Masih Ingkatkah Istilah “Pentil Kecakot?” Ini Sekilas Kisahnya
Pacitan,Liputan 68.com- Kemajuan jaman, kadang membuat lupa akan sejarah. Seperti di dunia komunikasi misalnya.
Sejak terbangunnya infrastruktur telepon nir kabel atau telepon seluler, orang enggan untuk beralih ke telepon jadul seperti halnya jaringan telepon rumah. Bahkan saat ini, kios-kios telepon umum atau dulu lebih dikenali dengan sebutan Wartel (warung telekomunikasi) sudah lenyap ditelan bumi.
Masyarakat lebih gandrung dengan telepon seluler. Apalagi dengan hadirnya gadget berbasis android dengan benaman berbagai fitur media sosial super canggih.
Selain lebih mudah berkomunikasi dengan sentuhan jari, user juga bisa mengeksplorasi diri melalui gambar atau noving image.
Lantas bagaimana kilas balik kehadiran dunia komunikasi di jaman dulu? Dan bagaimana urgensinya komunikasi dengan jaringan kabel tersebut bagi kehidupan masyarakat termasuk dunia birokrasi kala itu.
Salah seorang pini sepuh yang juga mantan guru di Pacitan, Witono mengatakan, dulu kala alat komunikasi berbasis jaringan kabel sangat membantu kehidupan masyarakat yang butuh informasi atau komunikasi secara cepat.
Sampai-sampai sangking krusialnya fungsi telepon jaringan kabel saat itu, pernah ada sebutan “Pentil Kecakot”. Istilah ini sangat familiar di telinga masyarakat, apalagi kalangan pegawai negeri sipil (PNS) kala itu.
” Pentil Kecakot itu kepanjangan dari penjaga telepon kecamatan kota. Istilah tersebut unik, agar lebih memudahkan mengingat petugas jaga telepon,” kata Witono, mengenang istilah unik yang di jaman digital ini masih terus terngiang, Selasa (14/11).
Menurut dia, saat itu peran Pentil Kecakot memang sangat urgent. Mengingat saat itu hubungan telepon interlokal tak semudah ketika sudah ada upgrade ke sistem satelit.
“Jadi kalau kita mau terima telepon atau mau telepon ke luar kota, harus relay dulu. Biasanya lewat kantor-kantor kecamatan. Baru oleh penjaga telepon disambungkan dengan nomor telepon yang dituju.
Saat itu masyarakat yang berlangganan telepon rumah juga sangat jarang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berlangganan. Sebab biaya abonemen terbilang cukup mahal,” kenang Witono.
Meski sedikit ribet, bagaimanapun juga alat komunikasi tersebut sangat membantu masyarakat. Utamanya mereka yang punya keluarga atau anak yang lagi menempuh pendidikan atau bekerja di luar daerah.
“Sekarang kita harus bersyukur. Kemana-mana alat komunikasi selalu ada dalam genggaman. Mau video call juga mudah. Coba kita ingat masa lalu, bisa tersambung dengan suara saja sudah senang rasanya,” tukasnya. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan