Mbah Gombloh pun, tidak tahu menahu harus tinggal dimana, seandainya rumah satu-satunya harus ia jual untuk membayar utang. Tanpa ia duga, keluh kesah yang ia sampaikan ke Imam Wahyudi, rupanya berbuah keberkahan.
Utang senilai kurang lebih Rp 22 juta di salah satu bank plat merah di Pacitan, akhirnya lunas dan surat tanah kembali menjadi hak milik Mbah Gombloh dan keluarga. “Tak tulungi yo mbah. Neng ojo di dol, ojo digadekne meneh (saya bantu tapi jangan dijual atau digadaikan lagi),” terang Mbah Gombloh,. menirukan ucapan Imam Wahyudi, saat itu.
Utang puluhan juta akhirnya terlunasi berkat uluran tangan pengusaha muda bernama Imam Wahyudi. Hebatnya lagi, ia tak meminta uangnya kembali.
Setelah tanggungan di bank lunas, jaminan sertifikat tanah, diserahkan kepada si pemilik, Sudarmanto alias Mbah Gombloh. “Saya sangat bersyukur, di zaman sekarang ini, masih ada orang sebaik Mas Yudi (Imam Wahyudi, Red). Saya diberi uang Rp 22 juta untuk melunasi utang bank. Beliau tidak meminta kembali uang tersebut. Semoga Mas Yudi selalu diberikan kesehatan dan kemudahan rejeki dari Allah SWT,” ucap Mbah Gombloh dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Mbah Gombloh dan keluarga bisa kembali menempati rumahnya yang sangat sederhana disebuah gang sempit. Ia sangat bersyukur, dan hanya bisa pasrah serta berdoa semoga penyakit gula yang dideritanya saat ini bisa segera mendapatkan kesembuhan.
Sekedar informasi, bahwa narasi berita ini ditulis bukan untuk pamer ataupun ri’a atas amal ibadah yang dilakukan sumber berita. Namun ini sebuah cerita inspiratif, agar bisa menjadi penyemangat bagi umat lainnya untuk bisa saling berbagi dengan sesama. (yun).
