Liputan BERITA

ASB: Asap, Kopi, dan Tanah yang Tak Pernah Ingkar Janji

Ditulis oleh Liputan68 pada 13 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Di sebuah ruang yang lapang dan tenang, waktu seakan melambat. Sebuah pigura besar terpajang di dinding, menampilkan Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, berdampingan dengan almarhumah Ani Kristiani Yudhoyono.

Tatapan keduanya memantul lembut di ruangan itu, seolah menjaga, seolah mengingatkan bahwa politik tak selalu tentang suara keras dan gestur tergesa.

BACA JUGAAkhirnya KPK Periksa Sekjen PDI-Perjuangan, Terkait OTT Komisioner Eks KPU

Di balik meja kayu yang kokoh, duduk seorang lelaki muda berbalut kemeja putih dan dasi sederhana. Tak ada gemerlap berlebihan, tak pula simbol kekuasaan yang mencolok.

Dialah Arif Setia Budi atau ASB, begitu ia disapa, sang Ketua DPRD Pacitan yang kini menapaki babak penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Di atas meja tamu, sebungkus rokok kretek tergeletak tanpa banyak basa-basi. ASB bangkit dari kursinya, lalu duduk bersanding dengan awak media. Sebatang rokok disulut. Api kecil menyala, lalu padam. Asapnya mengalun perlahan, menari di udara, membawa serta cerita-cerita yang tak selalu sempat diucapkan di ruang sidang.

Percakapan pun mengalir, santai dan hangat. Hari itu, ASB sejatinya tengah bersiap memimpin pengucapan sumpah/janji anggota DPRD melalui mekanisme pergantian antar waktu untuk sisa masa jabatan 2024–2029.

Namun sebelum palu diketukkan, sebelum kalimat formal dilafalkan, obrolan justru berbelok ke sesuatu yang jauh lebih hening, yaitu tentang tanah, tentang krisis, tentang cara bertahan hidup.

Dengan suara yang rendah, nyaris berbisik, ASB membuka pandangannya.

“Pertanian adalah jalan paling jujur untuk bertahan di tengah krisis yang berkepanjangan,” ujarnya, sambil menghisap rokok perlahan, Senin (12/1/2026) kemarin.

Sesekali, tangannya meraih cangkir kopi panas di hadapannya. Aroma pahitnya menguar, menyatu dengan asap rokok. Kopi itu bukan kopi sembarang. Ia lahir dari tanah, dari kebun miliknya sendiri di Desa Jatigunung, Kecamatan Tulakan.

“Iki yo kopi asli hasil kebun di Jatigunung,” tuturnya lirih, seolah sedang memperkenalkan bagian kecil dari hidupnya.

Bagi ASB, pertanian bukan sekadar sektor unggulan dalam lembar kebijakan. Ia adalah ingatan kolektif. Ia adalah jejak nenek moyang yang dulu hidup tanpa hiruk-pikuk pasar global, namun mampu berdiri tegak dengan tangan sendiri, menggenggam cangkul, menyemai benih, menunggu musim dengan sabar.

Namun zaman bergerak cepat. Ladang-ladang mulai ditinggalkan. Tanah dianggap kotor, cangkul dianggap kuno. Generasi muda lebih akrab dengan layar, lebih bangga dengan jarak dari lumpur. Dunia agraris pun perlahan tergerus, nyaris kehilangan suara.

ASB menghela napas pelan.

“Padahal, tanah tak pernah ingkar janji,” katanya. “Selama ia dirawat, ia akan memberi.”

Dalam pandangannya, di tengah sempitnya ruang fiskal dan tekanan krisis yang datang silih berganti, pertanian justru menjadi sandaran paling setia. Ia tak menjanjikan kemewahan instan, tetapi menawarkan keberlanjutan, tentang makan esok hari, tentang hidup yang tak sepenuhnya bergantung pada gejolak.

“Jangan gengsi menjadi petani,” tegasnya, lembut namun pasti.

Tak lama berselang, waktu memanggilnya kembali ke ruang paripurna. Rokok telah habis, kopi tinggal ampas. ASB pun berdiri, meninggalkan ruangan dengan langkah tenang.

Namun pesan itu tertinggal, mengendap bersama aroma kopi dan asap rokok,
bahwa di tengah riuh politik dan rapuhnya ekonomi, tanah tetap setia menunggu untuk digenggam kembali. Diam, sabar dan selalu memberi.(Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian