Sejarah Fenomena Ular Dalam Kraton Jawa

Kebudayaan Jawa menempatkan ular dalam posisi yang amat terhormat mulia. Nama Basuki berarti selamat, aman, damai. Batara Basuki memang dewanya ular untuk keselarasan alam.

Kepercayaan tradisional ini dihayati benar oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Tahun 1549 bertempat di Umbul Ngabean dilakukan upacara naga suweda. Juru kunci Gunung Bibi berkenan mrmbaca japa mantra. Segenap penduduk lereng Merapi Merbabu hadir dengan sepenuh hati.

Pinanggih basuki lestari bermakna mendapatkan keselamatan selamanya. Suka basuki berarti beserta dengan suasana aman damai. Tak mengherankan nama basuki kerap dipakai. Ada nama Agus Basuki, Wiwoho Basuki, Baduki Rahmat.

Para pembesar Mataram juga melanjutkan tradisi ritual. Upacara naga suweda dilakukan oleh Sinuwun Hadi Prabu Hanyakrawati tahun 1604. Bertempat di Kahyangan Dlepih Wonogiri. Peserta berasal dari abdi dalem Kraton Mataram yang tinggal di wilayah Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Madiun dan, Ngawi.

Sinuwun Amangkurat Amral melakukan wilujengan negeri naga suweda pada tahun 1679. Bertempat di kali Ketangga lereng Gunung Lawu. Rakyat Mataram diharap mendapat anugerah suka basuki. Nir bita nir baya nir sambikala.

Naga memang memberi harapan hidup. Orang Jawa gemar denganlambang naga di mana saja. Unsur estetis filosofis melingkupi kehidupan naga. Sang Hyang Antaboga atau Batara Basuki mertua Bratasena.

Hiasan dinding kerap terpampang lukisan ular atau naga. Jarwa dhosok naga, yaitu ana sega. Tiap ada hari, di situ pula ada makanan. Itulah garising pesthi. Kutu kutu walang antaga mendapan jatah pangan dari Tuhan. Suket godhong dadi rowang.

Gayor kempul gong selalu terpasang ukiran naga. Begitu indah asri, selaras dengan alunan gendhing karawitan. Ular atau naga akrab dengan pelaku seni budaya.

Petungan hari baik menyertakan ular disebut naga. Naga dina, naga sasi, naga tahun. Buka toko setiap hari merupakan lambang kemakmuran harian atau naga dina. Gaji bulanan para pegawai merupakan lambang naga sasi. Tabungan berjangka panjang lambang naga tahun. Orang Jawa mengenal raja kaya.

Penguasa pemerintahan sejak dulu. juga gemar lara lapa tapa brata. Gunungan atau kayon terpampang seekor naga. Hiasan kayon wayang purwa ini sangat populer dalam masyarakat.

Pemerintah Orde lama, Orde baru, orde reformasi dan masa sekarang pun menggunakan simbol naga sebagai bahan refleksi keberuntungan.

Terkait dengan rawuhnya naga minulya di kompleks Karaton Yogyakarta, tentu ini tanda baik. Yogya berarti anggun, indah, cantik, pantas, patut. Karta berarti kerja, karya, hasil. Yogyakarta selalu menghadirkan produksi dan kreasi yang prima.

Warga Yogyakarta akan mendapatkan kawibawan kawidadan kabagyan sarta kamulyan sejati. Naga minulya memberi kemuliaan.

Kraton Yogyakarta sebagai pewaris budaya Jawa tentu terbiasa dengan lambang lambang kehidupan. Tanda tanda jaman direnungkan, agar selalu eling lan waspada.

Naga atau ular kebak ing pralampita. Orang Jawa suka membaca owah gingsiring jaman.

(M-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *