MUMBAI, INDIA – LIPUTAN68.com – Anil Hebbar, seorang pria India, kehilangan teman dekatnya yang meninggal karena Covid-19 pada bulan September. Temannya meninggal setelah dibawa ke tiga rumah sakit selama lima hari di kota Mumbai, India.
Hebbar, yang menjalankan sebuah perusahaan peralatan medis, mengunjungi temannya itu, seorang pekerja sosial terkenal berusia 62 tahun, di unit perawatan intensif, beberapa jam sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Tak hanya pekerja sosial itu, Hebbar juga kehilangan teman-teman lainnya selama pandemi.
Sejak Maret, 10 orang teman baiknya meninggal karena virus corona di Mumbai, kota yang dengan cepat muncul sebagai pusat penularan wabah. Mumbai melaporkan lebih dari 230.000 kasus sejauh ini.
“Semua ini sangat bertubi-tubi. Saya merasa ini harus dihentikan. Itulah salah satu alasan saya memutuskan untuk menjadi relawan uji coba vaksin Covid-19,” kata Hebbar, 56 tahun
Awal bulan ini, Hebbar mendaftarkan dirinya untuk uji klinis untuk vaksin yang dikembangkan oleh grup farmasi AstraZeneca dan Universitas Oxford. Dikutip dari laman reuters, sekitar 1.600 orang relawan telah diberi vaksin asal Oxford di India.
Menurut Dr Tania Thomas dari Oxford Vaccine Group, vaksin ini dibuat dari virus yang berupa versi lemah dari virus flu yang menyebabkan infeksi pada simpanse . Virus ini telah diubah secara genetik sehingga tidak mungkin berkembang pada manusia.
Ini juga menjadi salah satu vaksin Covid-19 yang paling menjanjikan di antara 180 vaksin yang diuji di seluruh dunia. Belum ada yang menyelesaikan uji klinis.
Hebbar termasuk di antara lebih dari 20.000 relawan yang telah mendaftar untuk uji coba ini di Inggris, Brasil, Afrika Selatan, dan India.
Di India, ia tergabung dengan 1.600 relawan yang telah diberi vaksin di 15 pusat kesehatan di seluruh negeri. Dengan lebih dari tujuh juta kasus positif yang dilaporkan, India tercatat memiliki kasus tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Percobaan akan mencari tahu apakah vaksin dapat menyebabkan respons kekebalan yang baik dan apakah menyebabkan efek samping yang membahayakan.
Peserta dewasa akan diacak untuk menerima satu atau dua dosis vaksin atau vaksin berlisensi yang akan digunakan sebagai “pemantau” sebagai perbandingan.
Tidak mudah bagi Hebbar untuk meyakinkan keluarganya ketika ia memutuskan untuk jadi relawan dalam uji coba vaksin yang berisiko, dan yang pada dasarnya “untuk kepentingan orang banyak”. Istrinya, yang seorang guru besar studi pembangunan di fakultas ilmu sosial salah satu universitas terkemuka, justru tidak senang akan keputusan Hebbar itu.
