Pacitan – Inilah salah satu potret suram miskinnya infrastruktur di kawasan terpencil di Kabupaten Pacitan.
Untuk bisa menjalankan aktivitas kesehariannya, warga yang bermukim di kawasan pelosok, terpaksa harus memasang sebatang bambu, sebagai alat perlintasan agar bisa menyeberangi sungai.
Belum lagi disaat musim penghujan dan terjadi banjir bandang, nyawapun menjadi taruhannya. Mengingat panjangnya bentangan sungai disertai bebatuan cadas.
Fenomena tersebut sebagaimana dialami warga Dusun Nongko, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar dan Warga Dusun Semen, Desa Gondang Kecamatan Nawangan. “Sudah berpuluh tahun warga di dua desa itu harus memanfaatkan sebatang bambu untuk bisa melintas menyeberang sungai,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Pacitan, Lancur Susanto, Jumat (31-03-2023).
Sebagai wakil rakyat berbasis daerah pemilihan Kecamatan Nawangan-Bandar, ia benar-benar sangat prihatin menyaksikan fenomena tersebut.

Di era digitalisasi seperti sekarang ini, ternyata masih ada kawasan di pelosok desa di Pacitan, yang belum tersentuh pembangunan infrastruktur. Utamanya jalan dan jembatan.
“Jembatan dari sebatang bambu tersebut, di pasang ketika warga hendak menyeberang. Setelah menyeberang, bambu tersebut di angkat lantas mereka sembunyikan di tempat aman, supaya tidak hanyut kalau terjadi banjir. Sungai selebar kurang lebih 35 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter tersebut, merupakan aliran Sungai Grindulu,” jelasnya.
Lancur berharap, kedepan perlunya sesegera mungkin di bangun jembatan gantung. Sebab jalur tersebut merupakan akses vital warga di dua wilayah. “Kalau lewat darat mereka harus memutar arah dan memerlukan waktu tempuh hampir dua jam lebih. Sedangkan kalau menyeberang sungai tersebut, hanya butuh waktu tak lebih dari 45 menit,” beber wakil rakyat tiga periode ini.
Lebih lanjut, pria yang juga dipercaya sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Pacitan ini mengatakan, sementara waktu ini warga memang sengaja tidak membuat jembatan rakitan.
