Stok Aman atau Terbatas? Perbedaan Informasi ESDM NTT dan Perindag Kota Kupang Soal Elpiji
NTT, Liputan68.com- Menjelang rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional seperti Hari Raya Nyepi, Idul Fitri 1447 H, hingga Paskah, kebutuhan masyarakat terhadap bahan pokok dan energi rumah tangga seharusnya berada dalam kondisi aman.
Namun di Kota Kupang, informasi mengenai ketersediaan gas elpiji justru memunculkan perbedaan penjelasan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTT, Rosye Maria Hedwine, menegaskan bahwa stok elpiji secara umum masih dalam kondisi aman.
“Stok elpiji aman. Kenaikan harga yang terjadi lebih disebabkan oleh kenaikan tarif ekspedisi atau biaya angkutan,” ujarnya saat dikonfirmasi media ini, Kamis (12/3/2026).
Pernyataan tersebut seolah memberikan jaminan bahwa pasokan energi rumah tangga menjelang hari-hari besar keagamaan tidak mengalami gangguan berarti. Namun situasi yang berbeda justru diakui oleh pemerintah di tingkat kota.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Kupang, Alfred A. Lakabela, mengungkapkan bahwa ketersediaan elpiji di lapangan memang sedang terbatas.
“Memang untuk sementara stoknya masih terbatas. Namun kemarin kami sudah berkoordinasi dengan PT Timor Gas dan juga mendapat informasi dari provinsi bahwa dalam satu dua hari ini akan datang sekitar 10 ribu tabung. Harapannya minggu depan sudah bisa beredar di masyarakat,” jelas Alfred, (15/3/2026).
Ia berharap tambahan pasokan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan warga menjelang Idul Fitri dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Perbedaan informasi ini muncul di tengah laporan masyarakat yang sebelumnya menyebutkan pasokan elpiji bahkan sempat hilang dari sejumlah kios dan toko di Kota Kupang.
Pada pekan lalu, Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB, Usman Husin, secara terbuka menyuarakan keresahan warga terkait kondisi tersebut. Ia mengaku menerima banyak laporan masyarakat yang kesulitan mendapatkan gas elpiji.
Keluhan warga, kata Usman, datang melalui telepon maupun aplikasi pesan singkat yang meminta perhatian serius terhadap persoalan ini.
“Laporan yang kami terima menyebutkan gas tidak hanya langka, tetapi benar-benar kosong di berbagai tempat penjualan,” ujarnya pada 7 Maret 2026.
Kelangkaan ini tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga mulai memukul pelaku usaha kecil. Sejumlah warung makan bahkan terpaksa menutup sementara aktivitasnya karena tidak memiliki gas untuk memasak.
“Ada warung yang terpaksa tutup karena tidak ada gas. Artinya sudah ada yang menjadi korban dari kondisi ini,” tegas Usman.
Banyak keluarga dan pelaku usaha kecil, elpiji bukan sekadar komoditas melainkan kebutuhan dasar yang menentukan apakah dapur tetap menyala atau justru terpaksa padam.***

Tinggalkan Balasan