Pria yang Menjadi Relawan Vaksin Covid-19 Setelah Kehilangan Teman-teman Baiknya

Putrinya yang berusia 11 tahun juga bertanya kepada Hebbar tentang apa arti uji coba vaksin. Laporan tentang penangguhan singkat uji coba setelah dua relawan jatuh sakit di Inggris memicu kecemasan keluarga Hebbar.

Tapi hal itu tidak menyurutkan niat Hebbar. “Saya tidak takut sama sekali. Saya percaya pada sains,” katanya. Keesokan paginya, Hebbar pergi ke rumah sakit, dokter mengambil sampel darah juga melakukan tes usap (swab test).

Ia diberitahu bahwa 55 orang telah menjadi relawan untuk percobaan yang diperkirakan memakan waktu selama enam bulan, tetapi rumah sakit mengalami ‘kesulitan’ untuk menemukan 45 orang lainya yang bersedia untuk ikut serta dalam percobaan bagi 100 relawan yang direncanakan.

Mumbai merupakan salah satu kota di India dengan jumlah kasus Covid-19 yang tinggi. Pada awal Oktober, ia menelepon sebuah rumah sakit di Mumbai yang sedang melakukan uji coba tahap kedua dan ketiga. Peserta uji coba harus dites negatif untuk SARS-CoV2, virus yang menyebabkan Covid-19, dan dalam keadaan sehat, serta khusus untuk perempuan, tidak hamil.

Malam itu rumah sakit memanggil Hebbar dan mengatakan bahwa ia dapat mengikuti uji coba vaksin. Keesokan harinya, dokter memberi pengarahan tentang vaksin eksperimental, memintanya menandatangani formulir persetujuan dan memberinya satu suntikan vaksin.

Mereka memintanya untuk beristirahat selama 30 menit, meresepkan pil antidemam dan membayar 500 rupee (sekitar Rp99.000) sebagai biaya partisipasi. Dokter mengatakan kepadanya bahwa tiga orang dari 55 relawan mengalami “demam ringan”. Lalu mereka menyuruh Hebbar kembali pada awal November untuk menerima dosis kedua.

Ia juga harus kontrol ke rumah sakit sekali setiap bulan selama enam bulan berikutnya untuk pemeriksaan, dan menelepon mereka jika ia “merasa ada yang tidak biasa”. “Proses itu sangat mulus dan tanpa rasa sakit. Saya hanya merasa sedikit lelah, mungkin karena saya sering berkendara di sekitar kota,” kata Hebbar.

Ketika lockdown besar-besaran di India dimulai pada akhir Maret, Hebbar menutup perusahaannya, mengirim 45 orang karyawannya pulang dan terjun menjadi pekerja sosial. “Situasi itu mengerikan. Lockdown dilakukan dengan sangat buruk,” katanya.

Sejak itu, katanya, ia telah berkendara sejauh 28.000 km di dalam kota Mumbai dan sekitarnya, mendistribusikan lebih dari satu juta makanan dan kebutuhan pokok serta menjalankan tempat penampungan bagi para tunawisma dan pekerja yang terlantar yang kehilangan pekerjaan mereka.

“Saya telah turun ke jalan, mengunjungi permukiman kumuh dan ICU rumah sakit, bertemu orang-orang dan membagikan makanan serta bahan bantuan selama beberapa bulan terakhir. Saya telah memakai masker. Tapi saya tidak memiliki ketakutan yang tidak rasional terhadap virus,” katanya. .

Hebbar bahkan berhasil meyakinkan beberapa temannya untuk menjadi relawan vaksin. “Pandemi telah menjadi pengalaman yang mengubah hidup. Tapi saya sangat optimistis, vaksin ini akan berhasil. Kita akan mengalahkan virus ini bersama-sama,” tutupnya.(1-M)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *