Liputan BERITA

Tradisi Megengan di Pacitan, Warisan Spiritual Menyambut Ramadhan 1447 H

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi pada 31 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, umat Muslim di Kabupaten Pacitan kembali bersiap melaksanakan tradisi megengan. Tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan sarat dengan nilai-nilai spiritual dan edukatif yang relevan dengan esensi Ramadhan.

Pendakwah kondang Pacitan, KH Mahmud, menjelaskan bahwa megengan merupakan bentuk kearifan lokal yang menyatu dengan ajaran Islam. Tradisi ini menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan persiapan batin sebelum memasuki bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan.

“Megengan adalah sarana muhasabah. Di dalamnya ada doa, sedekah, dan silaturahmi. Ini bukan hanya tradisi, tapi juga latihan spiritual agar kita siap menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih,” ujar KH Mahmud, Sabtu (31/1/2026).

Secara etimologis, megengan berasal dari kata megeng atau menahan, yang bermakna simbolik sebagai pengingat akan kewajiban menahan diri selama berpuasa, baik dari lapar dan dahaga, maupun dari perbuatan yang dapat mengurangi nilai ibadah. Makna ini sejalan dengan tujuan utama puasa, yakni membentuk pribadi yang bertakwa.

Di Pacitan, megengan biasanya dilaksanakan di masjid, mushala, atau rumah warga dengan menggelar doa bersama dan kenduri. Makanan khas seperti apem, ketan, dan kolak menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Apem, misalnya, dimaknai sebagai simbol permohonan ampun (afwan), sementara ketan melambangkan eratnya persaudaraan antarwarga.

KH Mahmud menambahkan, megengan juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Melalui kegiatan berbagi makanan dan berkumpul bersama, masyarakat diajak untuk menumbuhkan rasa kepedulian, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menghapus sekat-sekat sosial yang mungkin muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Nilai kebersamaan dan gotong royong dalam megengan sangat relevan dengan ajaran Islam. Ramadhan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang kepedulian terhadap sesama,” jelasnya.

Di tengah arus modernisasi, tradisi megengan masih tetap lestari dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat Pacitan, termasuk generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan umat.

KH Mahmud berharap, tradisi megengan tidak hanya dipertahankan sebagai rutinitas tahunan, tetapi juga dipahami secara mendalam maknanya. “Jika esensinya dipahami, megengan akan menjadi pintu masuk menuju Ramadhan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan,” pungkas KH Mahmud yang juga menjabat sebagai Inspektur, Inspektorat Pacitan ini.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian