayah Blora. Gunung Kendheng gunung Sewu, gunung Pandhan diulas terperinci. Penjelasan dari serat Centhini yang disusun tim karaton Surakarta dapat dijadikan panduan untuk mengolah wilayah Blora. Sepanjang sungai Bengawan Solo merupakan kawasan alam yang menye-diakan kekayaan yang amat banyak. Cuma perlu pengaturan yang jeals. Jangan sampai terjadi keributan. Itulah gunanya aturan hidup.

Kemajuan kabupaten Blora menjadi perhatian dunia sejak tahun 1862. Sinuwun Paku Buwana IX raja Kraton Surakar-ta Hadiningrat mengundang investor internasional. Pelabuhan Tanjung Emas Semarang diperbaiki. Mutu ketrampilan juru ukir Jepara ditingkatkan dengan pelatihan. Transportasi yang menghubungkan stasiun Cepu dibangun dengan sangat bagus. Jalur kereta api dibangun menghubungkan Cepu Surabaya dan Cepu Semarang. Betapa strategisnya kota Cepu Blora. Pemuda-pemudi Cepu dilatih dalam bidang teknologi modern. Mereka bisa bekerja di perusahaan kereta api.

Sinuwun Paku Buwono X memerintah tahun 1893-1939. Pemuda pemudi dari wilayah Banjarejo, Bogarejo, Cepu, Japan dan Jati diundang untuk belajar pengelolaan kebun teh di Ampel Boyolali pada tahun 1915. Setelah itu mereka bekerja dengan sistem kontrak. Upahnya lebih dari memadai. Setiap 3 bulan karyawan kebun teh ini diberi fakansi untuk kunjung orang tua di kampung. Semua biaya ditanggung perusahaan.

Pemuda pemudi Jeken, Kedungtuban, Kradenan, Kundur-an, Ngawen, Sambong, Randublatung, Todanan, Tunjungan pada tahun 1916 diajak belajar manajemen gula di pabrik Gondang Winangun. Pengalaman berharga ini berguna untuk menyong-song masa depan.

Kabupaten Blora memiliki sesanti atau motto MUSTIKA. Akronim MUSTIKA ini bermakna Maju, Unggul, Sehat, Tertib, Indah, Kontinyu, Aman. Harapan rakyat Blora ini disajikan dalam bentuk lagu laras pelog berjudul Blora Mustika.

Maju terus pembangunan nagri
Unggul kabul kuncara kang ginayuh
Sehat lahir kalawan batine
Tertib rancak tumata tuwin titi permati
Indah agawe tentreming rasa
Kontinyu tan kendhat kang binundi
Aman ayem temah karta raharja.

Lagu Blora Mustika tersebut populer sejak tahun 1984. Para wiyaga, waranggana sering mengumandangkan lagu Blora Mustika. Bahkan dalam seni tayub menjadi lagu favorit. Dengan garab balung yang kreatif, kendangan yang sigrak tentu membuat pengibing merasa cocok. Mereka njoged sesuai dengan irama. Suara ibu waranggana tayub yang merdu menjadikan mereka gembira ria. Penanggap rata-rata sedang punya hajad. Mantu, khitan, kelahiran bayi sering mengundang rombongan langen tayub.

Pengembangan seni budaya Blora boleh dikata maju sekali. Rakyat Blora tampil bahagia dengan nanggap tayub. Wilayah Cepu, Jepon, Randublatung mudah dijumpai pemen-tasan seni tayub. Pengrawit tayuban rata-rata dinamis, bebas dan sigrak. Nama yang terdengar selalu meriah, sensual dan menarik untuk gerakan. Seni tayub membuat bahagia bersama.

B. Para Bupati Blora

1. Tumenggung Wilatikta 1749-1762. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
2. Tumenggung Jayeng Tirtanata 1762-1782. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
3. RT Tirtakusuma 1782-1812. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
4. RT Prawirayuda 1812-1823. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadi-ningrat.
5. RT Tirtanegoro I 1823-1842. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono V, raja Surakarta Hadi-ningrat.
6. Adipati Cokronegoro I 1842-1843. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.
7. RT Tirtonegoro II 1843-1847. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadi-ningrat.
8. RT Notowijoyo 1847-1857. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadi-ningrat.
9. RT Cokronegoro II 1857-1886. Dilantik pada masa pe-merintahan Sunan Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
10. RT Cokronegoro III 1886-1912. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
11. RM Abdulkadir Jaelani 1912-1926. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
12. RM Cakraningrat 1926-1938. Dilantik pada masa peme-rintahan Sunan Paku Buwono X, raja Surakarta Hadi-ningrat.
13. RM Murjono Joyodigdo 1938-1942. Dilantik pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono XI, raja Surakarta Hadiningrat.
14. RM Sujono 1942-1945. Dilantik pada masa pemerintah-an Sunan Paku Buwono XI, raja Surakarta Hadiningrat.
15. MR Iskandar 1945-1948. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soekarno.
16. R Wibisono 1948-1949. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soekarno.
17. R Siswadi Joyodigdo 1949-1952. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
18. R Sujono 1952-1957. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
19. Sunartio 1957-1960. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
20. Sukirno Sastrodimejo 1960-1967. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
21. Srinardi 1967-1973. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
22. Supadi Yudodarmo 1973-1979. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
23. Sumarno SH 1979-1989. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Soeharto.
24. Sukardi Harjoprawiro 1989-1999. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
25. Ir. Basuki Widodo 1999-2007. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Habibie.
26. Yudhi Sancoko 2007-2010. Dilantik pada masa pemerin-tahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
27. Joko Nugroho 2010-2020. Dilantik pada masa peme-rintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo.

C. Wilayah Blora dalam Ulasan Serat Centhini

Aran ing Krendhawahana, urute si Kendheng gunung, abanjar dawa puniku, karo ing si Tengger arga, titahing dewa sadarum, kang murih marang ing dina, kailangan umur puput.

Ing kene nggonningsun nyetra, kariya milih sireku, sa-mono mau kang purun, nuninggih rama sandika, putrane anyu-wun sangu, warni arta swidak uwang, abragging pawon sadarum.

Miwah sen-isening griya, lempir glaran ingkang alus, myang sumekan warni catur, pandhan binethot sajuga, ijem ringin kalihipun, katri songer namanira, daringin jangkeping catur.

Ing tembe nak-putu ingkang, sami kapengin mangrasuk, sinjang sekaran puniku, mawia jawab ing kula, sadangunira mangrasuk, kula lilani nganggoa, panganten inggal puniku.

Bilih boten makatena, datan lega manahulun, tampia upata-ningsun, ya rara luwih prayoga, daktururane kang kantun, mundur Dyah Bathari Durga, Hyang Panyarikan mangayun.

Mangenjali aturira, kawula anyuwun sangu, ron karopak ingkang alus, kalih kisi pangot waja, pamintamu ingsun angsung, mundur Sang Hyang Panyarikan, mesat mring kayanganipun.

Gya Lebakipun mangarsa, nembah matur dhuh pukulun, ingkang abdi nyuwun sangu, ayam jaler estri gesang, lele kalih ingkang idhup, gecok ingkang warna-warna, tuwin sinjang tuluh-watu.

Sagegem sisih wos pethak, warni sanga tumpengipun, jadah warni sanga namung, sekul asahan penakan, kupat lepet legan-dha nung, pula-gringsing pula-gimbal, awug-awug kaduk juruh.

Tatedhan bangsa kukusan, remikan sapepakipun, rujak bakal ingkang wutuh, cadhong jenang ingkang pepak, pala ka-simpar gumantung, pala pendhem mamentahan, tuwin sinjang perlunipun.

Kangge nggendhong kang tatedhan, prayoga ing panyuwun-mu, Lebakiyuk wus amundur, Keblakdhekla kang mangarsa, marenges nembah umatur, pukulun gusti kawula, ingkang abdi nyuwun sangu.

Sekul ulam myang panganan, kawradinken kancaulun, pra-yoga sapanyuwunmu, Keblakdhekla kang wus medal, Kalabanjar amangayun, kawula pun Kalabanjar, plataran panggenan-ulun.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *