NTT, Liputan68.com – Setelah bertahun-tahun rusak parah dan nyaris ditinggalkan, jalan provinsi Welaus–Sanleo akhirnya mendapat perhatian serius.
Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), dan Wakil Bupati Malaka, Henry Melki Simu (HMS), turun tangan langsung ke lapangan.
Jalan Welaus–Sanleo bukan sekadar akses lokal.
Ia merupakan urat nadi penghubung Malaka ke Belu, TTU, hingga ke ibu kota provinsi NTT.
Selama bertahun-tahun, kerusakannya dibiarkan begitu saja, hingga warga harus mempertaruhkan keselamatan saat melintas.
“Ini jalan penting. Tapi kami lihat sendiri, hanya SBS dan HMS yang benar-benar hadir dan mengambil langkah nyata,” ujar seorang warga Desa Sanleo.
Langkah cepat dan responsif duet SBS–HMS tak hanya berhenti pada survei atau wacana.
Saat ini, jalan Welaus diperbaiki secara darurat sebagai bentuk respons awal dari pemerintah kabupaten.
Karena belum ada perhatian nyata dari pihak provinsi, untuk sementara lubang-lubang besar diratakan dengan ekskavator dan ditimbun agar permukaan jalan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Ini adalah langkah tanggap sementara sambil menunggu realisasi janji dari Dinas PUPR Provinsi yang sebelumnya telah menyatakan akan memperbaiki jalan tersebut secara permanen.
Perbaikan darurat ini membuat akses yang sebelumnya lumpuh total kini mulai bisa digunakan kembali, meskipun bersifat sementara.
Kehadiran langsung Bupati dan Wakil Bupati di lokasi pun menjadi angin segar bagi masyarakat.
“Baru pertama kali jalan ini diperhatikan sungguh-sungguh. Kami senang karena pemimpin kami tidak hanya datang bawa janji, tapi bawa solusi,” tambah warga lainnya.
SBS dan HMS dalam komentarnya menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur bukan soal siapa berwenang, tapi soal siapa yang benar-benar peduli terhadap nasib rakyat.
“Kami tahu ini jalan provinsi, tapi kami juga tahu penderitaan warga kami. Tidak bisa terus menunggu. Maka kami turun tangan,” ungkap keduanya dalam kesempatan terpisah.
Dengan langkah ini, SBS–HMS membuktikan bahwa kepemimpinan tak diukur dari banyaknya pidato, tapi dari seberapa cepat dan nyata respons terhadap kebutuhan rakyat.*** (Eki Luan)
