Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, HP. 087864404347)
A. Dari Kadipaten Lasem Menuju Kabupaten Rembang
Kadipaten Lasem merupakan kota kosmopolit yang sudah berkembang maju sejak jaman kerajaan Majapahit. Pelabuhan Regol Lasem dikunjungi oleh saudagar dari Afrika, Rusia, India dan Tiongkok. Perdagangan, pelayaran, pemerintahan berjalan dinamis yang mendatangkan keuntungan besar. Kabupaten Lasem dipimpin oleh Adipati Wirobrojo sejak tahun 1469. Kerajaan Majapahit waktu itu diperintah oleh Prabu Brawijaya V. Beliau adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana. Kadipaten Lasem tiap tahun pasok glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana. Hubungan Majapahit dengan kadipaten Lasem begitu dekat, akrab, mempesona dan saling menguntungkan. Kadipaten Lasem tampil sebagai wilayah yang sanga t makmur. Rakyatnya begitu gembira bahagia.
Adipati Wirobrojo menjadi pejabat negara yang sukses. Beliau dicintai oleh segala warga Lasem. Ayahnya bernama Pangeran Badranala, putri Prabu Brawijaya IV. Dengan demikian Adipati Wirobrojo punya hubungan darah dengan kraton Majapahit. Pada kenyataannya Adipati Wirobrojo betul-betul pantas, cerdas, bijaksana, trampil, lincah, ramah, baik hati, mau berkorban dan peduli kepada sesama. Selama memimpin kadipaten Lasem, siang malam tenaga, pikiran, hanya untuk kesejahteraan rakyat. Adipati Wirobrojo dimakamkan di Bonang Binangun. Warga sekitar menyebut Pasareyan Mbah Brawud.
Kepemimpinan Lasem diteruskan oleh Adipati Wironagoro pada tahun 1492. Beliau adalah putra sulung Adipati Wirobrojo. Beliau menjadi murid Kanjeng Sunan Bonang. Kadipaten Lasem bertambah maju. Atas usul Kanjeng Sunan Bonang ini kota Lasem memiliki masjid Jami yang megah mewah. Adipati Wironagoro sangat hormat kepada Sunan Bonang. Makam Adipati Wironagoro di daerah Sriombo. Masyarakat sekitar menyebut makam Adipati Wironagoro dengan Pasareyan Brayut.
Selama kerajaan Demak berkuasa, Kadipaten Lasem mendapat perhatian utama. Suami Kanjeng Ratu Kalinyamat adalah pengusaha yang memiliki kekayaan berlimpah ruah. Beliau bernama Pangeran Hadirin yang berasal dari Aceh. Usaha Pangeran Hadirin banyak berlokasi di Lasem. Kayu Jati, gamping, minyak tanah, burung perkutut dan padi gogo sering menggunakan jalur pelabuhan Regol Lasem.
Pergeseran kekuasaan Demak pindah ke Pajang sejak tahun 1546. Kadipaten Lasem pun menyesuaikan diri. Adipati Santo Puspo dipercaya untuk memimpin kadipaten Lasem tahun 1561-1585. Masa inilah kadipaten Lasem banyak membuat produksi trasi. Para pemuda di pelosok negeri Pajang diberi pelatihan pembuatan trasi. Dari masa ke masa industri trasi Lasem semakin terkenal di tingkat dunia. Masyarakat Lasem semakin bersemangat dalam bekerja. Sengkut gumregut anggone makarya.
Pada tahun 1585 Adipati Tejokusumo I dilantik menjadi Bupati Lasem. Kekuasaan sudah berpindah pada kerajaan Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati. Pada dasarnya tidak ada masalah bagi kadipaten Lasem. Masyarakat Lasem biasa mandiri. Mereka usaha tanpa bersentuhan dengan sistem politik. Kemandirian mereka sudah teruji sepanjang masa. Dialah kabupaten Lasem dapat berproduksi Batik Lasem. Batik tulis ini berwarna-warni yang cerah. Orang menyebut dengan batik tulis Kendoro Kendiri. Kanjeng Sultan Ageng berkuasa di kerajaan Mataram tahun 1613-1645. Perhatian raja Mataram kepada Lasem tetap besar, pada tahun 1632 Kadipaten Lasem dipimpin oleh Tumenggung Martoguno. Industri trasi dan batik tulis Kendoro Kendiri ditingkatkan mutu produksi dan pemasaran.
Kebijakan Mataram atas kadipaten Lasem tetap diteruskan pada masa pemerintahan Sinuwun Sri Amangkurat Tegal Arum tahun 1645-1677. Beliau meneruskan kadipaten Lasem sebagai pusat pemerintahan lokal di wilayah pesisir. Nama Sinuwun Amangkurat Agung amat harum di sepanjang pesisir utara pulau Jawa. Sejak tahun 1677 kekuasaan Mataram dipegang oleh Sinuwun Amangkurat Amral. Beliau membuat kebijakan baru. Lasem hanya dijadikan sebagai kawasan bisnis dan industri. Pada tahun 1682 pusat pemerintahan pindah dari Lasem ke Rembang ke Rembag. Bupati Rembang dijabat oleh Tumenggung Honggodoyo tahun 1682-1710. Sejarah baru sedang berubah, nuting jaman kelakone.
Pembinaan ekonomi Rembang cukup berkembang. Desa Bonang Lasem membuat industri terasi. Terbuat dari rebon atau udang kecil yang dilumat lembut. Industri terasi bisa juga dijumpai di desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori Rembang.
B. Pengaruh Lasem Rembang pada Jaman Kerajaan
Pengusaha kayu jati, semen, gamping, ukir- ukiran, trasi dan garam di Kadipaten Lasem selalu berhubungan departemen perdagangan dan industri negeri Mataram. Untuk usaha ekspor impor memerlukan surat ijin dari Kepala Pelabuhan Regol Lasem. Jalan ini bisa ditempuh dengan melakukan lobi kepada pemerintah pusat. Secara diam-diam juragan bisnis Lasem berhubungan dengan raja Mataram secara pribadi. Kejadian menjadi tradisi kuat pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat Mas tahun 1703-1708.
Malah keluarga Sunan Amangkurat Mas memiliki kantor bisnis di Lasem. Meskipun kekuasaan Lasem sudah pindah ke Rembang tahun 1682, tetapi kantor-kantor pejabat Mataram tetap besar pengaruhnya pada kegiatan bisnis pelabuhan di pesisir utara pulau Jawa. Ada empat kantor keluarga Sri Susuhunan Amangkurat yang menentukan bisnis di kawasan pesisir. Semuanya berlokasi di Pelabuhan Regol Lasem.
1. Sasana Giripeni.
Kantor bisnis ini dikelola oleh Gusti Kanjeng Ratu Ayu Lembah Mas. Beliau adalah istri Sri Susuhunan Amangkurat Mas yang mengelola bisnis perhiasan emas, intan, perak, mutiara. Kegiatan bisnis ini mempunyai cabang tiap kabupaten. GKR Ayu Lembah Mas kelahiran Banyumanik Semarang. Ekspor impor perhiasan langsung dengan negeri Tiongkok, India, Turki, Mesir dan Melayu. Melalui orang orangnya yang berdomisili di Lasem, usaha ini sudah menggurita. GKR Ayu Lembah Mas trampil menjalankan roda bisnis yang mendatangkan keuntungan besar.
2. Sasana Wreksa Galih.
Kantor bisnis yang berada di Lasem ini dikelola oleh Gusti Kanjeng Ratu Ayu Himpun Manik. Beliau juga istri Sri Susuhunan Amangkurat Mas. Beliau mengelola usaha bisnis yang bergerak dalam bidang mebel, perdagangan kayu jati, industri ukir-ukiran. Bahan baku yang diperoleh dari sepanjang Gunung Kendheng telah menjadikan GKR Ayu Himpun Manik menjadi istri raja yang berpengaruh. Perkakas meja, kursi, almari, gudang, papan, tiang, blandar, usuk, reng dan piranti rumah tangga selalu dipesan dari Sasana Wreksa Galih. Maklum istri raja memiliki usaha, sudah wajar bila berjalan lancar.
3. Sasana Lisah Lampah.
Kantor usaha ini berada di Lasem dengan pengelola Gusti Raden Mas Buminoto. Beliau menjalankan bisnis minyak mentah. Semua orang yang mengebor minyak dari Cepu, Bojonegoro, Grobogan, selalu berhubungan dengan GRM Simbar Buminoto. Beliau adalah putra Susuhunan Amangkurat Mas. GRM Simbar Buminoto mendapat pengelolaan tunggal atau industri minyak.
4. Sasana Baita Jaya.
Kantor bisnis ini dikelola oleh Gusti Raden Mas Simbar Mandiraja. Sasana Baita Jaya bergerak dalam usaha perkapalan, pelayaran, pelabuhan. Perahu yang berlayar di laut Jawa dan selat Malaka hampir selalu berhubungan di kantor bisnis Sasana Baita Jaya. Kantor yang dikelola oleh putra bungsu Amangkurat Mas ini mendapat keuntungan. Kantor- kantor dagang keluarga raja Mataram berjalan lancar. Masyarakat Lasem Rembang pun kecipratan rejeki nomplok. Mereka sama sama bahagia.
Jaringan perdagangan Sri Susuhunan Amangkurat Mas ini mengakar kuat di Lasem, Tegal, Semarang, Tuban dan Lamongan. Pelaku bisnis orang-orang Cina pasti mendapat fasilitas dari Amangkurat Mas. Kantor bisnis raja Mataram di Lasem banyak mendapat sokongan dari pengusaha Cina. Malah hubungan mereka begitu lekat, akrab dan saling ketergantungan. Solidaritas mereka kuat sekali.
Sejak tahun 1738 posisi bisnis keluarga Amangkurat Mas di Lasem mulai tersingkir. Mereka merasa bidang usahanya sengaja diganggu oleh penguasa baru. Perasaan anti pati mereka ibarat api dalam sekam. Sewaktu waktu membara dan terbakar. Kepentingan jaringan Cina Lasem seakan akan diganggu. Ancaman ini kian hari kian nyata. Perasaan kecewa juga hinggapi para pelaku bisnis di Betawi, Pekalongan dan Surabaya. Timbullah solidaritas untuk melawan pemerintahan Mataram Kartasura.
Demonstrasi meledak di mana-mana. Mereka tidak puas atas kebijakan bisnis pemerintah Mataram. Gerakan sporadis ini berulang ulang, sehingga terbentuk sebuah gerakan yang tertata dan penuh pengalaman. Gerakan ini tinggal membutuhkan seorang pemimpin kharismatik yang lahir dari kalangan istana. Pucuk dicinta ulam tiba. Ibarat tumbu antuk kekep. Hadirlah Raden Mas Garendi. Beliau adalah cucu Susuhunan Amangkurat Mas yang memerintah Mataram.
Pada tahun 1740 Raden Mas Garendi memimpin pemberontakan orang Cina di ibukota Mataram Kartasura. Kejadian ini populer dengan istilah Geger Pacino. Sebuah gerakan pengusaha Cina yang berkolaborasi antara kaum bisnisman, kaum delah, nelayan, pelayar, pelaut, pengelola, pelabuhan, pengusaha mebel, ukir ukiran, pedagang jati, pengeboran minyak. Mereka dipimpin oleh Raden Mas Garendi yang mewakili keturunan Sri Susuhunan Amangkurat Mas.
Penyokong gerakan geger pacino memang pengusaha besar Cina. Rata-rata barisan pemberontakan di Kartasura ini berkulit kuning. Maka Raden Garendi mendapat gelar Sunan Kuning. Gerakan pemberontak cukup gawat. Untuk sementara waktu Raden Mas Garendi berhasil menduduki ibukota Kartasura. Para pendukung pemberontakan ini menobatkan Raden Mas Garendi sebagai Sri Susuhunan Amangkurat V. Hanya saja geger pacino itu mengalami gagal visi misi saat menduduki istana Kartasura. Raden Mas Garendi saat masuk kraton Surakarta tanggal 1 Oktober 1743. Tiga bulan kemudian yaitu pada tanggal 15 Januari 1744 kraton Surakarta kembali ke tangan Sinuwun Paku Buwono II. Setahun kemudian boyong kedaton dari Kartasura ke Surakarta Tahun 1745.
Luka akibat geger pacino bagi warga Lasem Rembang tentu tidak menguntungkan. Pada tahun 1759 Sri Susuhunan Paku Buwono III hadir di kota Lasem. Di sana beliau meresmikan pemugaran bangunan Klenteng Ci An Kiong, Klenteng Po An Bio, Klenteng Gie Yong Bio. Tempat ibadat umat Budha itu dipugar oleh Kraton Surakarta Hadiningrat demi membuat kedamaian. Geger pacino pelan pelan terlupakan. Hidup mereka pulih lagi. Di tempat lain Sinuwun Paku Buwono III juga berkunjung di Wihara Ratanawana, bukit Teluang Sendangcoyo. Jadwal kunjungan juga di Wihara Karunia Dharma. Warga Cina Lasem yang menganut Budha kembali ayem tentrem hidup aman damai.
Kemajuan Rembang atas sokongan keraton Surakarta Hadiningrat terjadi pada tahun 1883. Atas usul Sinuwun Paku Buwono IX dibangun sarana Transportasi kereta api. Orang Jawa menyebut Sepur. Kereta api melintasi jalur Juwana Rembang Lasem. Kemakmuran rakyat semakin meningkat. Peningkatan kesejahteraan terjadi lagi p ada tahun 1900 dengan ditambah jalur kereta api yang melewati Rembang, Semarang. Begitulah dinamika peradaban yang tumbuh di kabupaten Rembang.
Dari Kadipaten Lasem menjadi kabupaten Rembang sesungguhnya telah menambah kekayaan peradaban. Warga kabupaten Rembang boleh bangga bahwa nenek moyang telah mewarisi budaya tinggi sebagaimana ungkapan negara kang gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kaprabawane.
C. Para Bupati Lasem Rembang yang Mengantarkan Masa Kejayaan
1. Adipati Wirobrojo 1469-1492. Dilantik pada jaman pemerintahan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit.
2. Adipati Wironagoro I 1492-1509. Dilantik pada jaman pemerintahan Raden Patah, raja Demak Bintoro.
3. Adipati Wironagoro II 1509-1531. Dilantik pada jaman pemerintahan Raden Patah, raja Demak Bintoro.
4. Adipati Wironagoro III 1531-1561. Dilantik pada jaman pemerintahan Sultan Trenggono, raja Demak Bintoro.
5. Adipati Santo Puspo 1561-1585. Dilantik pada jaman pemerintahan Sultan Hadiwijaya, raja Pajang.








