Liputan BERITA

Jeritan warga Di Kampung Halaman SBY. Seberangi Sungai Dengan Sebatang Bambu Untuk Alat Perlintasan

Ditulis oleh Liputan68 pada 31 Maret 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan – Inilah salah satu potret suram miskinnya infrastruktur di kawasan terpencil di Kabupaten Pacitan.

Untuk bisa menjalankan aktivitas kesehariannya, warga yang bermukim di kawasan pelosok, terpaksa harus memasang sebatang bambu, sebagai alat perlintasan agar bisa menyeberangi sungai.

Belum lagi disaat musim penghujan dan terjadi banjir bandang, nyawapun menjadi taruhannya. Mengingat panjangnya bentangan sungai disertai bebatuan cadas.

Fenomena tersebut sebagaimana dialami warga Dusun Nongko, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar dan Warga Dusun Semen, Desa Gondang Kecamatan Nawangan. “Sudah berpuluh tahun warga di dua desa itu harus memanfaatkan sebatang bambu untuk bisa melintas menyeberang sungai,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Pacitan, Lancur Susanto, Jumat (31-03-2023).

Sebagai wakil rakyat berbasis daerah pemilihan Kecamatan Nawangan-Bandar, ia benar-benar sangat prihatin menyaksikan fenomena tersebut.

Warga saat melintasi sungai dengan sebatang bambu.
Warga saat melintasi sungai dengan sebatang bambu.

Di era digitalisasi seperti sekarang ini, ternyata masih ada kawasan di pelosok desa di Pacitan, yang belum tersentuh pembangunan infrastruktur. Utamanya jalan dan jembatan.

“Jembatan dari sebatang bambu tersebut, di pasang ketika warga hendak menyeberang. Setelah menyeberang, bambu tersebut di angkat lantas mereka sembunyikan di tempat aman, supaya tidak hanyut kalau terjadi banjir. Sungai selebar kurang lebih 35 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter tersebut, merupakan aliran Sungai Grindulu,” jelasnya.

Lancur berharap, kedepan perlunya sesegera mungkin di bangun jembatan gantung. Sebab jalur tersebut merupakan akses vital warga di dua wilayah. “Kalau lewat darat mereka harus memutar arah dan memerlukan waktu tempuh hampir dua jam lebih. Sedangkan kalau menyeberang sungai tersebut, hanya butuh waktu tak lebih dari 45 menit,” beber wakil rakyat tiga periode ini.

Lebih lanjut, pria yang juga dipercaya sebagai Sekretaris DPD Partai Golkar Pacitan ini mengatakan, sementara waktu ini warga memang sengaja tidak membuat jembatan rakitan.

Hal itu dikarenakan, agar mudah untuk dibongkar pasang. ” Kalau bambu di rakit susah untuk di angkat dan ketika sungai banjir akan hanyut. Maka warga hanya menyiapkan sebatang bambu untuk dipasang sebagai sarana perlintasan.

Mengingat sarana penyeberangan hanya menggunakan sebatang bambu, tentu sangat membahayakan keselamatan nyawa warga. Karena itu perlunya diupayakan pembangunan jembatan permanen, guna memperlancar dan demi keselamatan warga masyarakat. Mengingat sungai tersebut dalam dan sewaktu waktu bisa terjadi banjir besar,” jlentrehnya.

“Warga berharap, Pemkab Pacitan bisa membangun jembatan permanen atau paling tidak jembatan gantung. Karena lokasinya sangat curam, dan membahayakan keselamatan warga yang melintas,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian