Namun zaman bergerak cepat. Ladang-ladang mulai ditinggalkan. Tanah dianggap kotor, cangkul dianggap kuno. Generasi muda lebih akrab dengan layar, lebih bangga dengan jarak dari lumpur. Dunia agraris pun perlahan tergerus, nyaris kehilangan suara.

ASB menghela napas pelan.

“Padahal, tanah tak pernah ingkar janji,” katanya. “Selama ia dirawat, ia akan memberi.”

Dalam pandangannya, di tengah sempitnya ruang fiskal dan tekanan krisis yang datang silih berganti, pertanian justru menjadi sandaran paling setia. Ia tak menjanjikan kemewahan instan, tetapi menawarkan keberlanjutan, tentang makan esok hari, tentang hidup yang tak sepenuhnya bergantung pada gejolak.

“Jangan gengsi menjadi petani,” tegasnya, lembut namun pasti.

Tak lama berselang, waktu memanggilnya kembali ke ruang paripurna. Rokok telah habis, kopi tinggal ampas. ASB pun berdiri, meninggalkan ruangan dengan langkah tenang.

Namun pesan itu tertinggal, mengendap bersama aroma kopi dan asap rokok,
bahwa di tengah riuh politik dan rapuhnya ekonomi, tanah tetap setia menunggu untuk digenggam kembali. Diam, sabar dan selalu memberi.(Red/yun).

BAGIKAN KE :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *