Liputan BERITA

Anggaran Pendidikan dan Riset Dipangkas, DPC GMNI Pacitan: Pendidikan Adalah Pilar Utama, Bukan Sekadar Prioritas Pendukung

Ditulis oleh Liputan68 pada 13 Februari 2025 โฑ๏ธ 2 Menit Baca

Pacitan, Liputan 68.com-Gelombang aksi protes sejumlah aktivis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang populis berkaitan dengan efisiensi pelaksanaan APBN dan APBD tahun anggaran 2025, terus bergolak.

Salah satunya dari Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Pacitan.

Mereka dengan tegas menolak kebijakan pemangkasan anggaran, khususnya bidang pendidikan dan riset yang diusulkan oleh pemerintah dalam rangka efisiensi APBN dan APBD 2025.

Kebijakan ini dinilai sebagai langkah mundur dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dan berpotensi menghambat kemajuan bangsa.

Presiden Prabowo Subianto dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, yang menargetkan efisiensi anggaran kementerian dan lembaga hingga Rp 306,69 triliun.

Dalam kebijakan tersebut, pemangkasan anggaran juga menyasar sektor pendidikan dan riset, yang merupakan pilar utama dalam menciptakan SDM unggul dan inovatif.

Salah satu yang terdampak adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang mengalami pemangkasan anggaran sebesar Rp 2,074 triliun.

Semula, BRIN mendapatkan anggaran Rp 5,842 triliun pada 2025, namun setelah pemangkasan, anggaran tersisa hanya Rp 3,767 triliunโ€”berkurang sekitar 35,52%.

Ketua DPC GMNI Pacitan, Dela Prastisia, menyatakan bahwa kebijakan ini menunjukkan kurangnya komitmen pemerintah dalam memajukan pendidikan dan riset di Indonesia.

โ€œPendidikan adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Pemangkasan anggaran di sektor ini menunjukkan kurangnya komitmen pemerintah dalam memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas,โ€ tegas Dela, Kamis (13/2/2025).

Menurutnya, pemangkasan anggaran riset dikhawatirkan akan memperparah kondisi sektor pendidikan tinggi, di mana kualitas penelitian dan inovasi akan mengalami stagnasi atau bahkan kemunduran.

Saat ini, Indonesia hanya mengalokasikan sekitar 0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk riset dan pengembangan. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, seperti:
– Singapura: 2,2% dari PDB
– Korea Selatan: 4,8% dari PDB

Dengan angka tersebut, Indonesia sudah tertinggal jauh dalam investasi riset dan pengembangan. Jika pemangkasan terus dilakukan, maka Indonesia berisiko semakin tertinggal dalam daya saing global.

“Pemotongan anggaran riset sebesar ini akan menghambat inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan. Padahal, riset adalah kunci dari pendidikan yang berkualitas. Jika kita terus memangkas anggaran, bagaimana mungkin kita bisa bersaing dengan negara lain?โ€ ungkap Dela dengan nada tanya.

Sebagai bentuk protes terhadap wacana kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan dan riset, DPC GMNI Pacitan mendesak pemerintah untuk:

1. Menghentikan Rencana Pemangkasan Anggaran Pendidikan dan Riset
Pemerintah harus memastikan bahwa alokasi anggaran untuk pendidikan dan riset tidak dikurangi, bahkan seharusnya ditingkatkan demi menciptakan SDM unggul.

2. Menjadikan Pendidikan dan Riset sebagai Prioritas Utama
Pendidikan bukan hanya investasi jangka panjang, tetapi juga kunci utama bagi daya saing Indonesia di tingkat global.

3. Mengatur Skala Prioritas dengan Tepat
Pemerintah seharusnya dapat mengidentifikasi program-program yang secara substansial tidak terlalu berdampak bagi kemajuan bangsa untuk dilakukan efisiensi anggaran, tanpa mengorbankan sektor pendidikan dan riset yang merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.

4. Meningkatkan Transparansi Anggaran Pendidikan dan Riset
Publik harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait anggaran pendidikan dan riset, agar tidak ada penyalahgunaan atau salah alokasi dana.

GMNI Pacitan menegaskan bahwa, pendidikan dan riset adalah dua elemen fundamental yang tidak boleh dianggap sekadar prioritas pendukung.

“Sebagai organisasi yang berkomitmen pada kemajuan pendidikan dan kesejahteraan rakyat, GMNI Pacitan akan terus mengawal kebijakan pemerintah agar pendidikan tetap menjadi prioritas utama demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian