Oleh: Dr Purwadi M.Hum
(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA, hp. 087864404347)
A. Masa Perintisan Rumah Sakit.
Kreativitas manusia sepanjang sejarah meliputi banyak kegiatan, di antaranya dalam organisasi sosial dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan proses simbolis. Meneliti sejarah di suatu wilayah, apalagi dikaitkaitkan dengan awal perkembangan daerah, hal itu memerlukan pendekatan yang sangat multi dimensi. Untuk bisa memahami perkembangan daerah atau tempat, sangat diperlukan pendekatan historis.
Selama rentang waktu itulah dapat dilacak perubahan demi perubahan, baik yang menyangkut nama, tempat, status dan peranan pemerintah masa dulu sampai sekarang. Kesadaran untuk memandang kehidupan pada masa lampau ini dihayati benar oleh kepala daerah beserta jajaran pemerintah Kabupaten Nganjuk.
RSUD Kertosono pada awalnya adalah rumah sakit yang didirikan oleh pemerintah. Rumah sakit ini kemudian dialihfungsikan menjadi Rumah Sakit HVA yang kala itu hanya melayani para pegawai Pabrik Gula Lestari.
Sekitar tahun 1948 rumah sakit ini masih memiliki dua Direktur yaitu seorang Belanda dan seorang putera asli Indonesia yaitu dr. Marsono. Pada kenyataannya ada keterkaitan antara RSUD Kertosono ini dengan sejarah perjuangan bangsa. Karena pada sekitar 1940-an rumah sakit ini sudah berdiri meski waktu itu masih merupakan rumah sakit milik pemerintah. Ada beberapa hal yang perlu dijadikan dasar untuk menelusuri jejak RSUD Kertosono:
1. Adanya bukti tertulis atau dokumen yang tertua yang menunjukkan hubungan yang sangat historis. Sumber tertulis ini sebagai sumber utama atau sumber primer.
2. Sumber tertulis yang berupa prasasti yang paling tua yang isinya menyampaikan tentang keberadaan dan kejadian di suatu wilayah atau tempat.
3. Sumber tertulis dan lisan yang berisi tentang cerita rak-yat, legenda, mitos dan cerita rakyat yang bisa menceritakan sejarah atau cerita mengandung histori wilayah yang diteliti.
4. Selanjutnya bukti yang sangat diperlukan yaitu bangu-nan yang ada monumen, artefak, patung, benda yang bisa menunjukkan histori yang bisa memberikan infor-masi tentang keberadaan di tempat tersebut.
Maksud dan tujuan penulisan sejarah RSUD Kertosono ada-lah untuk menggali informasi sejarah RSUD serta untuk menge-tahui berdirinya atau lahirnya RSUD Kertosono. Selain itu juga untuk mengetahui perkembangan RSUD Kertosono, kelemahan-kelemahan yang dimiliki, pembenahan serta meningkatkan ki-nerja untuk menjadi lebih baik.
Sejarah RSUD Kertosono tak lepas dari peran masa lampau. Perkembangan pendidikan masa itu berkembang pesat, berawal dari kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai daerah. Maka dari itu pihak pemerintahan kolonial mendirikan sekolah-sekolah perawat dan kebidanan.
Dengan berdirinya sekolah tersebut ba-nyak pihak yang mendukung, namun kendalanya masa dulu budaya masyarakat Jawa yang melarang anak wanita keluar rumah, tapi pihak kolonial membuat program yang baik, salah satunya lulusan dari perawat nantinya dipekerjakan dan mendapat upah.
Berdirinya Handles Veringin Amsterdam (HVA) di Indonesia khusunya kota Kertosono dan Nganjuk perlu ditelusuri jejak perkembangannya.
Pada mulanya Pemerintah memmbentuk organisasi HVA (Handles Veringing Amsterdam) di daerah kekuasaan kolonial yang terdapat perusahaan perusahaan pada tahun 1873. Organisasi tersebut didirikan untuk kegiatan perdagangan, pengolahan tanah dan kebutuhan kesehatan mau-pun kebutuhan seluruh karyawan maupun program perusahaan, yang salah satunya adalah kesehatan bagi karyawan perusahaan investor.
Pada mulanya Handles Veringin Amsterdam (HVA) yang khu-susnya menangani kesehatan karyawan perusahaan, dideklara-sikan oleh para tokoh agama yang peduli dengan kesehatan di Jawa Tengah khususnya di perusahaan penggilingan tebu. Tokoh agama bekerjasama dengan penguasa pabrik untuk mendirikan klinik kesehatan yang diperlukan oleh semua karyawan.
Dengan berdirinya klinik kesehatan di sekitar perusahaan, banyak yang memanfaatkannya. Selain itu juga sudah ada klinik kesehatan yang lain namun belumbisa menyentuh rakyat kecil. Sedangkan di daerah Nganjuk sendiri ketika itu terdapat klinik HVA, juga ada klinik kesehatan umum bentukan dari pemerintah setempat.
Berkaca pada masa awal berdirinya RSUD Kertosono, maka pada tanggal 31 Mei 2014 diselenggarakan penelusuran sejarah RSUD Kertosono.
Hadir saat itu tokoh-tokoh pejabat Kertosono, seperti Slamet (mantan Sekda Nganjuk), Harimintadji (ahli seja-lrah Nganjuk) dan Yuswandi (mantan DPRD Nganjuk). Semua sepakat bahwa temu ilmiah ini bertujuan untuk menggali infor-masi sejarah RSUD, mengetahui lahirnya RSUD dan perkem-bangan RSUD Kertosono. Peserta juga membahas sisi kelemahan RSUD, sehingga dapat disusun strategi pembenahan dan pening-katan kinerja RSUD agar menjadi lebih baik dan bermutu.
B. Berdirinya Rumah Sakit.
Pada tahun 1816 sudah terdapat rumah sakit yang fungsi nya untuk berobat para anggota militer setelah berperang dengan milisi Indonesia yang ingin kemerdekaan. Grot Miliair/Hospital Weltevreden Daedel membangun rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya. Pada tahun 1819 rumah sakit bertambah banyak dan diperlebar di tiap daerah kadipaten.
Selain untuk rumah sakit militer juga digunakan untuk membantu para karyawan Pemerintah. Selain itu juga untuk kesehatan para karyawan pabrik gula yang ada di daerah-daerah pedalaman, dengan perjanjian dengan kerajaan Surakarta maupun Jogjakarta tentang pendirian pabrik gula di Tanah Jawa.
Khusus di Nganjuk, pabrik gula ada di desa Jati Loceret, Lestari di Patian Rowo, Baron, Kujonmanis di Tanjung Anom dan di Sukomoro (Nganjuk). Pabrik didirikan pada tahun 1830 an.
Dengan profesionalitas dalam pembangunan pabrik gula, memberikan fasilitas kesehatan bagi karyawan dan pekerja di pabrik gula tersebut. Selain untuk kesehatan karyawan juga memberikan layanan terhadap masyarakat setempat.
Semasa di daerah Kadipaten Berbek masih mengikuti aturan. Kala itu dokter kesehatan masih ikut Karesidenan Kediri.
Kadipaten Berbek masih dijabat Adipati Sosrokusumo III pada tahun 1900, dokter masih mendatangkan dari Kediri. Ketika Raden Tumenggung Sosrokusumo memeriksakan kesehatan untuk kelanjutan jabatan adipati di Berbek, Beliau menggunakan jasa dokter H.B.Van Buuren dari Karesidenan Kediri pada tahun 1900.
Pada tanggal 30 Agustus 1929 di Jawa Timur terkena wabah penyakit gondok dan cacar. Pada waktu itu dokter yang terlibat di Kabupaten Nganjuk yaitu asisten Residen Blitar yang bernama Dr.G.H. Barro. Ia menyarankan untuk menyediakan garam beryodium di 4 kota antara lain Nganjuk, Kediri, Kertosono dan Tulungagung.
Karena kekurangan garam di 4 wilayah tersebut dianggap sangat darurat, maka pemerintah kemudian bekerjasama dengan pihak swasta tahun 1892 yaitu dengan Tan Kiem Phiuw asal dari Kota Blitar, untuk mengirim garam di 4 kota yaitu Kediri, Ngan-mjuk, Kertosono dan Tulungagung. Di Kertosono sendiri terdapat gudang besar milik pemerintah untuk mengepul garam beryodi-um. Pihak pemerintah kerjasama dengan Tuan Tan Kiem Phiuw antara tahun 1892 sampai 1896.
Pemerintah Kerajaan juga membangun klinik khusus untuk klinik umum diperkirakan dekat dengan Kali Brantas. Klinik tersebut berada 50 meter arah barat tanggul Kali Brantas. Terdapat bangunan yang menyerupai bangunan kuno berciri khas seperti lambang palang merah. Bangunan tersebut dulunya digunakan Belanda kemudian dijual kepihak Cina untuk pabrik kecap. Sekarang digunakan sebagai gedung panti asuhan. Menu-rut informasi bangunan didirikan pada tahun 1915.
Pusat kesehatan pada masa lalu di Nganjuk dibagi dua, yang satu di Nganjuk bagian timur sedangkan, yang barat di dekat pabrik gula Nganjuk kota, sekarang di dekat pasar Sukomoro.
Di Nganjuk ditempatkan di daerah sekitar kadipaten Nganjuk, se dangkan bagian timur berada di Kertosono, tepatnya di Rumah Sakit Kertosono. Rumah Sakit Kertosono dulu merupakan klinik umum setelah adanya klinik HVA yang ada di pabrik gula Les-tari Kertosono. Namun bangunan sudah hilang setelah adanya agresi militer Belanda dan penghancuran oleh pihak Belanda, karena pada waktu itu klinik digunakan untuk pengobatan para prajurit Indonesia.
Sedangkan klinik di wilayah barat adalah buatan pemerintah pada masa itu yang dikelola oleh pemerintah kabupaten bekerja sama dengan dokter. Pada waktu itu pemerintah bekerja sama dengan perusahaan gula di Jati agar membantu program kesehatan masyarakat, karena banyak sekali masyarakat yang waktu itu terkena wabah penyakit menular. Begitu juga untuk rujukan bagi karyawan pabrik gula Jati untuk memeriksakan kesehatannya.
Direktur pabrik gula sendiri rumah kediamannya di kota kabupaten Nganjuk, karena itu untuk kerjasama kesehatan sangatlah tepat. Sebelumnya pejabat, masyarakat dan kar-lyawan pabrik yang akan periksa kesehatan harus pergi ke Kediri atau di HVA Kertosono.
Klinik umum mulai beroperasi mulai menguasai Kertosono, akan tetapi dokter masih dipegang. Klinik umum sendiri belum aktif seperti biasanya karena situasi belum aman.
Menurut saksi mata dan pelaku sejarah, Kertosono tahun 1943 banyak masyarakat yang berobat tapi pelayanan tidak bisa baik karena banyak karyawan klinik yang keluar. Para perawat berasal dari pribumi atau perawat Jawa. Sedangkan bangunan yang masih ada di rumah sakit dibangun. Bangunan klinik sendiri sudah tidak ada kurang lebih pada tahun 1940.
Bangunan rumah sakit yang baru didirikan setelah adanya perubahan klinik HVA dan sudah tidak memadai tempat pelayanannya.
Sejak berdirinya hingga saat ini, RSUD Kertosono senantiasa belajar pada masa silam demi kemajuan pada masa depan. Sung-guh mengagumkan, semangat belajar para generasi dahulu.
Prestasi gemilang dicapai oleh RSUD Kertosono yang membanggakan warganya. Pada tahun 2012 RSUD Kertosono terakreditasi 5 pelayanan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit). Semangat untuk maju itulah yang mendorong dr. Agus Pribadi yang dibantu oleh dr. Laksomono Pratignjo serta Mulyono agar RSUD Kertosono semakin berwibawa dan disegani.
C. Pelayanan Kesehatan Jaman Kerajaan.
Perkembangan ilmu kesehatan masyarakat dalam perkembangan global dibagi dalam beberapa era yaitu era kesehatan empirik tahun 1850, era ilmu dasar tahun 1850-1900, era perkembangan klinik tahun 1900-1950 dan era kesehatan masyarakat tahun 1950 sampai masa kepemimpinan kepala daerah.
Bupati mempunyai pandangan yang sangat bagus terkait dengan strategi agar RSUD Kertosono ber-tambah maju dan modern. Oleh karena itu perlu dilacak perkem-bangan model pelayanan kesehatan dari masa ke masa dengan wawasan historis.
Pada masa Pemerintahan Karaton Surakarta Hadiningrat, perawat diambil dari Indonesia (Bumi Putra) yang disebut Verplager dan dibantu oleh Zieken Oppeseryang bertugas sebagai penjaga orang sakit.
Perawat pertama kali bekerja di rumah sakit Binnen Hospital yang terletak di Batavia (Jakarta) tahun 1641 yang bertugas untuk memelihara kesehatan staf dan tentara , sehingga pada masa Belanda terbentuk dinas kesehatan tentara dan dinas kesehatan rakyat, mengingat tujuan rumah sakit hanya untuk kepentingan Belanda. Selanjutnya tahun 1888 rumah sakit ter-lsebut dibubarkan seiring dibubarkannya VOC dan berganti pemerintahan.







