Liputan BERITA

Harga Pertamax Melonjak, Pasar Mobil Premium Bekas di Pacitan Lesu, LCGC Justru Diburu. Barcode Juga Banyak Yang Terblokir?

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 30 Juni 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,JBM.co.id-Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, terutama Pertamax RON 92, mulai memunculkan dampak nyata di sektor jual beli mobil bekas di Kabupaten Pacitan. Tren pasar bergeser. Mobil-mobil premium yang sebelumnya menjadi primadona kini justru sulit menemukan pembeli.

Di sejumlah showroom mobil bekas, kendaraan bermesin besar seperti Toyota Kijang Innova, Mitsubishi Pajero Sport, hingga Toyota Fortuner kini lebih lama terparkir di etalase. Minat masyarakat terhadap kendaraan tersebut menurun seiring meningkatnya biaya operasional akibat mahalnya harga BBM.

Andrea, salah seorang pelaku usaha jual beli mobil bekas di Pacitan, mengaku kondisi pasar berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Mobil yang sebelumnya tergolong fast moving kini justru menjadi stok yang sulit dilepas.

“Sekarang mobil-mobil premium ambleg, Mas. Sulit jualnya,” ujar Andrea saat ditemui di lokasi usahanya, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, konsumen kini lebih rasional dalam menentukan pilihan. Faktor efisiensi bahan bakar menjadi pertimbangan utama dibanding gengsi atau kapasitas kendaraan. Akibatnya, mobil-mobil bersegmen Low Cost Green Car (LCGC) dan kendaraan keluaran 10 hingga 15 tahun lalu justru menjadi buruan.

Model seperti Toyota Agya, Daihatsu Ayla, Honda Brio, hingga Toyota Avanza generasi lama kini lebih diminati karena dinilai lebih hemat konsumsi BBM sekaligus memiliki harga yang masih terjangkau.

“Ya seperti Agya, Ayla, Brio atau Avanza lawas malah banyak diburu. Harganya pun relatif murah, di bawah Rp100 juta,” jelasnya.

Tak hanya menghadapi lesunya penjualan mobil premium, Andrea juga mengaku menemui kendala dalam proses pengurusan barcode MyPertamina untuk kendaraan yang diperdagangkan. Jika sebelumnya proses penerbitan barcode hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari, kini bisa memakan waktu jauh lebih lama.

“Sekarang bisa sampai satu bulan atau bahkan tidak keluar. Malah ada kabar beberapa kendaraan keluaran terbaru yang terblokir barcodenya. Apa alasannya saya juga tidak paham. Hanya kasak-kusuk seperti itu,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, menurut Andrea, turut memengaruhi minat calon pembeli. Sebagian konsumen memilih menunda transaksi karena khawatir mengalami kesulitan dalam memperoleh akses pembelian BBM tertentu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM tak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga mengubah peta permintaan di pasar otomotif bekas. Di tengah tingginya biaya operasional, kendaraan yang hemat bahan bakar kini menjadi pilihan utama, sementara mobil-mobil premium harus menghadapi kenyataan pahit: kehilangan pesonanya di mata konsumen.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian