Syekh Siti Jenar Pengajar Ilmu Kasampurnaan

Oleh: Dr Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Syekh Siti Jenar dalam Lintasan Sejarah Kejawen.

Dalam lintasan sejarah Jawa nama Syekh Siti Jenar begitu harum. Guru sejati ini mengajarkan ilmu kasampurnan. Yakni satataning panembah. Agar manusia tahu sangkan paraning dumadi.

Siswa Syekh Siti Jenar yaitu Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Karang lo, Ki Ageng Prong apus. Mereka menyebarkan ajaran luhur dan mbabar kawruh dengan mendirikan pertapan.

Pewaris ajaran Syekh Siti Jenar yang penting adalah Ki Ageng Butuh. Dalam sejarah Ki Ageng Butuh adalah guru Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang tahun 1546-1582. Beliau terkenal sakti mandraguna. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Beliau suka melakukan lara lapa tapa brata.

Tiap bulan purnama Ki Ageng Butuh tapa kungkum di Kali Ketangga. Pada bulan Suro pasti menjalankan semedi di Hargo Dumilah Gunung Lawu. Setahun sekali pada bulan Rajab mahas ing ngasepi di puncak Saptarengga Gunung Muriya. Segala macam lelaku mulai dari tapa ngidang, tapa ngrame, tapa ngalong, pati geni, ngrowot, mutih, nggeniara, mbanyuara.

Karena menjadi pertapa ulung, maka Ki Ageng Butuh mendapat gelar sebagai jalma limpat seprapat tamat. Kebak ngelmu sipating kawruh, pangawikan agal alus telah dikuasai. Ki Ageng Butuh benar-benar jalma sulaksana, sarjana sujana ing budi. Di kalangan peguron kejawen Ki Ageng Butuh kesuwur sebagai dwija wasis wicaksana waskitha, ngesti sakdurunge winarah.

Bibit kawit asal usul keluarga agung. Sepeninggal Kebo Kenanga wafat, maka Ki Ageng Butuh yang mengasuh Mas Karebet atau Joko Tingkir. Kebo Kenanga adalah putra Adipati Handayaningrat, Bupati Pengging. Sedangkan ibunya Kebo Kenanga yaitu Kanjeng Ratu Pembayun, putri Prabu Brawijaya V raja Majapahit.

Dengan demikian Joko Tingkir masih keturunan raja Majapahit. Trahnya kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Sebetulnya Ki Ageng Butuh murid kesayangan Syekh Siti Jenar. Siswa seperguruan yakni Ki Ageng Pengging, Ki Ki Ageng Bringin, Ki Ageng Wonosobo.

Guru spiritual Jawa digembleng dengan cara mesu budi. Mereka belajar ilmu sangkan paraning dumadi, kawruh kasampurnan, ilmu sejati, kawruh beja dan manunggaling kawula Gusti.

Ilmu pengetahuan tingkat tinggi amat tersohor di mata kasepuhan Jawa. Untuk mempelajari makrifat sejati kejawen ini diperlukan sarana dan tata cara khusus. Pengajaran ilmu sejati memang harus hati-hati.

Tanda-tanda Joko Tingkir akan menjadi raja besar sudah diketahui oleh Ki Ageng Butuh. Saat Joko Tingkir tidur pulas di tengah malam, tiba-tiba ada ndaru cumlorot. Cahaya bersinar kebiru-biruan itu disebut dengan pulung kekuasaan atau wahyu keprabon. Ki Ageng Butuh rembugan dengan Ki Ageng Banyubiru.

Joko Tingkir harus dijaga sebaik-baiknya. Dia adalah kader Majapahit yang mumpuni. Semua murid-murid Syekh Siti Jenar bersatu padu, kompak untuk mendidik, merawat, menjaga Joko Tingkir. Atas usul Kanjeng Ratu Kalinyamat yang menjadi Bupati Jepara tahun 1536-1569, Joko Tingkir ditetapkan sebagai raja Pajang tahun 1546. Gelarnya Kanjeng Sultan Hadiwijaya Kamidil Ngalam Panetep Panatagama atau Sultan Hadiwijaya Abdul Hamid Syah Alam Akbar.

Dukungan Joko Tingkir untuk menduduki tahta kerajaan Pajang berasal dari keluarga besar Kasultanan Demak Bintara, Kasultanan Banten dan Kasultanan Cirebon. Tentu saja keluarga besar Kadipaten Pengging menjadi penyokong utama. Dari segi kecakapan, kemampuan, keluhuran, kecerdasan, kebajikan, kelakuan dan ketrampilan, semua lapisan masyarakat pasti mengakui Joko Tingkir memang punjul ing apapak.

Wasiat Syekh Siti Jenar kepada Ki Ageng Butuh, agar wilayah Saragi yang berada di selatan gunung Kendheng, sepanjang aliran bengawan gedhe diberi nama Sragen. Kawasan ini perlu diatur sebaik baiknya.

Untuk menghormati Guru Suci yang telah pulang ke Rahmatullah, Ki Ageng Butuh memberi nasihat kepada raja Pajang, agar segera dibentuk panitia pemekaran kabupaten Sragen. Sebagai murid yang berbakti kepada orang tua, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya segera bekerja.

Rapat panitia pembentukan kabupaten Sragen membuat keputusan penting pada hari Selasa Pon, tanggal 27 Mei 1556. Daerah Saragi diubah namanya menjadi Sragen. Saragi artinya satu tempat untuk membuat ragi atau pengubah bentuk menuju kebaikan. Sragen adalah cara, wahana, sarana untuk membuat kebajikan, kebaikan, keutamaan jagad raya.

Cita-cita itu selaras dengan ajaran Syekh Siti Jenar yang menghendaki prinsip kesamaan dalam berbuat amal. Mumpung padhang rembulan, mumpung jembar kalangane.

Daerah Sragen ditetapkan oleh panitia menjadi wilayah setingkat kabupaten. Untuk itu kabupaten Sragen perlu dipimpin oleh seorang bupati atau adipati. Dari hasil musyawarah dari perwakilan keluarga, peguron, utusan daerah, utusan golongan maka dipilih Raden Mas Tejowulan sebagai Bupati Sragen. Gelarnya adalah Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Tejonagoro. Pada tahun 1557 Ki Ageng Butuh surud ing kasidan jati, kondur ing jaman kalanggengan, mapan ing swargaloka.

Siswa kinasih Syekh Siti Jenar memang hebat. Saat ini beliau satu kompleks makam dengan Kebo Kenongo, Nyi Kebo Kenongo, Pangeran Benowo, Joko Tingkir, Patih Monconagoro, Tumenggung Wilomarto, Tumenggung Wuragil, KP Tejowulan, Pangeran Kadilangu, KPH Sinawang. Makam luhur daerah Pajang itu terletak di desa Butuh Gedongan kecamatan Plupuh Sragen. Berkat kemurahan dan keramahan Sri Susuhunan Paku Buwana X, raja Surakarta Hadiningrat makam leluhur Pajang ini dipugar pada tahun 1930.

Wedharan Syekh Siti Jenar menjadi pandam pandom panduming dumadi. Masyarakat Sragen selalu mikul dhuwur mendhem jero. Pimpinan Sragen pasti sowan ke makam Pilang Payung. Di sana sowan kepada Bupati Wiryodiprojo di Prampalan, Krikilan, Masaran.

Ilmu laku jangka jangkah. Ada lagi makam Sukowati untuk nyekar Bagus Jambu atau Pangeran Adipati Sukowati di Pengkol Kecik Tanon. Ada juga Tumenggung Alap-alap panglima Sinuwun Amangkurat Amral. Tidak ketinggalan makam Pangeran Samudro di Pendhem Sumberlawang. Sebagian nyekar di makam KRT Haryo Bangsal di Gampingan Sambirejo. Untuk di perkotaan juga nyekar di makam Syekh Zakaria Kauman. Orang Sragen juga menghormati Punden Tingkir Sangiran Krikilan Kalijambe Sragen.

Ajaran Ki Ageng Butuh merupakan warisan Syekh Siti Jenar. Sampai saat ini tetap lestari. Manusia hidup harus selalu eling lan waspada. Lewat Kyai Yasadipura Pengging ajaran ini dibesut menjadi kitab Dewaruci.

Oleh karena itu hendaknya tetap melakukan satataning panembah jati. Dalam pergaulan masyarakat alangkah baiknya sambang sambung srawung tulung tinulung. Dedalane guna lawan sekti, kudu andhap asor, wani ngalah luhur wekasane. Dalam hidup berbangsa dan bernegara setiap warga hendaknya lila lan legawa kanggo mulyane negara

Murid Syekh Siti Jenar mengamalkan ilmu sejati. Contohnya adalah Joko Tingkir yang menjadi raja Kasultanan Pajang. Bergelar Sultan Hadiwijaya.

B. Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.

Ilmu sangkan paraning dumadi mengajarkan satataning panembah jati. Bermula dari sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Itulah rasa jati, Sari rasa jati.

Perkembangan peradaban kawruh Kejawen Syekh Siti Jenar terjadi pada jaman Kerajaan Demak dan Pajang. Siswa Syekh Siti Jenar setia dengan ajaran sang guru.

Dalam bidang kenegaraan, siswa Syekh Siti Jenar memberi nasihat yang berguna. Wibawa mereka cukup disegani. Berkat ilmu kesaktian yang tinggi.

Misalnya Bupati Sragen, Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Tejonagoro. Beliau adalah putra sulung Pangeran Lembu Amiluhur. Beliau putra Bupati Pengging, Sri Makurung Handayaningrat. Beliau suami Kanjeng Ratu Pembayun. Jadi dengan Joko Tingkir masih saudara sepupu. Sama-sama keturunan Prabu Brawijaya V. Kedua orang bangsawan ini pernah dididik oleh Ki Ageng Butuh. Pada tahun 1560 Kanjeng Ratu Kalinyamat memberi sumbangan berupa gelondongan kayu jati untuk membangun pendopo Kabupaten Sragen. Juru ukir Jepara diperbantukan selama enam bulan.

Pada tahun 1605 raja Mataram, Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati memberi bantuan berupa lempengan emas kepada warga Sragen. Kemurahan ini atas anjuran ibunda raja, Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Beliau adalah putri Ki Ageng Penjawi, Bupati Pati. Kanjeng Ratu Waskitha Jawi merasa berhutang budi kepada Ki Ageng Butuh dan masyarakat Sragen. Sewaktu beliau menikah dengan Panembahan Senopati tahun 1578, panitia pahargyan dari orang Sragen. Lagi pula Ki Ageng Butuh merupakan guru spiritual Ki Ageng Penjawi.

Nilai kepahlawanan yang diwariskan Syekh Siti Jenar pasti diturunkan. Maesa Jenar panglima Kerajaan Demak adalah perwira yang tangguh. Rela berkorban bagi nusa bangsa. Hubungan kabupaten Sragen dengan kerajaan Mataram selalu akrab , mesra dan harmonis.

Warga Sragen yang bernama Tumenggung Alap-alap dipercaya sebagai panglima militer Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Amral yang memerintah kraton Mataram Kartasura tahun 1677-1703. Tumenggung Alap-alap satria sejati yang selalu rela berkorban untuk bangsa dan negara. Untuk memperoleh ketajaman batin, Tumenggung Alap-alap selalu cegah dhahar lawan guling. Tumenggung Alap-alap masih keturunan Raden Ayu Pagedongan yang dimakamkan di Butuh Gedongan Plupuh Sragen. Satu kom-pleks dengan Raden Ayu Pagedongan yaitu Raden Hadinagoro, Raden Ayu Kodok Ijo, Demang Brang Wetan.

Pada tahun 1731 Demang Ngurawan diangkat menjadi kepala kejaksaan karaton Mataram Kartasura. Sinuwun Paku Buwono II sungguh raja yang pintar, cerdas, bijaksana. Setiap ada perkara selalu diserahkan kepada ahlinya. Demang Ngurawan berasal dari Gemolong yang berpendidikan. Beliau pernah mengabdi kepada KRT Padmonagoro, Bupati Pekalongan tahun 1726-1741. Kelak Demang Ngurawan menjadi pengajar di peguron Pengging. Muridnya yang handal adalah pujangga Yasadipura. Beliau nanti menjadi Pujangga karaton Surakarta Hadiningrat.

Kejadian perbedaan tafsir keagamaan pada masa Syekh Siti Jenar berulang. Pada jaman Mataram Kartasura kambuh lagi. Raja dan aparat mesti turun tangan.

Demang Ngurawan yang berasal dari Gemolong ini pada tahun 1732 mendapat tugas untuk mengabdi huru hara akibat silang sengketa yang terjadi pada tokoh agama di Pati, Kudus dan Batang. Syekh Mutamakin dituntut oleh Syekh Kamaruddin dan Abdul Kahar. Syekh Komaruddin Ketib Anom Batang dan Abdul Kohar Ketib Anom Kudus.

Perbedaan atas keyakinan selalu terjadi sepanjang masa. Keduanya menggugat Syekh Mutamakin dari Kajen Pati. Demang Ngurawan harus menjadi hakim yang adil. Persoalan ini tidak gampang. Di luar pengadilan, massa pendukung kedua tokoh ini demonstrasi besar-besaran. Berkat pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan, Demang Ngurawan dapat memuaskan pihak yang bersengketa. Demang Ngurawan dari Gemolong ini betul-betul amemangun karyenak tyasing sesama.

Perpindahan ibukota Mataram dan karyawan ke Surakarta melibatkan Bagus Jambu atau Pangeran Adipati Sukowati dari Pangkol Kecik Tanon Sragen. Sinuwun Paku Buwono memberi kepercayaan kepada Adipati Sukowati untuk serta mengatur desain istana. Para pimpinan Sragen selalu hormat dengan tokoh masa silam.

Syekh Siti Jenar termasuk deretan tokoh penting. Adipati Sukowati diberi tugas untuk membawa tukang ukir dari Jepara. Perpindahan kraton tahun 1745 ini memberi kesempatan warga Sragen untuk berkarir dalam bidang pertukangan dan bisnis mebel. Tak lupa dalam bidang dol tinuku hasil bumi.

Kanjeng Sinuwun Paku Buwono III memiliki penasihat dan guru spiritual dari Kauman Mataram Sragen. Beliau bernama Syekh Zakaria. Atas petunjuk Syekh Zakaria ini raja Surakarta yang memerintah tahun 1749-1788 ini membuat sejarah penting. Bertempat di daerah Sambung Macan, Sinuwun Paku Buwono mengadakan sarasehan sosial budaya bersama intelektual Sragen, Ngawi, Purwodadi dan Cepu. Beragam topik dibicarakan. Hasil diskusi di Sambung Macan ini bermakna bagi sejarah.

Perkembangan ilmu Kejawen beriringan dengan sejarah kerajaan. Ada dua rekomendasi penting yang ditawarkan, yakni Perjanjian Giyanti dan Perjanjian Salatiga. Rekomendasi ini dibuat pada bulan Desember 1754 di daerah Sambung Macan.

Perjanjian Giyanti resmi ditanda tangani pada tanggal 13 Pebruari 1755. Pangeran Mangkubumi diberi kedudukan sebagai Sultan Yogyakarta. Untuk wilayah Kotagedhe, Imogiri dan Ngawen tetap menjadi binaan karaton Surakarta Hadiningrat. Sedangkan perjanjian Salatiga ditanda tangani pada tanggal 17 Maret 1757.

Ngelmu makrifat pada masa ini disebut dengan sembah rasa. Pangeran Sambernyawa ditetapkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara I. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas. Rekomendasi dari sarasehan Sambung Macan Sragen menghasilkan mutu peradaban yang agung.

Kawruh sejati dimuat dalam sastra piwulang. Maka penyusunan Serat Centhini pada tahun 1810 melibatkan warga Sragen. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono V memberi kepercayaan kepada Joko Budug atau KRT Haryo Bangal dari Gampingan Sambirejo Sragen.

Dalam penyusunan Serat Centhini beliau diberi tugas untuk menulis tentang keberadaan Bengawan Solo, Gunung Kendheng, Gunung Pandhan, Gunung Sewu, serta lingkungan sekitar. Ada lima yang dibahas yaitu minyak tanah, pari gogo, gamping kapur semen, kayu jati dan burung perkutut. Ini semua ditulis dalam Serat Centhini.

Sangkan paraning dumadi berisi tentang hakikat hidup. Syekh Siti Jenar memberi makna asal usul kehidupan. Dalam serat Centhini disebutkan mengenai pengajaran ilmu makrifat.

Pada tanggal 12 Oktober 1840 Sinuwun Paku Buwono VII menerbitkan undang-undang. Namanya Serat Angger-angger Gunung. Peraturan ini mengatur hubungan sosial di Sragen agar tetap harmonis, guyub rukun, gotong royong, kerja sama dan saling menghormati. Pada tanggal 5 Juni 1847 Karaton Surakarta menetapkan Sragen sebagai daerah otonom yang mandiri. Hubungan dengan kraton Surakarta semakin istimewa. Pada tahun 1852 Sinuwun Paku Buwono VII memugar Pasarean Luhur Butuh.

Masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX tahun 1861-1893 dibangun stasiun Gemolong. Raja Surakarta Hadiningrat ini juga memugar Punden Tingkir di Sangiran Krikilan Kalijambe Sragen. Paku Buwono IX mendapat julukan Sinuwun Bangun Kedaton. Prestasi gemilang warga Sragen dilanjutkan pada masa Sinuwun Paku Buwono X. Rum kuncaraning bangsa dumunung hing luhuring budaya. Warga Sragen diajak bekerja di perkebunan teh Ampel, perkebunan kopi Kembang dan perkebunan tembakau Tegalgondo. Sebagian warga Sragen diajak mengelola pabrik gula Manisharjo.

Kursus sindhenan tayub diselenggarakan oleh Sinuwun Paku Buwono XI pada tahun 1940. Bertempat di daerah Kedung Banteng. Seni tayub dianggap sebagai sarana untuk menyubur-kan sawah. Suara waranggana tayub dapat mengusir hama dan wabah penyakit. Oleh karena itu seni langen tayub harus diuri-uri, supaya tetap rahayu lestari.

Warga Sragen banyak yang mengabdi kepada karaton Surakarta Hadiningrat. Pada masa Sinuwun Paku Buwono XII warga Sragen terhimpun dalam Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau PAKASA. Tiap karaton Surakarta menyelenggarakan upacara adat, tentu abdi dalem PAKASA bersedia sowan untuk partisipasi. Ajaran Syekh Siti Jenar berlanjut.

Upacara Grebeg Syawal, Grebeg Besar dan Grebeg Mulud, malem selikuran, Wilujengan Negari Maesa Lawung dan Labuhan di Parangkusumo. Begitulah pengabdian warga Sragen yang penuh dengan keteladanan dan keutamaan. Paham ini menjadi ajang pelestarian kawruh kasampurnan.

Guru sejati Syekh Siti Jenar memberi ajaran agama dan budaya. Sudah sepatutnya budaya luhur itu dilanjutkan oleh generasi sekarang. Supaya tidak kepaten obor. Peradaban yang agung dan anggun ini merupakan karunia ganjaran dari Tuhan. Tata lahir amakarti, jroning batin angesthi panembah jati.

C. Desa Mawa Cara Negara Mawa Tata.

Kraton Pengging yang didirikan oleh Prabu Kusuma Wicitra merupakan pusat ilmu Kejawen. Sistem pewarisan kawruh kasampurnan berlanjut pada masa kerajaan Demak yang berdiri tahun 1478.

Ilmu kasampurnan semakin berkembang pada jaman Kraton Pajang yang berdiri tahun 1546. Para guru spiritual Jawa mendapat tempat yang terhormat. Berpengaruh pula pada bidang tata praja.

Pemimpin pemerintahan selalu ingat ajaran desa mawa cara, negara mawa tata. Para Bupati Sragen memimpin peradaban agung. Piwulang luhur berguna untuk melakukan pengabdian.

1. Kanjeng Raden Tumenggung Tejonegoro I 1556-1580
Dilantik oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya, raja Pajang.

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *