Pacitan dan Sinyal Politik dari Sebuah Vespa Biru, Tunggangan Wabup Gagarin
Pacitan,Liputan 68.com- Sore menurun pelan di langit Pacitan. Di halaman Pendopo Mas Tumenggung Djogokarjo, tatapan warga berbaur dengan hiruk pikuk persiapan menyambut keberangkatan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menuju Museum dan Galeri SBY-ANI.
Di antara deretan mobil dinas yang berkilat diterpa cahaya senja, tampak sebuah kendaraan yang berbeda.
Vespa klasik P 150 X warna biru dongker itu berdiri tenang, seolah menyimpan kisah. Tak lama, Wakil Bupati Pacitan, Gagarin, melangkah mendekatinya.
Ia tersenyum, menyalami beberapa warga, lalu mengenakan helm. Satu tendangan, mesin Vespa menyala lirih, menghadirkan nuansa retro yang menyita perhatian.
Dalam rombongan, Bupati Kanjeng Raden Tumenggung Indrata Nur Bayu Aji Reksonagoro sudah bersiap menuju rangkaian kunjungan kerja gubernur, dari pendopo pemerintahan menuju Museum dan Galeri SBY-ANI serta Mangrove Park di Dusun Kiteran, Desa Kembang.
Namun sore itu, sorotan tak hanya tertuju kepada prosesi penyambutan gubernur. Warga dan awak media terlihat bisik-bisik sembari mengikuti melintasnya skuter biru tersebut.
Sebagian menyebut warna itu bukan sekadar estetika. Ia identik dengan warna Partai Demokrat, partai tempat Bupati Pacitan bernaung.
Pilihan kendaraan sang wabup pun mengundang tafsir. Di tengah dinamika politik jelang kontestasi daerah, publik menilai gaya berkendara Gagarin menyimpan pesan.
Sebelumnya ia dikenal “berteduh dibawah pohon beringin yang rindang” sebagai metafora rumah politiknya. Kini, Vespa biru menghadirkan spektrum baru bagi spekulasi publik.
Gagarin tampak menikmati perjalanan. Sesekali ia melambaikan tangan menyapa warga, sementara angin sore menyapu jaketnya yang sederhana. Tak ada pernyataan politik. Tak ada simbol formal.
Hanya sebuah Vespa tua, sebuah warna, dan tafsir yang tumbuh pelan-pelan.
Di sisi jalan, seorang warga yang menonton iring-iringan berbisik, “Mungkin ada cerita di balik pilihan tunggangannya.”
Dalam dunia politik, bahasa simbol memang kerap lebih nyaring daripada pidato. Dan sore itu di Pacitan, Vespa biru menjadi percakapan baru, sebuah isyarat yang belum selesai dibaca.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan