Sejarah Pangeran Sambernyawa di Pura Mangkunegaran

Yang menjadi patih ialah Raden Adipati Sasradiningrat II. Sedangkan yang memegang kedudukan sebagai Pangeran Adipati Anom Amangkunagara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram pada waktu itu belum ada, karena Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VII tidak mempunyai putra laki-laki.

Dalam keadaan demikian yang diangkat sebagai wakil Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom ialah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi, yang menurut abunya ialah kakak Sri Baginda. Pembesar sekerajaan Surakarta yang dapat disejajarkan ialah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara III, Rider Ko¬lonel Senopati Prajurit Pulau Jawa sebagai sraya Gubermen, yang telah mandiri, tidak berada di bawah kekuasaan Ingkang Minulya Raja.

Dapat pula dikisahkan bahwa Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adi¬pati Mangkunagara, Rider Kolonel Senopati menguasai tanah seluas 5.500 karya. Sudah berwenang menyelenggarakan penga¬dilan, dan berwenang pula mengangkat seseorang dalam keduduk¬an pangeran, tumenggung, mantri, dan punggawa, serta memiliki delapan ratus orang prajurit, yang dipimpin oleh para putra dan sentana. Jika mereka telah mahir dapat juga diserahi tugas mengatur siasat perang.

Kemahirannya sudah lama dengan Perusahaan multinasional, demikian pula busana serta persenjataannya. Akan terlalu panjang jika semua¬nya dikisahkan. Pada waktu itu putra Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara, Rider Kolonel Senopati sudah sema¬kin banyak jumlahnya.

Di antaranya, yang lahir dari selir ada dua orang yang telah dewasa. Yang tua sudah mendapat kedudukan sebagai Tamtama Prajurit Darat, diberi nama Pangeran Suryadiningrat. Yang muda diangkat sebagai Pimpinan Legiun, dan diberi nama Pangeran Suryamataram.

Saudara-saudaranya yang lain tidak dikisahkan karena masih kecil-kecil. Juga atas perkenan Sri Paduka Kanjeng Gusti kedua ingkang rayi yakni Raden Mas Arya Sumadiningrat dan Raden Mas Arya Gandakusuma dinaikkan gelarnya menjadi pangeran. Akan tetapi namanya tetap seperti semula. Hanya Kanjeng Pangeran Arya Kusumadiningrat dialihtugaskan dan lingkungan keprajuritan dengan perubahan pangkat menjadi Mayor Idehan. Yang ditun¬juk sebagai penggantinya ialah putra eyangnya yang bernama Raden Mas Arya Brajanata, berpangkat Mayor Legiun.

Ada lagi dua orang putra Kanjeng Pangeran Arya Gandakusu¬ma yang telah dewasa. Yang tua atau yang sulung, Raden Mas Sutama oleh uwaknya, Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran adipati dianuge¬rahi pangkat Tamtama , dan bernama Raden Mas Arya Sebrata. Ingkang rayi dianugerahi pangkat Litnan, dan, bernama Raden Mas Arya Gandaseputra.

Dikisahkan pula Pangeran Adiwijaya, putranya yang telah dewasa juga ada dua orang. Yang sulung perempuan bernama Raden Ajeng Sampir. Ingkang rayi laki-laki bernama Raden Mas Samedi. Keduanya lahir dari istri, putra Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi. Beberapa lama kemudian Kanjeng Pangeran Arya Adiwijaya meninggal dunia, layonnya dikebumikan di Astana Gunung Bangun. Beberapa waktu kemudian Raden Mas Samedi menggantikan kedudukan ayahandanya, juga bergelar Kanjeng Pangeran Adiwijaya.

Demikianlah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangku-nagara lestari dalam memimpin negeri dan para putra sentana serta ditaati oleh semua kawula dasihnya. Dalam pelaksanaan tugas tak pernah terjadi selisih pendapat. Para petugas selalu seia sekata. Oleh karena itu pihak Gubermen semakin gembira dan percaya kepada Sri Paduka Kanjeng Gusti.

Hal itu disebabkan pula karena segenap perwiranya telah terkenal mahir bermain panah. Yang mengguna¬kan pedang, senjata atau meriam maupun segala jenis senjata juga mahir dalam siasat perang. Yang menyebabkan senaakin mening¬katnya kernasyhuran ialah karena sejak dipimpin oleh Kanjeng Pangeran Arya Gandakusuma, ia selalu memberikan tuntunan serta ajaran, agar semuanya menyadari akan karya yang utama, atau berambek paramarta merata ke seluruh negeri. Akhirnya bagaikan obor yang cahayanya tampak terang-benderang.

Karena bertambahnya bangunan-bangunan di kota, keindah¬annya seperti kembang setaman tersebar. Baunya yang harum semerbak menghambar. Permainan mempengaruhi suasana seluruh kota. Karena Sri Paduka Kanjeng Gusti itu berbudi luhur, selalu rnemberi ampun kepada kawula dasihnya, serta menarik dan meningkatkan derajat kawula dasih.

Para sentana maupun kawula dasih seluruhnya siang dan malam tidak henti-hentinya dipersenang hatinya serta diper¬hatikan, dikasihi, tanpa kira-kira. Bagaikan lautan pasang, pera¬saan Sri Paduka Kanjeng Gusti itu gemar akan kegembiraan. Gemar dengan lagu-lagu, menabuh gamelan karena kesederhanaan hatinya atau teratur cara berfikirnya, maka tercermin dalam gubahannya yang iramanya teratur, pantas lagi tepat dengan ikatan-ikatan kalimat yang menawan hati.

Keindahan dalam hal hiburan tak dikisahkan lagi, kocap kacarita ketika terbetik berita akan datangnya eksekutif perusahaan multinasional ke Surakarta. Berita itu sudah tersebar luas dua bulan sebelum¬nya, sehingga membuat tergeraknya penduduk di seluruh wilayah kerajaan. Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan lalu menghias datulaya serta membuat busana untuk pesalin bala tentara dengan hiasan aneka warna.

Para punggawa mendapat tugas menata pesanggrahan. Pen¬jemputan akan dilakukan di desa Kaleca, sedangkan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom akan menyambutnya di desa Wanakarta. Demikian pula para wedana polisi, bekerja memperbaiki jalan-jalan pos atau jembatan dengan memberinya plengkung yang dicat putih.

Pembuatan pesanggrahan di Kaleca segera selesai, lengkap dengan hiasannya. Di sepanjang tepi jalan sebelah utara ditem¬bok rendah. Lekak-lekuknya berbentuk beliung lurus dengan tiang atau pilar papak, ditanami aneka pohon-pohonan. Pohon tanjung berjajar rapat dengan pohon sawo ditanam di halaman. Rumah besar di bagian belakang berbentuk loji berkamar empat buah semua berjendela kaca.

Pintu tengah terusan. Penyekat empernya dihias ukiran. Di depan terdapat pendapa, lantainya plaster. Seluruh bangunan rumah dicat hijau. Bangsal di kiri kanan pendapa diberi tarub dengan penutup tepi yang seimbang. Di tengah halaman, di tempat yang biasanya ditancapkan tiang bendera, ditempatkan di bagian kiri dan kanan.

Ada lagi sebuah bangunan untuk menempatkan kendaraan, kereta atau kuda. Juga terdapat tempat gamelan, separuh bagian dan bangsal pengapit bersela dengan plengkung halaman. Di depan, terdapat pohon-pohon yang besar, berderet meneduhi tepi jalan. Di bawahnya dijadikan tempat perkemahan pasukan. Di bagian selatan dekat dengan jalan pohon waru berjajar berse¬lang-seling dengan pohon kenari di sepanjang jajaran warung-¬warung.

Kemudian bersambung pohon asam yang berderet-deret di sepanjang jalan berselang-seling dengan pohon tahun aneka jenis sebagai pelindung bagi para pejalan kaki. Pesanggrahan di Wanakarta pun telah selesai pula, dan dihias dengan indahnya.

Kocap kacarita Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara juga membuat busana-busana untuk ganti pasukannya. Juga bermaksud membuat sebuah lapangan untuk keperluan para per¬wira berlatih perang-perangan. Lapangan itu dibangun di sebelah utara pura.

Datarannya luas, di sebelah selatan dibangun sebuah pang¬gung tempat para tamu tuan-tuan menyaksikan prajurit yang sedang berlatih. Kiri dan kanan panggung berkelir atau bertutup tembok yang rendah. Di sudut sebelah barat jalan dipasang tiang bendera. Hiasan dalam pura pun diperbaiki bentuknya. Sekeselnya diukir dengan baik, demikian pula ukiran daun-daunan diperada, dasarnya berwarna putih, merah, putih.

Selesailah sudah segala hiasan dalam pura, tampak indah dan berwibawa. Busana kebesaran juga sudah siap. Kereta ser¬ta kuda semua dihias, dan akan dipergunakan dalam penjem¬putan. Bersamaan dengan itu ada berita pula bahwa akan dise¬diakan tempat untuk jenderal. Kurang lebih setahun sebelumnya Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati sudah mulai membuat pesanggrah¬an untuk penjemputan di desa Ngasem, terletak di sebelah ti¬mur pasar, di sebelah utara jalan dan diberi nama Mandanhar¬ja.

Pada masa-masa yang telah silam biasanya tempat penjem¬putan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunagara ialah di Toyadana. Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Ngasem, dan Paduka yang Mulia Kanjeng Susuhunan menjemput di Wanamarta. Sekarang ini atas kemauan Pelaksana pusat perusahaan multinasional, masa¬lah penjemputan itu dimintanya untuk diundurkan.

Tidak mau menerima pakurmatan seperti yang sudah-sudah, dan akan me¬nentukan sendiri jauh-dekatnya tempat penjemputan. Tempat penjemputan yang lama terasa terlalu jauh, sehingga akan menyu¬litkan perjalanan, membuat kusutnya busana. Mengapa pelaksana pusat perusahaan multinasional menghendaki demikian, ialah karena rasa belas kasihannya yang besar terhadap semua orang.

Oleh karena itu Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangku-nagara sangat gembira mendirikan pesanggrahan di Mandanharja. Menurut pendapatnya pesanggrahan itu pasti akan bermanfaat. Oleh karena itu Sri Paduka Kanjeng Gusti berhasrat untuk menambah hiasan di pesanggrahan Mandanharja. Tentang hiasan tersebut akan di¬paparkan di bawah ini.

Pesanggrahan itu terletak di sebelah utara jalan besar. Bangunannya indah, mirip sebuah gedung. Di depan diberi pring¬gitan (pendapa yang luas, cukup untuk mengadakan pergelaran atau pertunjukan) dengan lantai plester. Semua tiangnya indah dengan lis yang diperada. Pintu tengahnya terusan sampai ke emper belakang, yang di sebelah kirinya terdapat rumah kecil tempat abdi Jayengan, yang bertugas menyediakan segala macam ngunjukan.

Dengan ditempatkan sebuah sekat agak ke belakang dijadikan taman dengan aneka macam bunga yang indah-indah. Dipermanis lagi dengan selingan pohon tahun yang serba bagus. Di tengahnya terputus oleh sungai, yang alirannya di ba¬gian bawah dijadikan tempat mencuci kendaraan. Di sebelah utaranya didirikan sebuah rumah besar, (tempat para bendara, riya yang tua-tua. Rumah ini masih berada di lingkungan pesang¬grahan.

Halaman pesanggrahan itu diratakan sebagai pelataran. Di tengah berdiri sebuah tiang bendera yang tinggi sehingga akan kelihatan dari jauh. Bagian dalam pesanggrahan itu ditembok memanjang mem¬bujur ke selatan berwarna putih, dan dibagi-bagi menjadi kamar-kamar. Dan emper depan sampai ke emper belakang ter¬dapat empat buah pintu. Kamar-kamar itu menjadi tempatnya para bendara, pangeran atau sentana, dan pimpinan tinggi keprajuritan.

Di bagian kiri dan kanan pelataran dibuat jalan tembus ke jalan raya, yang simpangannya tidak jauh dari depannya pesang¬grahan. Dibuat demikian supaya kalau kanjeng pelaksana perusahaan multinasional datang kelak, turunnya dari kereta tidak kejauhan, dan dapat segera enggar-enggaring penggalih di situ, kemudian diadakan pakurmatan seperti yang selalu dilakukan sebelumnya.

Sedangkan di sebelah kiri pesanggrahan, sebidang tanah yang luas dan rata dijadikan semacam lapangan. Panjangnya ke arah timur ada sekitar tiga ratus langkah. Tempat itu baik untuk para perwira beserta kendaraannya. Di situ disediakan kan¬dang kuda berderet-deret, ditempatkan di tepi sungai. Untuk para nayaka lain lagi tempatnya. Mereka mendirikan kemah sendiri¬-sendiri di luar pesanggrahan.

Misalnya Raden Tumenggung Mangunkerta, mendirikan pe¬sanggrahan sendiri, letaknya di belakang, di sebelah timur laut tembok. Tidak jauh tidak pula terlalu dekat di seberang sungai. Pesanggrahan di Mandanharja telah selesai dengan segala hiasan¬nya. Susunannya diatur bertingkat-tingkat. Semakin kelihatan indah karena di jalan besar pun seolah-olah dihias. Bahkan semakin menyenangkan bagi para pejalan karena mendapatkan peristirahatan yang baik, lagi pula letaknya dekat dengan pasar.

Oleh karena itu para pedagang besar dan kecil dapat beper¬gian dengan tenang. Yang datang dan timur maupun dari barat semuanya berhenti di Mandanharja karena terpesona melihat kein¬dahan pesanggrahan serta daerah sekitarnya. Daerah itu termasuk daerahnya Mantri Polisi Tamping Ngabehi Pancatoya di Malang¬jiwan, menantu yang sekaligus putra angkatnya Raden Tumeng¬gung Mangkureja. Ngabehi Pancatoya itu sangat taat melaksana¬kan tugasnya.

Jika ada pembesar, para gusti atau tuan-tuan hendak melihat pesanggrahan Mandanharja, atau misalnya dan suatu per¬jalanan hendak singgah ke pesanggrahan tersebut dengan terlebih dahulu memberi tahu padahal Sri Paduka Kanjeng Gusti tidak berkenan rawuh dan hanya memberi perintah saja, maka Ngabehi Pancatoyalah yang mempersiapkan hidangan. Tingkatan mutu hidangannya disesuaikan dengan jumlah para tamu. Hal itu tidak pernah menge-cewakan dan selalu dialah yang melaksanakannya.

Kocap kacarita menjelang kedatangan eksekutif perusahaan multinasional De Maar Van Twissen yang berkedudukan di Batavia ke Surakarta, setibanya ia di Semarang lalu mengirimkan surat pemberitahuan kepada Ingkang Minulya Susuhunan. Eksekutif perusahaan multinasional pasti akan datang Pada hari Kamis.

Pemberitahuan juga disampaikan secara tersendiri kepada pelaksana eksekutif lokal, yang selanjutnya memerintahkan para tuan yang tinggal di kota maupun yang tinggal di desa-desa yang termasuk bawahannya. Hal itu diberitahukan pula kepada Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara, yang juga memanggil bawahannya supaya mempersiapkan segala sesuatu¬nya.

Ingkang Minulya sendiri setelah menerima surat pemberitahuan tentang kedatangan pelaksana perusahaan multinasional, segera memberi perintah kepada Raden Adipati Sasradiningrat serta para nayaka semua, para ben¬dara, para pangeran untuk mengadakan pembagian tugas dalam penjemputan. Semua diminta bersiap-siap.

Selesai perintah ba¬ginda, Raden Adipati Sasradiningrat beserta para nayaka, satria, bendara pangeran mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan tugasnya masing-masing, antara lain memberi busana kepada para abdi atau mempersiapkan kendaraan yang diatur secara layak sesuai dengan kedudukannya. Kocap kacarita Kanjeng Pelaksana perusahaan multinasional sudah tiba Pada hari Rabu, sehari sebelum datangnya Pelaksana Eksekutif (Eksekutif perusahaan multinasional), yang baru sampai di Salatiga.

Berita tentang sampainya Eksekutif perusahaan multinasional di Salatiga sudah diterima di Surakarta, sehingga sudah dapat dipastikan, bahwa Pada hari Kamis akan tiba di Surakarta, sesuai dengan janjinya yang ter¬muat dalam suratnya, maka Ingkang Minulya segera memanggil Raden Adipati Sasradiningrat dan Pelaksana Eksekutif Lokal.

Tak lama antaranya keduanya telah masuk ke datulaya, di¬terima di pendapa. Ingkang Minulya minta supaya dilaksanakan semua pakurmatan seperti yang sudah-sudah. Pelaksana eksekutif lokal dan Raden Adipati Sasradiningrat menyatakan kesanggupannya. Kemudian Ingkang Minulya memanggil kakandanya, Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hangabehi.

Setelah datang dan duduk berjajar Ingkang Minulya mengabarkan kepastian datangnya tamu esok pagi, dan minta untuk menyebarkan perintah kepada para pangeran dengan kata¬kata, “Dalam pembagian tugas jangan berubah seperti yang sudah-¬sudah.” Kakandanya menyanggupi. Setelah selesai segala perin¬tah raja, semua yang datang menghadap bubar, keluar dari datulaya.

Setibanya di luar Pelaksana eksekutif lokal maupun Raden Adipati beserta asisten atau senopati lalu bersiap-siap. Setelah siap lalu berangkat mendahului dengan kendaraan kereta. Lancar perjalanan mereka sampai ke Ampel. Mereka akan enggar-enggaring penggalihsemalam karena jarak penjemputan itu memerlukan waktu perjalanan selama lima jam dengan kereta, yakni di batas luar kota.

Kocap kacarita Pada hari Rabu itu pula Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara mengumumkan supaya segenap perwira, mantri, punggawa, rangga, hangabehi, demang serta polisi pajak semuanya harus datang menghadap. Karena sudah menjadi tradisi, setiap akan ada tamu agung, mereka itulah yang bertugas menjadi pemuka penjemputan.

Sri Paduka Kanjeng Gusti menghendaki bahwa penjemputan dilakukan di pesanggrahan Mandanharja. Lalu memberi perintah kepada para manggala supaya mengiring¬kannya beserta seluruh bawahannya, wadyabala dragunder dan kestabel. Sedang prajurit darat hanya separo yang dibawa. Separo lagi tetap tinggal di kota disiapkan sebagai barisan kehormatan bersama prajurit Belanda.

Di antara para nayaka yang diwajibkan mengiringkan ialah Menteri Urusan Dalam Kiri-Kanan dipimpin oleh Patih Raden Tumenggung Mangkureja. Sebagai pendherek para menteri ialah punggawa dan petugas pajak separo. Yang separo lagi tinggal menjaga kota dan akan ikut dalam barisan kehormatan, dipimpin oleh Mas Ngabehi Rangga Panambangan, seorang punggawa bawahan patih bersama Raden Arya Bratakusuma, Wedana Polisi Kota, yang juga berkedudukan sebagai Mayor Tituler.

C. Mingkar mingkuring angkara
Pangkur

1. Mingkar mingkuring angkara,
Akarana karenan Mardi siwi,
Sinawung resmining kidung.
Sinuba sinukarta,
Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung
Kang tumrap ing tanah Jawa,
Agama ageming aji.

2. Jinejer neng Wedhatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun.
Yen tan mikani rasa,
Yekti sepi asepa lir sepah samun,
Samangsane pasamuan gonyak ganyuk nglilingsemi.

3. Nggugu karsane priyangga,
Nora ngganggo peparah lamun angling,
Lumuh ingaran balilu,
Uger guru aleman,
Nanging janma ingkang wus
Waspadeng semu
Sinamun ing samudana,
Sesadon ingadu manis.

4. Si pengung nora nglegawa,
Sangsayarda denira cacariwis,
Ngandhar-andhar angendhukur,
Kandhane nora kaprah,
Saya elok alangka longkanganipun,
Si wasis waskitha ngalah,
Ngalingi marang si pingging.

5. Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati,
Bungah ingaranan cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.

6. Uripe sepisan rusak,
Nora mulur nalare ting saluwir,
Kadi ta guwa kang sirung,
Sinerang ing maruta,
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung,
Pindha padhane si mudha,
Prandene paksa kumaki.

7. Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelekn yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon anggon agama suci.

8. Socaning jiwangganira,
Jer katara lamun pocapan pasthi,
Lumuh asor kudu unggul,
Semengah sesongaran,
Yen mengkono kena ingaran katungkul,
Karem ing reh kaprawiran,
Nora enak itu kaki.

9. Kekerane ngelmu karang,
Kekarangan saking bangsaning gaib,
Iku boreh paminipun,
Tan rumusuk ing jasad,
Amung aneng sajabaning daging kulup,
Yen kapengkok pancabaya,
Ubayane mbalenjani.

10. Marma ing sabisa bisa,
Bebasane muriha tyas basuki,
Puruitaa kang patut,
Lan traping angganira,
Ana uga angger ugering kaprabun,
Abon aboning panembah,
Kang kambah ing siyang ratri.

11. Iku kaki takokena,
Marang para sarjana kang martapi mring tapaking tepa tulus,
Kawawa nahen hawa,
Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
Tan mesthi neng janma wredha
Tuwin mudha sudra kaki.

12. Sapantuk wahyuning Allah,
Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
Bangkit mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga,
Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
Lire sepuh sepi hawa,
Awas roroning atunggil

13. Tan samar pamoring sukma,
Sinuksmaya Winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping aluyup,
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.

14. Sejatine kang mangkana,
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
Bali alaming ngasuwung,
Tan karem karameyan,
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira,
Mulane wong anom sami.

Sri Paduka Kanjeng Gusti bermaksud berangkat mendahului dengan se-genap pendhereknya, supaya dapat enggar-enggaring penggalihdulu di pesang-grahan Mandanharja. Sesudah pembicaraan selesai berangkatlah Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara bersama para pangeran Pada hari Rabu pagi dengan kereta yang cepat tanpa benda-benda upacara.

Busana kebesarannya dibawa punggawa mantri yang berja¬lan di belakang bersama para prajurit. Yang memimpin para perwira hanyalah para tamtama saja. Untuk perjalanan itu busana ¬nya hanyalah yang biasa saja, sedangkan busana mereka yang akan dipamerkan dimuat dalam gerobag dan dibawa sekaligus. Hanya prajurit berkuda tidak dipalilah kan berangkat bersama-sama, dan kadhawuhan supaya berangkat mendadak serta cepat-cepat Pada hari Kamis pagi.

Demikian perjalanan Sri Paduka Kanjeng Gusti, yang tak lama antara¬nya sudah tiba di pesanggrahan Mandanharja. Semua telah men¬dapat tempatnya masing-masing, dan sudah diatur dengan rapi. Di depan pesanggrahan dijaga oleh prajurit. Kemahnya para pem¬besar juga dijaga oleh prajurit. Penataan penjagaannya tidak ber¬beda dengan di kota. Demikianlah mereka telah enggar-enggaring penggalih dengan tenang karena setiap pembesar telah mendapat perkemahan yang baik.

Keteladanan Pangeran Sambernyawa diteruskan oleh segenap putra wayah trah Mangkunegaran. Pada era pemerintahan Indonesia telah tampil tokoh wanita hebat yang bernama Siti Hartinah Soeharto. Beliau adalah ibu negara pada masa pemerintahan Presiden Soeharto tahun 1967 – 1996. Kini Pura Mangkunegaran dipimpin oleh Sri Mangkunegara IX yang menjabat sejak tahun 1988.

Karya agung yang diwariskan oleh Pura Mangkunegaran bisa dijadikan sebagai pegangan hidup oleh generasi sekarang. Demi menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Itulah kombinasi yang bijaksana antara nilai lokal dengan nilai global, sebagai jawaban atas tantangan jaman.

(LM-01)

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *