Liputan BERITA

Rokok Ilegal Jadi Momok Pabrikan di Pacitan, Produksi Kretek Tangan Tetap Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 25 Juni 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Di tengah tekanan ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, geliat industri rokok kretek tangan di Kabupaten Pacitan ternyata masih mampu bertahan. Aktivitas produksi di sejumlah pabrik rokok lokal tetap berjalan normal, bahkan tanpa pengurangan tenaga kerja.

Salah satu pelaku usaha rokok di Pacitan, Widarto, mengakui situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil memang ikut mendorong kenaikan biaya produksi. Harga bahan baku hingga kemasan rokok disebut mengalami peningkatan. Meski demikian, kondisi tersebut belum sampai mengguncang roda usaha yang dijalankannya.

“Pokoke sek terjangkau semua. Produksi masih tetap jalan, nggak ada pengurangan pekerja,” ujar Widarto saat ditemui, Kamis (25/6/2026).

Pria yang akrab disapa Wiwit itu mengatakan, hingga saat ini pabrik rokok miliknya masih mempekerjakan sekitar 500 karyawan. Ratusan pekerja tersebut tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tanpa terdampak langsung oleh gejolak ekonomi global yang belakangan menjadi perhatian banyak pelaku usaha.

Bagi Wiwit, tantangan akibat kenaikan ongkos produksi masih bisa diatasi dengan berbagai penyesuaian. Namun ada satu persoalan yang menurutnya jauh lebih mengkhawatirkan dan belum kunjung menemukan jalan keluar, yakni maraknya peredaran rokok ilegal di pasaran.

Menurut dia, keberadaan rokok tanpa pita cukai menjadi pukulan serius bagi industri rokok legal, termasuk pabrik-pabrik rokok di Pacitan. Produk ilegal yang beredar luas di masyarakat dinilai membuat persaingan usaha menjadi tidak sehat dan berdampak langsung pada penurunan omzet.

“Masalahnya hanya satu, rokok ilegal. Dan itu berlangsung di seluruh Indonesia. Semua pabrik rokok mengeluh adanya rokok tanpa cukai itu yang masif beredar di masyarakat,” jelasnya.

Ia menuturkan, di luar persoalan tersebut, berbagai tantangan usaha sejauh ini masih dapat dihadapi. Pihaknya terus memutar otak agar kegiatan produksi tetap berjalan, bahan baku tetap tersedia, dan para pekerja tidak sampai dirumahkan.

“Wes pokoke ya kur rokok ilegal itu masalahnya,” tegas Wiwit.

Di tengah tekanan ekonomi yang datang silih berganti, industri rokok kretek tangan di Pacitan tampaknya masih menunjukkan daya tahannya. Namun, jika peredaran rokok ilegal terus dibiarkan, ancaman terhadap keberlangsungan industri legal dan nasib para pekerja bisa menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kenaikan harga bahan baku maupun BBM.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian