Prosesi Puncak Hari Jadi Pacitan Ke-280, Bupati Aji Luncurkan Buku Sejarah Pacitan dan Usulkan KH Abdul Hamid Dimyati Sebagai Pahlawan Nasional
Pacitan,liputan 68.com- Rintik gerimis mewarnai puncak prosesi hari jadi Kabupaten Pacitan ke-280, Tahun 2025.
Sumandhang Nugroho sebagai tema utama, yang memiliki makna bahwa setiap anugerah yang diterima merupakan bentuk kasih sayang Tuhan yang tidak bisa dibeli atau ditukar dengan apapun.
Sejak pagi, mendung tipis nampak menggelayut di atas langit bumi kelahiran Presiden ke-enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut.
Iringan suara gamelan dan lantunan langgam dari para waranggono, rampak mengalun merdu mengiringi derap kaki para tamu undangan yang hadir menuju pendopo agung.
Semilir angin sepoi-sepoi menerpa, saat arak-arakan Songsong Agung Kutho Pacitan, Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayuaji Reksonagoro bersama Kanjeng Ratu Efi Suroningsih dan punggawa kerajaan yang mengawalnya, berjalan rindik menuju tahta singgasana.
Disusul di belakangnya, Wabup Gagarin beserta istri, Ketua DPRD, Arif Setia Budi beserta istri, Sekkab Heru Wiwoho Supadi Putro beserta istri, dan jajaran forkopimda beserta istri.
Meski diselimuti udara dingin dan sedikit lembab, namun suasana terasa hangat dan begitu sakral. Perlahan, terik mentari pun mulai menerobos gumpalan awan putih dan kembali menerangi jagat pelataran Pendopo Agung, Pemkab Pacitan.
Hamparan karpet merah bertabur kembang mawar, membentang di halaman pendopo, sebagai sebuah simbol semangat dan kebersamaan seluruh warga Pacitan, kalau di dua abad silam, daerah yang dicintainya dikukuhkan sebagai kabupaten yang diberinya nama Pacitan. Bahagia dan sejahtera, senantiasa menjadi sebuah harapan.

Seperti peringatan di tahun-tahun sebelumnya, pada puncak prosesi hari jadi ke-280 ini kali, semua tamu undangan khususnya bapak-bapak dari perangkat daerah dan instansi vertikal, nampak mengenakan busana beskap Jawa, lengkap dengan pusaka keris yang diselipkan di pinggang belakang, dipadu dengan blangkon serta sandal selop, layaknya pakaian khas di era kerajaan silam.
Pun, para istri dan undangan ibu-ibu dari berbagai elemen, juga mengenakan kebaya warna hitam dipadu sandal bakiak dan aksesoris penghias lainnya.
Sebelum prosesi puncak digelar, para abdi dalem dan Bupati Indrata bersama Wabup Gagarin, berkesempatan melaksanakan ziarah ke makam para Adipati pendahulu.
Tak lupa acara Tirto Wening yang cukup sakral, juga diselenggarakan sebagai pelengkap hajatan besar yang dihelat setiap 19 Februari itu.
Dalam sambutannya, Bupati Indrata menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh tamu undangan yang hadir di agenda prosesi puncak Hari Jadi Pacitan ke-280, Senin (17/2/2025).
Menurut bupati, sejatinya prosesi akan dilaksanakan pada 19 Februari 2025. Namun karena ada agenda pelantikan kepala daerah serentak di Istana Negara, sehingga kegiatan prosesi diajukan pada hari ini.
“Semoga Pacitan paring kebaking keberkahan sangking gusti ingkang moho asih,” kata Bupati Indrata dengan bahasa Jawa.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Indrata menyampaikan dua hal utama seiring peringatan Hari Jadi Pacitan ke-280 Tahun 2025.
Yang pertama, kata bupati yaitu, peluncuran buku sejarah berdirinya Pacitan. “Saya sampaikan selamat pada tim yang telah menelusuri dan mengumpulkan sejarah Pacitan, sehingga bisa tercetak sebuah buku.
Dalam buku tersebut juga terdapat bukti prasasti jaman Mataram Kuno. Yang mana membuktikan kalau Pacitan itu sudah ada sejak jaman Keraton Mojopahit,” jelasnya.
Keponakan Presiden SBY ini berharap, semoga dengan terbitnya buku tentang sejarah Pacitan, akan bisa menjadi bacaan dan kasanah pengetahuan bagi semua kalangan. “Dan semoga bisa memiliki rasa ngandarbeni pada Pacitan,” tuturnya.

Untuk hal kedua yaitu diusulkannya seorang ulama besar dari Ponpes Tremas, Kecamatan Arjosari, KH Abdul Hamid Dimyati sebagai pahlawan nasional ke pemerintah pusat.
Piagam diterimakan kepada ahli waris dari Ponpes Tremas, KH Mu’ad Dimyati.
Dan juga penghargaan terhadap almarhum Soetrisno sebagai pengarang sesanti Toto Pramono Hargehing Projo yang merupakan simbol Kabupaten Pacitan. Piagam pengharagaan diterimakan kepada istri almarhum, Wawuk Soetrisno.
“Semoga Pacitan tansah tentrem ayem bahagio mulyo lahir batin,” ujar Bupati Indrata.
Sementara itu pada agenda prosesi puncak hari jadi Pacitan ke-280 juga dihadiri para bupati dari Kabupaten tetangga. Seperti Bupati Ponorogo, Trenggalek, Gunung Kidul, Wonosari, serta Bakorwil Madiun.
Tak ketinggalan, anggota DPRD Provinsi Jatim Indra Widya Agustina, yang merupakan kakak dari Bupati Indrata juga berkesempatan hadir. Pun, mantan Bupati Indartato juga hadir beserta istri. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan