Liputan BERITA

Merawat Tradisi, Menyambut Ramadhan: Gugur Gunung Pacitan dalam Perspektif Sosial Budaya dan Islam Menurut KH. Mahmud

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi pada 25 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, masyarakat Pacitan kembali menghidupkan sebuah tradisi lama yang sarat makna, yakni Gugur Gunung. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih makam dan lingkungan, melainkan juga simbol kuat gotong royong, kebersamaan, dan persiapan batin umat Islam dalam menyambut bulan penuh ampunan.

Gugur Gunung biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah atau Sya’ban. Seluruh lapisan masyarakat, dari tokoh agama, pemuda, hingga orang tua, turun bersama membawa peralatan seadanya. Mereka membersihkan makam para leluhur, merapikan lingkungan sekitar, serta diakhiri dengan doa bersama.

Dalam kacamata sosial budaya, Gugur Gunung mencerminkan nilai luhur masyarakat Jawa, beban berat akan terasa ringan jika dikerjakan bersama. “Tradisi ini mempererat ikatan sosial, menghapus sekat status sosial, dan menumbuhkan kembali semangat kebersamaan yang kini mulai tergerus oleh individualisme,” ujar pendakwah kondang di Pacitan, KH. Mahmud, Ahad (25/1/2026).

Secara edukatif, lanjut KH Mahmud, Gugur Gunung menjadi ruang pembelajaran langsung bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja tidak hanya belajar tentang kerja sama, tetapi juga tentang menghormati leluhur, menjaga lingkungan, serta memahami pentingnya tradisi sebagai identitas budaya.

Lebih jauh, kyai yang juga menjabat sebagai Inspektur, Inspektorat Pacitan tersebut mengatakan, tradisi ini mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu berdimensi ritual personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial. “Membersihkan makam dan fasilitas umum merupakan bentuk kepedulian sosial yang sejalan dengan ajaran Islam tentang kebersihan dan tanggung jawab kolektif,” jelasnya.

Dalam perspektif Islam, kegiatan Gugur Gunung dapat dipahami sebagai bagian dari amal sosial (muamalah) yang bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Membersihkan makam mengingatkan manusia akan kematian (tadzkiratul maut), sebuah pengingat penting agar umat Islam lebih siap secara spiritual menyambut Ramadhan.

Para pendakwah dan ulama, termasuk kalangan kiai pesantren, pada umumnya memandang tradisi semacam ini sebagai adat baik (al-‘urf ash-shahih) selama tidak mengandung unsur syirik atau praktik yang bertentangan dengan syariat. Doa bersama, tahlil, dan niat memperbaiki diri justru sejalan dengan semangat Islam rahmatan lil ‘alamin.

Islam tidak menolak tradisi lokal, selama nilai-nilainya menguatkan tauhid, ukhuwah Islamiyah, serta akhlak mulia. Gugur Gunung, dalam konteks ini, menjadi media dakwah kultural yang halus namun efektif.

Menjaga Warisan, Menguatkan Iman
Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, tradisi Gugur Gunung menjadi pengingat bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan spiritual. Ia bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga sarana memperkuat iman, menumbuhkan kepedulian, dan menyiapkan hati menyambut Ramadhan dengan bersih lahir dan batin.

“Bagi masyarakat Pacitan, Gugur Gunung bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah wujud nyata bahwa Islam dan budaya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, dan terus hidup di tengah masyarakat,” tukasnya.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuniardi Yuniardi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian