Sejarah Fenomena Ular Dalam Kraton Jawa
Oleh: Dr Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA. Hp 087864404347)
A. Kemakmuran Bumi Pertiwi.
Pada tahun 356 Prabu Kusumawicitra, raja Pengging mengadakan upacara sesaji Naga Suweda. Bersama dengan pangageng sentana abdi dalem, Kraton Pengging ngadani wilujengan negari. Tujuannya untuk mendapat keselamatan lahir batin.
Upacara sesaji Naga Suweda diikuti oleh para bupati Bang Wetan, Bang Kulon dan pesisir. Uba rampe yang disediakan terdiri dari aneka ragam hasil bumi. Palawija, pala pendhem, pala gumandhul, pala kesimpar, pala kitri yang melambangkan kesuburan.
Negeri Pengging memang kerajaan yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Perlengkapan sesaji juga disertakan alat tani, yakni pacul, ganco, pecok, lempak, arit, krakal, luku, garu, gejik.
Piranti pawon lengkap tersedia. Kukusan, dandang, kekep, wajan, sothil, enthong, tumbu, ilir, kuwali, maron, genthong, kendhil, jin, klenthing. Disusul dengan iber iberan, yaitu dara, perkutut, sribombok, jalak. Ada pula kewan iwen bebek, menthok, meri, ayam cemani.
Iwak loh yang digunakan lele, badher, wader, urang. Kelengkapan uba rampe diurus oleh abdi dalem purwa kinanthi. Departemen ini dipimpin oleh kementerian Mandra budaya. Mereka yang menjadi panitia sesaji naga suweda.
Tiap tahun tradisi adat ini dilakukan untuk menghormati Sang Hyang Basuki atau Batara Nagaraja. Berkuasa di dasar bumi, yaitu Kayangan Sapta Pratala. Putrinya seorang widodari cantik jelita bernama Dewi Nagagini.
Atas usulan Empu Kanwa Prabu Airlangga raja Kahuripan pada tahun 1067 diadakan wilujengan naga suweda di alas Purwo Blambangan. Warga klungkung, jembrana, Banyuwangi, Jember menyambut dengan antusias. Perwakilan penduduk pegunungan Iyang dan pegunungan Ijen membaca mantra Sakti. Kerajaan Kahuripan mengalami masa kejayaan.
Sang Hyang Basuki berupa seekor ular besar. Beliau bertugas untuk menjaga keselamatan tanah. Sesaji naga suweda berhubungan dengan pertanian. Kerajaan kahuripan, Daha, Singasari jenggala, Kediri, malawapati, Majapahit senantiasa menyelenggarakan upacara sesaji naga suweda. Raja dan rakyat tunggal cipta tunggal sedya, untuk caos bulu bekti kepada batara Nagaraja.
Kerajaan Singosari di bawah kepemimpinan Prabu Kertanegara rutin melakukan upacara adat. Pada tahun 1257 Kraton Singosari mengadakan wilujengan Naga suweda di daerah Lumajang. Turut menyertai segenap penduduk sekitar lereng gunung Bromo. Salikam salikem kehing sengkala padha mingkem. Sluman slumun slamet.
Kegiatan ritual ini berlanjut pada Jaman Kerajaan Majapahit. Kanjeng Ratu Kencana Wungu tahun 1418 melakukan upacara wilujengan naga suweda. Raden Damarwulan, Anjasmara, Layang Seta, Layang Kumitir, Waita, Piyungan kedhapuk menjadi panitia. Warga Majapahit bertambah ayem tentrem, murah sandang, murah pangan.
Tata cara wilujengan negari sesaji naga suweda sempat berhenti tahun 1479. Pada masa kerajaan Demak Bintara sempat melarang acara tradisi. Tiba tiba muncul pageblug mayangkara. Banji bandang, gempa bumi, cleret tahun, angin lesus silih berganti. Terjadi bumi gonjang ganjing langit kelap kelap katon, ini kincanging alis. Geger seisi jagad.
Rakyat Demak Bintara gelisah. Pagi sakit, sore tumekeng pati. Malam berkeluh kesah, siangnya jadi layatan. Kota gaduh, desa ricuh, gunung rusuh. Pageblug mayangkara harus diatasi
Pemimpin mesti turun tangan, cancut taliwanda. Pembesar Kerajaan Demak segera mencari solusi.
Dewan wali sanga bersidang di Sasana Sumewa pada tanggal 15 Januari 1480. Hadir Kanjeng sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Drajad, Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Magribi, Sunan Bonang. Musyawarah dewan wali sanga menghasilkan keputusan penting.
Sultan Demak Bintara, Raden Patah Syah Alam Akbar Jimbun Sirullah diharapkan untuk menyelenggarakan upacara wilujengan negari naga suweda. Raja Demak pun patuh. Upacara sakral dilakukan dengan serius. Bencana pun sirna, wabah juga pergi. Masyarakat hidup ayem tentrem kembali.
B. Naga Lambang Kemakmuran dan Keselamatan.
Kebudayaan Jawa menempatkan ular dalam posisi yang amat terhormat mulia. Nama Basuki berarti selamat, aman, damai. Batara Basuki memang dewanya ular untuk keselarasan alam.
Kepercayaan tradisional ini dihayati benar oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Tahun 1549 bertempat di Umbul Ngabean dilakukan upacara naga suweda. Juru kunci Gunung Bibi berkenan mrmbaca japa mantra. Segenap penduduk lereng Merapi Merbabu hadir dengan sepenuh hati.
Pinanggih basuki lestari bermakna mendapatkan keselamatan selamanya. Suka basuki berarti beserta dengan suasana aman damai. Tak mengherankan nama basuki kerap dipakai. Ada nama Agus Basuki, Wiwoho Basuki, Baduki Rahmat.
Para pembesar Mataram juga melanjutkan tradisi ritual. Upacara naga suweda dilakukan oleh Sinuwun Hadi Prabu Hanyakrawati tahun 1604. Bertempat di Kahyangan Dlepih Wonogiri. Peserta berasal dari abdi dalem Kraton Mataram yang tinggal di wilayah Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Madiun dan, Ngawi.
Sinuwun Amangkurat Amral melakukan wilujengan negeri naga suweda pada tahun 1679. Bertempat di kali Ketangga lereng Gunung Lawu. Rakyat Mataram diharap mendapat anugerah suka basuki. Nir bita nir baya nir sambikala.
Naga memang memberi harapan hidup. Orang Jawa gemar denganlambang naga di mana saja. Unsur estetis filosofis melingkupi kehidupan naga. Sang Hyang Antaboga atau Batara Basuki mertua Bratasena.
Hiasan dinding kerap terpampang lukisan ular atau naga. Jarwa dhosok naga, yaitu ana sega. Tiap ada hari, di situ pula ada makanan. Itulah garising pesthi. Kutu kutu walang antaga mendapan jatah pangan dari Tuhan. Suket godhong dadi rowang.
Gayor kempul gong selalu terpasang ukiran naga. Begitu indah asri, selaras dengan alunan gendhing karawitan. Ular atau naga akrab dengan pelaku seni budaya.
Petungan hari baik menyertakan ular disebut naga. Naga dina, naga sasi, naga tahun. Buka toko setiap hari merupakan lambang kemakmuran harian atau naga dina. Gaji bulanan para pegawai merupakan lambang naga sasi. Tabungan berjangka panjang lambang naga tahun. Orang Jawa mengenal raja kaya.
Penguasa pemerintahan sejak dulu. juga gemar lara lapa tapa brata. Gunungan atau kayon terpampang seekor naga. Hiasan kayon wayang purwa ini sangat populer dalam masyarakat.
Pemerintah Orde lama, Orde baru, orde reformasi dan masa sekarang pun menggunakan simbol naga sebagai bahan refleksi keberuntungan.
Terkait dengan rawuhnya naga minulya di kompleks Karaton Yogyakarta, tentu ini tanda baik. Yogya berarti anggun, indah, cantik, pantas, patut. Karta berarti kerja, karya, hasil. Yogyakarta selalu menghadirkan produksi dan kreasi yang prima.
Warga Yogyakarta akan mendapatkan kawibawan kawidadan kabagyan sarta kamulyan sejati. Naga minulya memberi kemuliaan.
Kraton Yogyakarta sebagai pewaris budaya Jawa tentu terbiasa dengan lambang lambang kehidupan. Tanda tanda jaman direnungkan, agar selalu eling lan waspada.
Naga atau ular kebak ing pralampita. Orang Jawa suka membaca owah gingsiring jaman.
(M-01)

Tinggalkan Balasan