Sepenggal Kisah Sopir Dum Truk Di Pacitan, Yang Nyaris Kehilangan Tempat Tinggalnya Gegara Utang Bank. Lunas Berkat Bantuan Pengusaha Muda Imam Wahyudi

Pacitan, liputan68.com- Dikalangan bolo rodo di Kabupaten Pacitan, utamanya para pengemudi dum truk, nama Sudarmanto alias Mbah Gombloh, bukanlah sosok yang asing lagi.

Sudah berpuluh tahun, kakek uzur yang saat ini bertempat tinggal di Lingkungan Tuban, Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan tersebut, bergelut dengan medan jalanan sebagai sopir truk. Sampai suatu ketika, saat dirinya bepergian ke Banyuwangi, aral rintangan harus ia temui.

Truk yang ia kemudikan mengalami kecelakaan lalu-lintas. Tak ayal, kendaraan milik juragannya tersebut mengalami rusak parah. “Saat itu juragan tidak mau tahu. Saya harus memperbaiki truk sampai kembali pulih seperti sedia kala,” tutur Mbah Gombloh, saat ditemui di kediamannya, Senin (4/1).

Lantaran tak punya tabungan cukup, dengan terpaksa ia dan keluarganya harus menggadaikan sertifikat tanah rumahnya ke salah satu bank milik pemerintah, untuk memenuhi tanggung jawabnya memperbaiki kendaraan truk milik juragannya tersebut. “Padahal saat itu, saya masih punya utang di bank. Tapi, mau tak mau karena kepepet kebutuhan akhirnya terpaksa harus ambil utang lagi dengan menggadaikan surat tanah,” tuturnya.

Hari demi hari ia lalui dengan bekerja lagi sebagai sopir truk. Tak kenal lelah, siang malam Mbah Gombloh, banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan angsuran bank yang dirasa cukup memberatkan. “Bekerja sekeras apapun, akan tetapi hasil yang saya dapat memang tidak cukup untuk memenuhi angsuran bank setiap bulannya. Kebutuhan keluarga juga terus mendesak,” kata suami dari Sutini ini, mengenang perjalanan hidupnya kala Itu.

Sampai pada akhirnya, pihak bank pun tak mau memberikan dispensasi lagi. Sebagai debitur, Mbah Gombloh, dinilai wan prestasi atau lalai memenuhi kewajibannya. “Akhirnya pihak bank hendak menyita rumah yang saya tempati ini,” ungkapnya.polos.

Kegundahan kian menjadi. Mbah Gombloh dan keluarga harus putar otak agar bisa mendapatkan uang puluhan juta guna melunasi tanggungannya di bank, dengan harapan tempat tinggalnya masih bisa ia tempati lagi bersama anak bungsu dan istrinya. “Sampai akhirnya saya sowan ke Mas Yudi (Imam Wahyudi, Red) untuk menyampaikan persoalan yang tengah kami alami. Kami sepakat untuk menjual rumah ke beliau, agar utang kami di bank bisa segera teratasi,” terang kakek tiga anak ini.

Namun apa yang ia dapatkan saat bertandang ke kediaman pengusaha muda bernama Imam Wahyudi yang berlokasi di Lingkungan Blumbang, Kelurahan Ploso, Pacitan tersebut.

Mbah Gombloh serasa hadir di “surga” ketika mendapatkan jawaban menyejukkan hati dari sang tuan rumah yang ia kunjungi tersebut. “Saya ditanya, nek omahmu kok dol, njenengan arep manggon ngendi Mbah? (Kalau rumah akan dijual, mau bertempat tinggal dimana),” tanya Imam Wahyudi saat itu, menurut cerita Mbah Gombloh.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *