Ir H Soekirman Mengagas Mutu Pariwisata Sergai Nan Menawan

Kabupaten Banyuwangi maju wisatanya. Pulau Berhala di Sergai eksotik. Istimewa sekali. Karena terletak di luar. Fokus ke Tanjung Beringin. Kalau digarap serius pasti wisata di sana akan hidup. Tentara marinir bisa diajak kerjasama. Kelompok pemancing juga dilibatkan. Pulau Berhala ini digarap akan menjadi ikon Kabupaten Serdang Bedagai, hotel, kuliner, biro travel akan muncul dengan sendirinya. Kabupaten Sergai bisa belajar dari sukses daerah lain.

Paradigma baru semua pelaku wisata adalah orang desa. Perahu ferry milik orang desa. Pasti untungnya orang desa. Pemerintah tinggal menjadi fasilitator. Itulah cara mulia. Pemerintah kabupaten tidak harus memiliki. Fungsi pemerintah adalah regulator dan dinamis. Pemikiran Ir H Soekirman berdasarkan referensi dan pengalaman lapangan.

Ungkapan Pak Soekirman yang mengejutkan yaitu trust atau kepercayaan. Jepang maju karena kepercayaan. Korea maju karena kepercayaan. Terkait itu telah ada suasana yang menguntungkan. Karena pemilik sungai telah merestui. Ijin ini penting. Berarti dukungan terpegang tangan. Tempat ini bisa digunakan untuk upacara dan acara beragam. Pemerintah Sergai sungguh progresif. Memajukan rakyat. Wisata air dan wisata bahri berjalan beriringan. Masih terbuka peluang bagi warga Sergai untuk tampil lebih sukses.

Ir H Soekirman mengulas dengan contoh yang ada di Sergai. Kampung ulayan, kampung budaya, kampung tani menjadi sentra-sentra pariwisata di Sergai. Akomodasi, konsumsi, atraksi dan transportasi mendukung industri wisata. Hotel yang disediakan layak huni. Orang sedunia penasaran. Dari mana-mana akan datang ke Sergai. Desa menjadi investor. Artinya pengendali wisata bukan kaum kapital. Orang lokal aktif berperan. Dalam hal ini perlu diingat produk, price, promotion, power dan policy. Masa depan tampak lebih terarah. Kajian ini parlu disadari oleh segenap pemangku kebijakan di Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara.

Festival Bogowonto diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 2017. Ir H Soekirman hadir bersama tim Kabupaten Sergai. Banyak pengetahuan yang dapat dicerna dari kegiatan budaya. Menejemen wisata harus tampil lebih kreatif. Itu sebuah keharusan di era yang penuh kompetisi. Sergai perlu terobosan baru yang sesuai dengan keinginan pelaku wisata.

Desa wisata Jogoboyo diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, SH. Hadir pula Bapak Mentri Pariwisata Dr. Ilham Alamsyah. Tampak menyaksikan acara ini Bupati Serdang Bedagai Ir. H. Soekirman dan Bupati Purworejo H. Agus Bastian. Kali Bogowonto bermuara ke laut selatan. Tandyo Hangreksa Bumi Bogowonto, Gethek Emas Bogowonto menjadi acara puncak Festival Bogowonto. Pada hari Minggu Wage 1 Oktober 2017 acara di desa Jogoboyo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Acara budaya yang terus digali. Barangkali budaya Sergai perlu juga digali dari perspektif historis sosiologis filosofis.

Dalam spanduk terpampang tulisan Dewi Jawa. Di belakang tulisan ini mengalir sungai Bogowonto. Muara akhir ke Pantai Selatan. Prau gethek hilir mudik sebagai sarana untuk wisata alam. Sungai yang jernih airnya cocok untuk menggalakkan tradisi rekreasi. Dinas Pariwisata Purworejo, Kementrian Pariwisata dan Asosiasi Penjaga Kali Bogowonto bekerja sama dalam acara Festival Bogowonto. Suatu saat ada Festival Sei Ular Perbaungan.

Kanan kiri kali Bogowonto pohon kelapa berjajar-jajar. Angin sumilir sejuk. Sinar matahari terang benderang dan langit tampak biru. Sementara awan tipis menghias angkasa raya. Orang-orang yang berdatangan dalam acara ini tampak bersemangat. Tak lupa para duta wisata. Partisipasi masyarakat diwujudkan dengan membuka stand pameran. Ada stand kuliner yang menyediakan ragam makanan. Gathot, thiwul, jenang, cenil, rengginang disediakan berlimpah ruah. Ada stand pakaian, kerajinan, hasil bumi. Keramaian ini disertai pula jenis kesenian lokal. Tari dan pakaian adat warna warni. Kesenian mampu meningkatkan citra wisata.

Gubernur Ganjar Pranowo menandatangani prasasti. Tak lupa Bupati Serdang Bedagai, Ir Soekirman tampak gembira. Acara seremonial dilanjutkan dengan ritual mecah kendhi. Di muara sungai Bogowonto mereka berharap ada keajaiban alam. Pentas seni disajikan dalam bentuk gerak dan lagu. Kesenian khas Purworejo yaitu Seni Dolalak. Penarinya dibuat cantik. Pakaian, sepatu, baju, topi, sabuk dibuat serasi. Dolalak seni kebanggaan orang Purworejo. Perlu dijaga agar lestari. Sekarang banyak tambahan musik modern. Sebaiknya tidak ada tambahan musik modern. Musik kontemporer mengurangi nilai sakral. Kewibawaan menjadi berkurang. Jangan sampai hilang. Pentas seni semakin semarak. Hingga pukul 15.00 sore. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini.

Makan siang di tepi kali Bogowonto bersama Bupati Sergai Ir. H. Soekirman. Kebetulan keluarganya dari Sigeluh Bagelen Purworejo. Meskipun dengan menu sederhana, tapi enak sekali. Berhubung energi terkuras saat arak-arakan gunungan. Sajian grebeg ini jelas pengaruh kraton. Tapi piranti yang cuma sederhana. Pengamatan atas menejemen wisata di Yogyakarta dan sekitarnya bisa diterapkan untuk meningkatkan mutu pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai.

(M-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *