Pada masa pemerintahan Inggris 1811-1816, Gubernur Jenderal Inggris saat VOC masih berkuasa, Rafles, sangat memperbaiki kesehatan rakyat. Dengan motto ‘kesehatan adalah milik manusia’
Dengan dukungan Sinuwun Paku Buwana IV raja Surakarta Hadiningrat, pada waktu itu telah diadakan usaha dalam memelihara kesehatan antaranya usaha pengadaan pencacaran secara umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan memperbaiki kesehatan pada para tawanan.
Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia pada jaman penjajah Inggris, kegiatan kesehatan diutamakan untuk orang orang pengusaha yang bekerja di pemerintahan maupun swasta. Semua itu untuk kepentingan pihak investor.
Pihak pemerintah juga mendirikan rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk membantu sesama , tapi di sisi lain rumah sakit juga sebagai sumber utama kesehatan di kota besar. Maka dari itu dipastikan ada benang merah dengan rumah sakit yang ada di daerah terpencil, seperti di Kertosono maupun di Nganjuk. Dengan luasnya kekuasaan Belanda di Jawa dan banyaknya pembangunan pabrik gula, pemerintah kolonial membuat klinik maupun rumah sakit untuk kebutuhan pemerin-tah dan pekerja pabrik. Secara bertahap klinik maupun rumah sakit yang kecil menjadi besar mengikuti jaman, karena kebu-tuhan kesehatan masyarakat.
Pada tahun 1851 seorang dokter Belanda Dr. W. Bosch mendirikan pendidikan bagi perempuan Jawa di Batavia. Pendidikan ini tidak terlalu lama karena adanya budaya Jawa yang melarang bagi kaum wanita keluar dari rumah.
Pada tahun 1902 dibuka lagi sekolah kebidanan bagi wanita Jawa (Batavia), dan dibuka lagi di Makasar pada tahun1904. Lulusan dari sekolah tersebut juga dipekerjakan di rumah sakit militer dan diberi upah sebesar 15-25 Golden per bulan, kemudian dinaikkan sebesar 40 golden sebesar per bulan pada tahun 1922.
Tahun 1911-1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di RSUP Semarang dan Batavia. Calon yang diterima wanita, pertama di bagian perawat wanita. Lulusannya dapat meneruskan kependidikan kebidanan 2 tahun.
Pada tahun 1914 Budi Kemuliaan membuka RS bersalin dan pendidikan bidan. Murid-muridya berasal dari juru rawat wanita pendidikan 2 tahun. Pada tahun 1935-1938 pemerintah mulai mendidik bidan lulusan MULO setingkat SMP bagian B dan hampir bersamaan dibuka pendidikan kebidanan di beberapa kota.
Sekolah dokter mendasari berdirinya klinik dan rumah sakit di Indonesia, salah satunya rumah sakit Kertosono. Pendidikan Dokter jaman Belanda berpengaruh pada klinik dan rumah sakit jaman Karaton Surakarta Hadiningrat sampai tahun 1950.
Pada tanggal 2 Januri 1849 di Batavia didirikan sekolah dokter (dokter Jawa School). Direktur yang diangkat adalah Dr P. Bleker dan pembantu yang berasal dari keluarganya. Siswa yang pertama hanya berjumlah 12 orang, berasal dari para pemuda Jawa.
Para pemuda tersebut berasal dari keluarga baik-baik dan tidak cacat di pemerintahan. Pemuda yang masuk kedokteran hanya anak yang bisa menulis, baca bahasa Melayu dan umurnya 15 sampai 16 tahun. Tujuan pendidikan Dokter Jawa tersebut adalah mendidik murid menjadi juru cacar atau mantri cacar, agar dapat memberikan sekedar pertolongan pada penyakit, seperti demam dan usus.
Sinuwun Paku Buwana VII memberi dukungan finansial atas diselenggarakan pendidikan medis. Pada tahun 1856 sekolah kedokteran titel Dokter Jawa. Para lulusan Dokter selain membantu masyarakat juga membantu pemerintah.
Pada Tahun 1858 pendidikan sekolah kedokteran Jawa menerima siswa dari Sumatra dan Sulawesi.
Kabupaten Nganjuk masuk wilayah Kraton Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwana IX. Pada tahun 1864 pendidikan sekolah kedokteran hanya 3 tahun dan 27 bidang pelajaran agar hasil memuaskan dan lulusan dokter yang terbaik.
Pada tahun 1875 pendidikan sekolah kedokteran selama 7 tahun, menjadi 2 bagian persiapan dan 5 tahun bagian, lulusan yang memuaskan.
Pada tahun 1818 sekolah kedokteran diperpanjang menjadi 9 tahun, tahapan 3 tahun untuk persiapan dan 6 tahun pembagian dokter.
Pada tahun 1913 sekolah STOVIA bertambah menjadi 10 tahun dan terbagi 3 bagian 7 tahun persiapan. Sedangkan lulu-san dari sekolah dokter disebut Indische Arts. Pada tahun yang sama dibuka sekolah kedokteran dengan nama NIAS (Nederlands Indische Artsen School) di Surabaya.
Pada tahun 1919 didirikan rumah sakit pusat CBS (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis). Kemudian dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA.
– Pada tanggal 5 Juli 1920 fasilitas kedokteran dipindah di ge-dung pendidikan yang baru di jalan Salemba no. 6. Pendi-ldikan kedokteran diganti nama Geneskundige Hooge School atau GHS dan Pendidikan selama 7 tahun (Faculty of Medicine, Airlangga University)
Bupati selaku pimpinan di daerah Nganjuk memandang masa silam dengan objektif. Warisan baik hendaknya diteruskan, sedangkan hal hal yang kurang menguntungkan bisa ditinggalkan. Dari masa ke masa dengan menengok perjalanan masa lalu, RSUD Kertosono berusaha meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat.
Peningkatan mutu SDM dilakukan dengan cara pendidikan dan pelatihan secara terprogram. Tidak segan segan pimpinan RSUD Kertosono mengundang para pakar misalnya Purwadi, Aries Trio Effendy, Damari, Rudy Handoko, Moh. Syifa dan Laksomono Pratiknyo untuk diajak berdiskusi tentang beragam tema.
D. Pelayanan Kesehatan Masa Tahun 1942.
Pada awal tahun 1942, rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia diserahkan ke pihak Indo-nesia. Saat berada di pihak Indonesia, nama nama rumah sakit diganti dengan nama Indonesia. Pada jaman Jepang sendiri tidak ada orang yang menjadi pegawai di rumah sakit, jika ada bisa dihitung.
Menurut Winslow (1920) kesehatan masyarakat (Public Health) adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpan-jang hidup, meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha organisasi masyarakat salah satunya dengan cara perbaikan sanitasi, pemberantasan penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganiasasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosa dini dan pengobatan.
Tujuan pemerintah militer di Indonesia adalah untuk mendapatkan bahan baku guna memenuhi kebutuhan perang. Sasaran utama dari eksploitasinya di Indonesia adalah hasil-hasil pertanian dan tenaga kerja. Jaman Jepang ditandai dengan peralihan kekuasaan.
Hal itu merupakan pertanda bahwa sejak itulah militer berkuasa di tanah Indonesia. Militer Jepang membagi 3 wilayah antara lain Jawa, Madura, Sumatra. Di Jawa letaknya sangat strategis dan menjanjikan terhadap perjuangan Jepang sekaligus untuk mendanai militer Jepang maupun negaranya. Selain itu ju-ga untuk menyusun rencana mengerahkan ekonomi dan propaganda lainnya.
Dalam perang ini tidak jauh hubugannya dengan kesehatan, sehingga militer mengajak para perawat yang sangat berpengalaman untuk bekerjasama membantu para dokter (Hojoi). Jaman itu disebut pancaroba, karena adanya tindakan yang dilakukan terhadap rakyat pribumi, yang mengakibatkan kurangnya makanan pokok dan kesehatan lingkungan sekitarnya.
Masa itu juga banyak penyakit yang menjangkiti rakyat, banyak sekali penyakit menular.
Begitu juga di daerah Kabupaten Nganjuk ketika itu masuk di daerah Ngetos banyak pekerja yang mendapat pelayanan kesehatan dari penguasa.
Daerah Kertosono juga tidak lepas dari kekuasaan, yang mana rumah sakit juga diduduki dan dikuasai. Rumah sakit khusus untuk orang-orang. Sedangkan orang pribumi bisa berobat di rumah sakit Kertosono. Hal itu terbalik pada masa pendudukan kolonial, minimal masih ada pelayanan kesehatan walaupun hal itu sangat minim diketahui oleh masyarakat setempat. Walaupun di daerah Nganjuk maupun di sekitar Kertosono sudah ada klinik kecil namun belum bisa menjangkau masyarakat pedalaman.
Klinik kesehatan tersebut sangat berarti penting bagi masyarakat pada umumnya. Salah satu rumah sakit di Surabaya sempat dikuasai militer. Keadaan mempersempit gerak para dokter dan mengurangi praktek maupun tempat atau ruangan rumah sakit, hal itu mempersulit pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.
Pada masa itu bidang keperawatan mengalami kemunduran, dunia keperawatan di Indonesia mengalami jaman kegelapan. Tugas keperawatan dilakukan oleh orang-orang tidak berpendidikan. Tidak jauh berbeda dengan rumah sakit Kertosono.
Rumah sakit sempat bergejolak, alasannya banyak para dokter dipecat dan para perawat dikelu-arkan karena tidak menurut perintah militer. Menurut salah satu mantan staf dan perawat rumah sakit Kertosono, saat itu dalam waktu singkat banyak perawat maupun petugas rumah sakit yang asal diangkat walaupun tidak memiliki ijasah keperawatan maupun sekolah kesehatan. Maka dari itu pelayanan di rumah sakit pada masa itu tidak terkontrol.
Banyak orang sakit yang tidak tertangani dan banyak penyakit yang mewabah ke masyarakat. Untuk menindaklanjuti hal tersebut sebuah komite pendidikan segera dibentuk untuk mengembangkan kurikulum pendidikan dokter, sekaligus promosi staf pengajar untuk jadi dosen, asisten dosen dan guru besar.
Handles Veringing Amsterdam (HVA) mulai dihapus ketika pendudukan militer di Jawa dan Sumatra pada tahun 1943 sampai 1945. Setelah itu klinik HVA diganti dengan nama klinik umum, masa itu sudah dikerjakan oleh orang-orang pribumi dan diawasi oleh pemerintahan.
Klinik HVA Nganjuk dan Kertosono pun dihapus ketika menguasai kedua kota tersebut. Salah satunya HVA dan pabrik gula dikuasai dan digunakan oleh tentara di Kertosono. Pada tanggal 16 Oktober 1945 keluar dari kota Kertosono, sedangkan para tawanan dibawa ke kota Nganjuk oleh Mrs Drijsen pada tahun 1946.
Bersamaan dengan itu dibentuk komite yang terdiri dari mahasiswa di Jakarta. Komite ini mengembangkan rencana untuk menggabungkan eks GHS dan eks NIAS menjadi sekolah kedokteran selama 5 tahun.
Untuk pendidikan kedokteran dan mengganti nama sekolah menjadi Genesskundge Fakulteit, Nood, Universi Teit Van Indonesia. Masyarakat Kertosono mulai mengenal sistem baru dalam bi-dang kesehatan akibat pengaruh pendudukan Jepang.
Berangkat dari keterangan di atas, pemerintah Kabupaten Nganjuk di bawah pimpinan Bupati Taufiqurrahman menganjur-kan agar masa pendudukan Jepang itu hendaknya menjadi bahan pelajaran yang berharga. Kenyataannya RSUD Kertosono dapat melampaui cobaan pada masa-masa sulit.
Jaman tahun 1942 – 1945 tetap melakukan pelayanan kesehatan dengan melakukan aktivitas kemanusiaan. RSUD Kertosono bekerjasama dengan PMI untuk menolong korban perang. Inilah prinsip-prinsip humanistis yang hendaknya dipegang teguh oleh para pelaku medis.
Pelaku medis masa lampau sungguh berjasa. Mereka bekerja untuk rakyat. Agar hidupnya tetap segar sehat. Waras wiris ing samukawis.
(LM-01)







