Masih Ingkatkah Istilah “Pentil Kecakot?” Ini Sekilas Kisahnya

Menurut dia, saat itu peran Pentil Kecakot memang sangat urgent. Mengingat saat itu hubungan telepon interlokal tak semudah ketika sudah ada upgrade ke sistem satelit.

“Jadi kalau kita mau terima telepon atau mau telepon ke luar kota, harus relay dulu. Biasanya lewat kantor-kantor kecamatan. Baru oleh penjaga telepon disambungkan dengan nomor telepon yang dituju.

Saat itu masyarakat yang berlangganan telepon rumah juga sangat jarang. Hanya orang-orang tertentu yang bisa berlangganan. Sebab biaya abonemen terbilang cukup mahal,” kenang Witono.

Meski sedikit ribet, bagaimanapun juga alat komunikasi tersebut sangat membantu masyarakat. Utamanya mereka yang punya keluarga atau anak yang lagi menempuh pendidikan atau bekerja di luar daerah.

“Sekarang kita harus bersyukur. Kemana-mana alat komunikasi selalu ada dalam genggaman. Mau video call juga mudah. Coba kita ingat masa lalu, bisa tersambung dengan suara saja sudah senang rasanya,” tukasnya. (Red/yun).

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *