Liputan KOLOM

Sejarah Rumah Sakit Kertosono Nganjuk

Ditulis oleh Liputan68 pada 26 Mei 2021 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr Purwadi M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)

A. Masa Perintisan Rumah Sakit.

Kreativitas manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya dalam organisasi sosial dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan proses simbolis. Meneliti sejarah di suatu wilayah, apalagi dikaitkaitkan dengan awal perkembangan daerah, hal itu memerlukan pendekatan yang sangat multi dimensi. Untuk bisa memahami perkembangan daerah atau tempat, sangat diperlukan pendekatan historis.

Selama rentang waktu itulah dapat dilacak perubahan demi perubahan, baik yang menyangkut nama, tempat, status dan peranan pemerintah masa dulu sampai sekarang. Kesadaran untuk memandang kehidupan pada masa lampau ini dihayati benar oleh kepala daerah beserta jajaran pemerintah Kabupaten Nganjuk.

RSUD Kertosono pada awalnya adalah rumah sakit yang didirikan oleh pemerintah. Rumah sakit ini kemudian dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit HVA yang kala itu hanya melayani para pegawai Pabrik Gula Lestari.

Sekitar tahun 1948 rumah sakit ini masih memiliki dua Direktur yaitu seorang Belanda dan seorang putera asli Indonesia yaitu dr. Marsono. Pada kenyataannya ada keterkaitan antara RSUD Kertosono ini dengan sejarah perjuangan bangsa. Karena pada sekitar 1940-an rumah sakit ini sudah berdiri meski waktu itu masih merupakan rumah sakit milik pemerintah. Ada beberapa hal yang perlu dijadikan dasar untuk menelusuri jejak RSUD Kertosono:

1. Adanya bukti tertulis atau dokumen yang tertua yang menunjukkan hubungan yang sangat historis. Sumber tertulis ini sebagai sumber utama atau sumber primer.

2. Sumber tertulis yang berupa prasasti yang paling tua yang isinya menyampaikan tentang keberadaan dan kejadian di suatu wilayah atau tempat.

3. Sumber tertulis dan lisan yang berisi tentang cerita rak-yat, legenda, mitos dan cerita rakyat yang bisa menceritakan sejarah atau cerita mengandung histori wilayah yang diteliti.

4. Selanjutnya bukti yang sangat diperlukan yaitu bangu-nan yang ada monumen, artefak, patung, benda yang bisa menunjukkan histori yang bisa memberikan infor-masi tentang keberadaan di tempat tersebut.

Maksud dan tujuan penulisan sejarah RSUD Kertosono ada-lah untuk menggali informasi sejarah RSUD serta untuk menge-tahui berdirinya atau lahirnya RSUD Kertosono. Selain itu juga untuk mengetahui perkembangan RSUD Kertosono, kelemahan-kelemahan yang dimiliki, pembenahan serta meningkatkan ki-nerja untuk menjadi lebih baik.

Sejarah RSUD Kertosono tak lepas dari peran masa lampau. Perkembangan pendidikan masa itu berkembang pesat, berawal dari kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai daerah. Maka dari itu pihak pemerintahan kolonial mendirikan sekolah-sekolah perawat dan kebidanan.

Dengan berdirinya sekolah tersebut ba-nyak pihak yang mendukung, namun kendalanya masa dulu budaya masyarakat Jawa yang melarang anak wanita keluar rumah, tapi pihak kolonial membuat program yang baik, salah satunya lulusan dari perawat nantinya dipekerjakan dan mendapat upah.

Berdirinya Handles Veringin Amsterdam (HVA) di Indonesia khusunya kota Kertosono dan Nganjuk perlu ditelusuri jejak perkembangannya.

Pada mulanya Pemerintah memmbentuk organisasi HVA (Handles Veringing Amsterdam) di daerah kekuasaan kolonial yang terdapat perusahaan perusahaan pada tahun 1873. Organisasi tersebut didirikan untuk kegiatan perdagangan, pengolahan tanah dan kebutuhan kesehatan mau-pun kebutuhan seluruh karyawan maupun program perusahaan, yang salah satunya adalah kesehatan bagi karyawan perusahaan investor.

Pada mulanya Handles Veringin Amsterdam (HVA) yang khu-susnya menangani kesehatan karyawan perusahaan, dideklara-sikan oleh para tokoh agama yang peduli dengan kesehatan di Jawa Tengah khususnya di perusahaan penggilingan tebu. Tokoh agama bekerjasama dengan penguasa pabrik untuk mendirikan klinik kesehatan yang diperlukan oleh semua karyawan.

Dengan berdirinya klinik kesehatan di sekitar perusahaan, banyak yang memanfaatkannya. Selain itu juga sudah ada klinik kesehatan yang lain namun belumbisa menyentuh rakyat kecil. Sedangkan di daerah Nganjuk sendiri ketika itu terdapat klinik HVA, juga ada klinik kesehatan umum bentukan dari pemerintah setempat.

Berkaca pada masa awal berdirinya RSUD Kertosono, maka pada tanggal 31 Mei 2014 diselenggarakan penelusuran sejarah RSUD Kertosono.

Hadir saat itu tokoh-tokoh pejabat Kertosono, seperti Slamet (mantan Sekda Nganjuk), Harimintadji (ahli seja-lrah Nganjuk) dan Yuswandi (mantan DPRD Nganjuk). Semua sepakat bahwa temu ilmiah ini bertujuan untuk menggali infor-masi sejarah RSUD, mengetahui lahirnya RSUD dan perkem-bangan RSUD Kertosono. Peserta juga membahas sisi kelemahan RSUD, sehingga dapat disusun strategi pembenahan dan pening-katan kinerja RSUD agar menjadi lebih baik dan bermutu.

B. Berdirinya Rumah Sakit.

Pada tahun 1816 sudah terdapat rumah sakit yang fungsi nya untuk berobat para anggota militer setelah berperang dengan milisi Indonesia yang ingin kemerdekaan. Grot Miliair/Hospital Weltevreden Daedel membangun rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Pada tahun 1819 rumah sakit bertambah banyak dan diperlebar di tiap daerah kadipaten.

Selain untuk rumah sakit militer juga digunakan untuk membantu para karyawan Pemerintah. Selain itu juga untuk kesehatan para karyawan pabrik gula yang ada di daerah-daerah pedalaman, dengan perjanjian dengan kerajaan Surakarta maupun Jogjakarta tentang pendirian pabrik gula di Tanah Jawa.

Khusus di Nganjuk, pabrik gula ada di desa Jati Loceret, Lestari di Patian Rowo, Baron, Kujonmanis di Tanjung Anom dan di Sukomoro (Nganjuk). Pabrik didirikan pada tahun 1830 an.

Dengan profesionalitas dalam pembangunan pabrik gula, memberikan fasilitas kesehatan bagi karyawan dan pekerja di pabrik gula tersebut. Selain untuk kesehatan karyawan juga memberikan layanan terhadap masyarakat setempat.

Semasa di daerah Kadipaten Berbek masih mengikuti aturan. Kala itu dokter kesehatan masih ikut Karesidenan Kediri.

Kadipaten Berbek masih dijabat Adipati Sosrokusumo III pada tahun 1900, dokter masih mendatangkan dari Kediri. Ketika Raden Tumenggung Sosrokusumo memeriksakan kesehatan untuk kelanjutan jabatan adipati di Berbek, Beliau menggunakan jasa dokter H.B.Van Buuren dari Karesidenan Kediri pada tahun 1900.

Pada tanggal 30 Agustus 1929 di Jawa Timur terkena wabah penyakit gondok dan cacar. Pada waktu itu dokter yang terlibat di Kabupaten Nganjuk yaitu asisten Residen Blitar yang bernama Dr.G.H. Barro. Ia menyarankan untuk menyediakan garam beryodium di 4 kota antara lain Nganjuk, Kediri, Kertosono dan Tulungagung.

Karena kekurangan garam di 4 wilayah tersebut dianggap sangat darurat, maka pemerintah kemudian bekerjasama dengan pihak swasta tahun 1892 yaitu dengan Tan Kiem Phiuw asal dari Kota Blitar, untuk mengirim garam di 4 kota yaitu Kediri, Ngan-mjuk, Kertosono dan Tulungagung. Di Kertosono sendiri terdapat gudang besar milik pemerintah untuk mengepul garam beryodi-um. Pihak pemerintah kerjasama dengan Tuan Tan Kiem Phiuw antara tahun 1892 sampai 1896.

Pemerintah Kerajaan juga membangun klinik khusus untuk klinik umum diperkirakan dekat dengan Kali Brantas. Klinik tersebut berada 50 meter arah barat tanggul Kali Brantas. Terdapat bangunan yang menyerupai bangunan kuno berciri khas seperti lambang palang merah. Bangunan tersebut dulunya digunakan Belanda kemudian dijual kepihak Cina untuk pabrik kecap. Sekarang digunakan sebagai gedung panti asuhan. Menu-rut informasi bangunan didirikan pada tahun 1915.

Pusat kesehatan pada masa lalu di Nganjuk dibagi dua, yang satu di Nganjuk bagian timur sedangkan, yang barat di dekat pabrik gula Nganjuk kota, sekarang di dekat pasar Sukomoro.

Di Nganjuk ditempatkan di daerah sekitar kadipaten Nganjuk, se dangkan bagian timur berada di Kertosono, tepatnya di Rumah Sakit Kertosono. Rumah Sakit Kertosono dulu merupakan klinik umum setelah adanya klinik HVA yang ada di pabrik gula Les-tari Kertosono. Namun bangunan sudah hilang setelah adanya agresi militer Belanda dan penghancuran oleh pihak Belanda, karena pada waktu itu klinik digunakan untuk pengobatan para prajurit Indonesia.

Sedangkan klinik di wilayah barat adalah buatan pemerintah pada masa itu yang dikelola oleh pemerintah kabupaten bekerja sama dengan dokter. Pada waktu itu pemerintah bekerja sama dengan perusahaan gula di Jati agar membantu program kesehatan masyarakat, karena banyak sekali masyarakat yang waktu itu terkena wabah penyakit menular. Begitu juga untuk rujukan bagi karyawan pabrik gula Jati untuk memeriksakan kesehatannya.

Direktur pabrik gula sendiri rumah kediamannya di kota kabupaten Nganjuk, karena itu untuk kerjasama kesehatan sangatlah tepat. Sebelumnya pejabat, masyarakat dan kar-lyawan pabrik yang akan periksa kesehatan harus pergi ke Kediri atau di HVA Kertosono.

Klinik umum mulai beroperasi mulai menguasai Kertosono, akan tetapi dokter masih dipegang. Klinik umum sendiri belum aktif seperti biasanya karena situasi belum aman.

Menurut saksi mata dan pelaku sejarah, Kertosono tahun 1943 banyak masyarakat yang berobat tapi pelayanan tidak bisa baik karena banyak karyawan klinik yang keluar. Para perawat berasal dari pribumi atau perawat Jawa. Sedangkan bangunan yang masih ada di rumah sakit dibangun. Bangunan klinik sendiri sudah tidak ada kurang lebih pada tahun 1940.

Bangunan rumah sakit yang baru didirikan setelah adanya perubahan klinik HVA dan sudah tidak memadai tempat pelayanannya.

Sejak berdirinya hingga saat ini, RSUD Kertosono senantiasa belajar pada masa silam demi kemajuan pada masa depan. Sung-guh mengagumkan, semangat belajar para generasi dahulu.

Prestasi gemilang dicapai oleh RSUD Kertosono yang membanggakan warganya. Pada tahun 2012 RSUD Kertosono terakreditasi 5 pelayanan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit). Semangat untuk maju itulah yang mendorong dr. Agus Pribadi yang dibantu oleh dr. Laksomono Pratignjo serta Mulyono agar RSUD Kertosono semakin berwibawa dan disegani.

C. Pelayanan Kesehatan Jaman Kerajaan.

Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat dalam perkembangan global dibagi dalam beberapa era yaitu era kesehatan empirik tahun 1850, era ilmu dasar tahun 1850-1900, era perkembangan klinik tahun 1900-1950 dan era kesehatan masyarakat tahun 1950 sampai masa kepemimpinan kepala daerah.

Bupati mempunyai pandangan yang sangat bagus terkait dengan strategi agar RSUD Kertosono ber-tambah maju dan modern. Oleh karena itu perlu dilacak perkem-bangan model pelayanan kesehatan dari masa ke masa dengan wawasan historis.

Pada masa Pemerintahan Karaton Surakarta Hadiningrat, perawat diambil dari Indonesia (Bumi Putra) yang disebut Verplager dan dibantu oleh Zieken Oppeseryang bertugas sebagai penjaga orang sakit.

Perawat pertama kali bekerja di rumah sakit Binnen Hospital yang terletak di Batavia (Jakarta) tahun 1641 yang bertugas untuk memelihara kesehatan staf dan tentara , sehingga pada masa Belanda terbentuk dinas kesehatan tentara dan dinas kesehatan rakyat, mengingat tujuan rumah sakit hanya untuk kepentingan Belanda. Selanjutnya tahun 1888 rumah sakit ter-lsebut dibubarkan seiring dibubarkannya VOC dan berganti pemerintahan.

Pada masa pemerintahan Inggris 1811-1816, Gubernur Jenderal Inggris saat VOC masih berkuasa, Rafles, sangat memperbaiki kesehatan rakyat. Dengan motto ‘kesehatan adalah milik manusia’

Dengan dukungan Sinuwun Paku Buwana IV raja Surakarta Hadiningrat, pada waktu itu telah diadakan usaha dalam memelihara kesehatan antaranya usaha pengadaan pencacaran secara umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa dan memperbaiki kesehatan pada para tawanan.

Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat di Indonesia pada jaman penjajah Inggris, kegiatan kesehatan diutamakan untuk orang orang pengusaha yang bekerja di pemerintahan maupun swasta. Semua itu untuk kepentingan pihak investor.

Pihak pemerintah juga mendirikan rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya untuk membantu sesama , tapi di sisi lain rumah sakit juga sebagai sumber utama kesehatan di kota besar. Maka dari itu dipastikan ada benang merah dengan rumah sakit yang ada di daerah terpencil, seperti di Kertosono maupun di Nganjuk. Dengan luasnya kekuasaan Belanda di Jawa dan banyaknya pembangunan pabrik gula, pemerintah kolonial membuat klinik maupun rumah sakit untuk kebutuhan pemerin-tah dan pekerja pabrik. Secara bertahap klinik maupun rumah sakit yang kecil menjadi besar mengikuti jaman, karena kebu-tuhan kesehatan masyarakat.

Pada tahun 1851 seorang dokter Belanda Dr. W. Bosch mendirikan pendidikan bagi perempuan Jawa di Batavia. Pendidikan ini tidak terlalu lama karena adanya budaya Jawa yang melarang bagi kaum wanita keluar dari rumah.

Pada tahun 1902 dibuka lagi sekolah kebidanan bagi wanita Jawa (Batavia), dan dibuka lagi di Makasar pada tahun1904. Lulusan dari sekolah tersebut juga dipekerjakan di rumah sakit militer dan diberi upah sebesar 15-25 Golden per bulan, kemudian dinaikkan sebesar 40 golden sebesar per bulan pada tahun 1922.

Tahun 1911-1912 dimulai pendidikan tenaga keperawatan secara terencana di RSUP Semarang dan Batavia. Calon yang diterima wanita, pertama di bagian perawat wanita. Lulusannya dapat meneruskan kependidikan kebidanan 2 tahun.

Pada tahun 1914 Budi Kemuliaan membuka RS bersalin dan pendidikan bidan. Murid-muridya berasal dari juru rawat wanita pendidikan 2 tahun. Pada tahun 1935-1938 pemerintah mulai mendidik bidan lulusan MULO setingkat SMP bagian B dan hampir bersamaan dibuka pendidikan kebidanan di beberapa kota.

Sekolah dokter mendasari berdirinya klinik dan rumah sakit di Indonesia, salah satunya rumah sakit Kertosono. Pendidikan Dokter jaman Belanda berpengaruh pada klinik dan rumah sakit jaman Karaton Surakarta Hadiningrat sampai tahun 1950.

Pada tanggal 2 Januri 1849 di Batavia didirikan sekolah dokter (dokter Jawa School). Direktur yang diangkat adalah Dr P. Bleker dan pembantu yang berasal dari keluarganya. Siswa yang pertama hanya berjumlah 12 orang, berasal dari para pemuda Jawa.

Para pemuda tersebut berasal dari keluarga baik-baik dan tidak cacat di pemerintahan. Pemuda yang masuk kedokteran hanya anak yang bisa menulis, baca bahasa Melayu dan umurnya 15 sampai 16 tahun. Tujuan pendidikan Dokter Jawa tersebut adalah mendidik murid menjadi juru cacar atau mantri cacar, agar dapat memberikan sekedar pertolongan pada penyakit, seperti demam dan usus.

Sinuwun Paku Buwana VII memberi dukungan finansial atas diselenggarakan pendidikan medis. Pada tahun 1856 sekolah kedokteran titel Dokter Jawa. Para lulusan Dokter selain membantu masyarakat juga membantu pemerintah.

Pada Tahun 1858 pendidikan sekolah kedokteran Jawa menerima siswa dari Sumatra dan Sulawesi.

Kabupaten Nganjuk masuk wilayah Kraton Surakarta Hadiningrat. Rajanya Sinuwun Paku Buwana IX. Pada tahun 1864 pendidikan sekolah kedokteran hanya 3 tahun dan 27 bidang pelajaran agar hasil memuaskan dan lulusan dokter yang terbaik.

Pada tahun 1875 pendidikan sekolah kedokteran selama 7 tahun, menjadi 2 bagian persiapan dan 5 tahun bagian, lulusan yang memuaskan.

Pada tahun 1818 sekolah kedokteran diperpanjang menjadi 9 tahun, tahapan 3 tahun untuk persiapan dan 6 tahun pembagian dokter.

Pada tahun 1913 sekolah STOVIA bertambah menjadi 10 tahun dan terbagi 3 bagian 7 tahun persiapan. Sedangkan lulu-san dari sekolah dokter disebut Indische Arts. Pada tahun yang sama dibuka sekolah kedokteran dengan nama NIAS (Nederlands Indische Artsen School) di Surabaya.

Pada tahun 1919 didirikan rumah sakit pusat CBS (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis). Kemudian dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA.

– Pada tanggal 5 Juli 1920 fasilitas kedokteran dipindah di ge-dung pendidikan yang baru di jalan Salemba no. 6. Pendi-ldikan kedokteran diganti nama Geneskundige Hooge School atau GHS dan Pendidikan selama 7 tahun (Faculty of Medicine, Airlangga University)

Bupati selaku pimpinan di daerah Nganjuk memandang masa silam dengan objektif. Warisan baik hendaknya diteruskan, sedangkan hal hal yang kurang menguntungkan bisa ditinggalkan. Dari masa ke masa dengan menengok perjalanan masa lalu, RSUD Kertosono berusaha meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Peningkatan mutu SDM dilakukan dengan cara pendidikan dan pelatihan secara terprogram. Tidak segan segan pimpinan RSUD Kertosono mengundang para pakar misalnya Purwadi, Aries Trio Effendy, Damari, Rudy Handoko, Moh. Syifa dan Laksomono Pratiknyo untuk diajak berdiskusi tentang beragam tema.

D. Pelayanan Kesehatan Masa Tahun 1942.

Pada awal tahun 1942, rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia diserahkan ke pihak Indo-nesia. Saat berada di pihak Indonesia, nama nama rumah sakit diganti dengan nama Indonesia. Pada jaman Jepang sendiri tidak ada orang yang menjadi pegawai di rumah sakit, jika ada bisa dihitung.

Menurut Winslow (1920) kesehatan masyarakat (Public Health) adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpan-jang hidup, meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha organisasi masyarakat salah satunya dengan cara perbaikan sanitasi, pemberantasan penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganiasasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosa dini dan pengobatan.

Tujuan pemerintah militer di Indonesia adalah untuk mendapatkan bahan baku guna memenuhi kebutuhan perang. Sasaran utama dari eksploitasinya di Indonesia adalah hasil-hasil pertanian dan tenaga kerja. Jaman Jepang ditandai dengan peralihan kekuasaan.

Hal itu merupakan pertanda bahwa sejak itulah militer berkuasa di tanah Indonesia. Militer Jepang membagi 3 wilayah antara lain Jawa, Madura, Sumatra. Di Jawa letaknya sangat strategis dan menjanjikan terhadap perjuangan Jepang sekaligus untuk mendanai militer Jepang maupun negaranya. Selain itu ju-ga untuk menyusun rencana mengerahkan ekonomi dan propaganda lainnya.

Dalam perang ini tidak jauh hubugannya dengan kesehatan, sehingga militer mengajak para perawat yang sangat berpengalaman untuk bekerjasama membantu para dokter (Hojoi). Jaman itu disebut pancaroba, karena adanya tindakan yang dilakukan terhadap rakyat pribumi, yang mengakibatkan kurangnya makanan pokok dan kesehatan lingkungan sekitarnya.

Masa itu juga banyak penyakit yang menjangkiti rakyat, banyak sekali penyakit menular.
Begitu juga di daerah Kabupaten Nganjuk ketika itu masuk di daerah Ngetos banyak pekerja yang mendapat pelayanan kesehatan dari penguasa.

Daerah Kertosono juga tidak lepas dari kekuasaan, yang mana rumah sakit juga diduduki dan dikuasai. Rumah sakit khusus untuk orang-orang. Sedangkan orang pribumi bisa berobat di rumah sakit Kertosono. Hal itu terbalik pada masa pendudukan kolonial, minimal masih ada pelayanan kesehatan walaupun hal itu sangat minim diketahui oleh masyarakat setempat. Walaupun di daerah Nganjuk maupun di sekitar Kertosono sudah ada klinik kecil namun belum bisa menjangkau masyarakat pedalaman.

Klinik kesehatan tersebut sangat berarti penting bagi masyarakat pada umumnya. Salah satu rumah sakit di Surabaya sempat dikuasai militer. Keadaan mempersempit gerak para dokter dan mengurangi praktek maupun tempat atau ruangan rumah sakit, hal itu mempersulit pelayanan kesehatan terhadap masyarakat.

Pada masa itu bidang keperawatan mengalami kemunduran, dunia keperawatan di Indonesia mengalami jaman kegelapan. Tugas keperawatan dilakukan oleh orang-orang tidak berpendidikan. Tidak jauh berbeda dengan rumah sakit Kertosono.

Rumah sakit sempat bergejolak, alasannya banyak para dokter dipecat dan para perawat dikelu-arkan karena tidak menurut perintah militer. Menurut salah satu mantan staf dan perawat rumah sakit Kertosono, saat itu dalam waktu singkat banyak perawat maupun petugas rumah sakit yang asal diangkat walaupun tidak memiliki ijasah keperawatan maupun sekolah kesehatan. Maka dari itu pelayanan di rumah sakit pada masa itu tidak terkontrol.

Banyak orang sakit yang tidak tertangani dan banyak penyakit yang mewabah ke masyarakat. Untuk menindaklanjuti hal tersebut sebuah komite pendidikan segera dibentuk untuk mengembangkan kurikulum pendidikan dokter, sekaligus promosi staf pengajar untuk jadi dosen, asisten dosen dan guru besar.

Handles Veringing Amsterdam (HVA) mulai dihapus ketika pendudukan militer di Jawa dan Sumatra pada tahun 1943 sampai 1945. Setelah itu klinik HVA diganti dengan nama klinik umum, masa itu sudah dikerjakan oleh orang-orang pribumi dan diawasi oleh pemerintahan.

Klinik HVA Nganjuk dan Kertosono pun dihapus ketika menguasai kedua kota tersebut. Salah satunya HVA dan pabrik gula dikuasai dan digunakan oleh tentara di Kertosono. Pada tanggal 16 Oktober 1945 keluar dari kota Kertosono, sedangkan para tawanan dibawa ke kota Nganjuk oleh Mrs Drijsen pada tahun 1946.

Bersamaan dengan itu dibentuk komite yang terdiri dari mahasiswa di Jakarta. Komite ini mengembangkan rencana untuk menggabungkan eks GHS dan eks NIAS menjadi sekolah kedokteran selama 5 tahun.

Untuk pendidikan kedokteran dan mengganti nama sekolah menjadi Genesskundge Fakulteit, Nood, Universi Teit Van Indonesia. Masyarakat Kertosono mulai mengenal sistem baru dalam bi-dang kesehatan akibat pengaruh pendudukan Jepang.

Berangkat dari keterangan di atas, pemerintah Kabupaten Nganjuk di bawah pimpinan Bupati Taufiqurrahman menganjur-kan agar masa pendudukan Jepang itu hendaknya menjadi bahan pelajaran yang berharga. Kenyataannya RSUD Kertosono dapat melampaui cobaan pada masa-masa sulit.

Jaman tahun 1942 – 1945 tetap melakukan pelayanan kesehatan dengan melakukan aktivitas kemanusiaan. RSUD Kertosono bekerjasama dengan PMI untuk menolong korban perang. Inilah prinsip-prinsip humanistis yang hendaknya dipegang teguh oleh para pelaku medis.

Pelaku medis masa lampau sungguh berjasa. Mereka bekerja untuk rakyat. Agar hidupnya tetap segar sehat. Waras wiris ing samukawis.

(LM-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian