4. Kebo Kanigoro.
Guru kejawen yang mengajarkan ilmu kasampurnan. Dia anak Adipati Handayaningrat. Selamanya wadat atau tak menikah.
5. Lembu Amiluhur.
Pengajar ilmu sangkan paraning dumadi. Berkeliling di tanah Jawa untuk menjaga keselamatan dunia.
6. Joko Tingkir.
Putra Kebo Kenanga dan menantu Sultan Trenggana Demak Bintoro. Menjadi raja Pajang dengan didukung oleh para guru sakti mandraguna.
7. Ratu Mas Cempaka.
Permaisuri Sultan Pajang yang berasal dari Kasultanan Demak Bintoro. Terkenal sebagai perintis batik motif Sidomukti.
8. Tumenggung Padmonagoro.
Bupati Pekalongan yang menjadi leluhur Sinuwun Paku Buwono XIII, KRT Padmonagoro pelopor industri batik. Putra bupati Padmonagoro yakni Kyai Yasadipura yang menjadi pujangga kraton Surakarta Hadiningrat.
9. Kyai Yasadipura.
Pujangga kraton yang sakti mandraguna. Banyak menulis sastra piwulang. Misalnya cerita Dewaruci
10. Ratu Laksmintorukmi.
Istri Sinuwun Paku Buwono X yang paling muda. Beliau mengasuh anak-anak Presiden Soekarno. Misal Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputra. Makam Ratu Laksmintorukmi terletak di sebelah makam Kyai Yasadipura.
11. Syekh Siti Jenar.
Guru kejawen yang mengajarkan kawruh manunggaling kawula Gusti. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Aboge (Abangan Rebo Wage).
12. Ki Ageng Tarub.
Leluhur Mataram yang menjadi suami Dewi Nawangwulan. Beliau turut membuat peguron Pengging.
13. Ki Ageng Sela.
Guru sakti mandraguna yang dapat menangkap petir. Menjadi pelindung petani Jawa. Kerap mengajar di peguron Pengging untuk menjaga kesuburan.
14. Ki Ageng Banyubiru.
Guru Joko Tingkir yang membekali ilmu tata praja. Berkat didikan Ki Ageng Banyubiru Joko Tingkir dapat menurunkan para raja Jawa.
15. Ki Ageng Pemanahan.
Tokoh pendiri Mataram yang cerdik cendekia cerdas. Mampu mengatur strategi kerajaan Pajang dan Mataram sehingga agung anggun basuki lestari.
D. Umbul Pasiraman Pengging Kagem Nenuwun Pada Tuhan
1. Umbul Raja atau Umbul Ngabean
Umbul Raja disebut juga Umbul Ngabean. Tempat pemandian para raja, dewa dan keluarga.
Air yang mengalir menyebabkan seseorang kuat derajat, lancar naik pangkat dan mendapat semat. Derajat pangkat semat atau kedudukan, kehormatan dan kekayaan seseorang akan berlimpah ruah.
2. Umbul Manten
Disarankan pada pasangan manten, agar mau siram jamas. Dengan harapan anak keturunan trah tumerah akan mendapat kewibawaan.
Pasangan yang mau lelaku di umbul manten akan menambah stamina, tenaga dan gairah. Tentu saja terjaga rumah tangga yang harmonis. Khasiat air Umbul Manten lebih dahsyat dari pada obat kuat. Untuk pembuktian barangkali lebih baik untuk dicoba.
3. Umbul Dhudha
Digunakan untuk ritual seseorang yang ingin memiliki pasangan. Dinamakan Dhudha karena mudah mendatangkan rasa belas kasihan. Dhudha tidak pernah dicurigai, tak pernah dicemburui dan tidak pernah dipandang sinis. Di mana saja seorang dhudha mendapat perhatian dari saudara dan rekan. Dhudha dekat dengan suasana kasih sayang.
4. Umbul Rara
Umbul Rara digunakan untuk panuwunan orang yang memiliki hajat, cita-cita dan kedudukan sosial.
Orang melakukan ritual di Umbul Rara rata rata pada waktu malam hari. Mereka melakukan siram jamas di tengah malam saat suasana eneng, ening. Tujuannya supaya segala harapan segera terkabul.
Tata cara Ritual di Umbul Rara ini sudah berlangsung sejak jaman kerajaan Majapahit. Ada makam wigati KRT Soeronegoro adalah pembesar Boyolali. Makam keluarga di Ngambuh Boyolali:
R.Ng. Wongsodimejo
R.Ng. Soeronegoro II
KRT Soeronegoro
R.Ng. Soeronegoro I
R.Ng. Ronosumarto.
Demang Joyosuhardjo.
Pangarsa negeri itu mengenal serat dewaruci sebagai refleksi filosofis. Sedangkan membaca serat Rama untuk memperoleh pedoman hidup. Reriptan Kyai Yasadipura itu jalan menuju kautaman.
E. Kawruh Tata Praja.
Konsep kepemimpinan diulas oleh Kyai Yasadipura lewat ajaran Hasthabrata. Pemimpin yang baik mesti selaras dengan sifat surya, candra, kartika, tirta, samudra, dahana, maruta, kisma.
Ajaran kepemimpinan ini ditulis oleh Yasadipura melalui Serat Rama. Juga disebut dengan sastra cetha.
Para pemimpin selalu dekat dengan alam. Perspektif ekologis ini dihayati oleh Pangarsa Pengging Boyolali. Daftar Bupati Boyolali yang berpegang teguh pada keutamaan memang mengagumkan.
1. RT Sutonagoro 1847-1863. Dilantik Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta.
2. Prawirodirdjo 1863 sampai 1894. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
3. RT Dirdjokusumo 1894 sampai 1913. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
4. RT Prawironagoro 1913 sampai 1919. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
5. RT Pusponagoro 1917 sampai 1921. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
6. RT Martonagoro 1921 sampai 1922. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
7. KRT Suronagoro 1922 sampai 1940. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
8. KRT Reksonagoro 1940 sampai 1946. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
9. RM Projosuwito 1946 sampai 1947. Jaman Presiden Soekarno.
11. R. Hamong Wardoyo 1947 sampai 1948. Jaman Presiden Soekarno.
11. M. Sastrohanjoyo 1948 sampai 1954. Jaman Presiden Soekarno.
12. RT Boedjonagoro 1954 sampai 1960. Jaman Presiden Soekarno.
13. Suali Dwijosukanto 1960 sampai 1964. Jaman Presiden Soekarno.
14. Letkol Soebani 1964 sampai 1972. Jaman Presiden Soekarno.
15. Letkol Soekardjo 1972 sampai 1979. Jaman Presiden Soeharto.
16. Letkol Thohir 1979 sampai 1984. Jaman Presiden Soeharto.
18. S. Makgalantung 1994 sampai 1999. Jaman Presiden Soeharto.
19. Setiawan Sadono 1999 sampai 2000. Jaman Presiden Gus Dur.
20. Dr Djaka Sriyanta 2000 sampai 2005. Wakil Bupati KH Habib Masturi. Jaman Presiden Megawati.
21. Drs. Sri Mulyanto 2005 sampai 2010. Wakil Bupati Seno Samudro. Jaman Presiden SBY.
22. Seno Samudro 2010 sampai 2020. Jaman Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo.
Ajaran Kyai Yasadipura menjadi pandam pandom panduming dumsdi. Kabupaten Boyolali memiliki sejarah yang sepuh wutuh tangguh ampuh dan berpengaruh. Generasi sekarang tinggal melanjutkan perjuangan para leluhur.
Gomrojog banyu bening. Tuking gunung umbul Cokro Pengging. Mili ngetan tumuju kali Larangan. Kartasura Surakarta. Sakbanjure mili neng bengawan gedhe.
Kyai Yasadipura pujangga Karaton Surakarta Hadiningrat. Karya karyanya dibaca oleh budayawan Jawa sepanjang masa. Sebagai sarana untuk ngangsu kawruh, murih padhanging sasmita.
(LM-01)







