Pacitan, Liputan 68.com-Gelombang aksi protes sejumlah aktivis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang populis berkaitan dengan efisiensi pelaksanaan APBN dan APBD tahun anggaran 2025, terus bergolak.
Salah satunya dari Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Pacitan.
Mereka dengan tegas menolak kebijakan pemangkasan anggaran, khususnya bidang pendidikan dan riset yang diusulkan oleh pemerintah dalam rangka efisiensi APBN dan APBD 2025.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah mundur dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dan berpotensi menghambat kemajuan bangsa.
Presiden Prabowo Subianto dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang menargetkan efisiensi anggaran kementerian dan lembaga hingga Rp 306,69 triliun.
Dalam kebijakan tersebut, pemangkasan anggaran juga menyasar sektor pendidikan dan riset, yang merupakan pilar utama dalam menciptakan SDM unggul dan inovatif.
Salah satu yang terdampak adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mengalami pemangkasan anggaran sebesar Rp 2,074 triliun.
Semula, BRIN mendapatkan anggaran Rp 5,842 triliun pada 2025, namun setelah pemangkasan, anggaran tersisa hanya Rp 3,767 triliun—berkurang sekitar 35,52%.
Ketua DPC GMNI Pacitan, Dela Prastisia, menyatakan bahwa kebijakan ini menunjukkan kurangnya komitmen pemerintah dalam memajukan pendidikan dan riset di Indonesia.
“Pendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Pemangkasan anggaran di sektor ini menunjukkan kurangnya komitmen pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,” tegas Dela, Kamis (13/2/2025).
Menurutnya, pemangkasan anggaran riset dikhawatirkan akan memperparah kondisi sektor pendidikan tinggi, di mana kualitas penelitian dan inovasi akan mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran.
Saat ini, Indonesia hanya mengalokasikan sekitar 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk riset dan pengembangan. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, seperti:
– Singapura: 2,2% dari PDB
– Korea Selatan: 4,8% dari PDB
