EBW Merapat ke Gerindra, Peta Politik Pacitan Memanas: Manuver Besar atau Sekadar Riak Jelang Pilkada? Pengamat Sebut, Elektabilitas Demokrat Masih Tetap Kokoh
Pacitan,Liputan68.com- Dinamika politik lokal di Kabupaten Pacitan kembali bergerak. Kali ini, perhatian publik tertuju pada langkah politik Efendi Budi Wirawan (EBW), salah satu politikus senior yang selama bertahun-tahun identik dengan Partai Golkar. Kabar bergabungnya EBW ke Partai Gerindra memantik beragam spekulasi, mulai dari konsolidasi kekuatan baru hingga munculnya nama yang diproyeksikan menjadi bakal calon Bupati Pacitan pada kontestasi politik mendatang.
Bagi masyarakat Pacitan, nama EBW bukan sosok asing. Pengusaha di bidang jasa konstruksi tersebut pernah memimpin DPD Partai Golkar Pacitan selama dua periode. Pada masanya, Golkar menjadi salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan sebelum tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada Gagarin, hingga kini dipimpin H. Lancur Susanto Habiburokhman.
Pilihan EBW meninggalkan rumah politik lamanya dan bergabung dengan Gerindra dinilai sebagai manuver strategis. Terlebih, Gerindra kini menjadi partai penguasa nasional setelah mengantarkan Prabowo Subianto ke kursi Presiden Republik Indonesia. Kondisi tersebut membuka ruang tafsir bahwa perpindahan ini bukan sekadar pergantian atribut politik, melainkan bagian dari desain politik jangka panjang.
Di internal Gerindra sendiri, berkembang isu bahwa EBW disiapkan sebagai salah satu figur potensial untuk bertarung dalam Pemilihan Bupati Pacitan pada periode mendatang. Rekam jejak panjang di dunia politik, jaringan yang luas, serta kapasitas ekonomi yang dimiliki menjadi modal yang dianggap cukup untuk membangun kekuatan baru.
Namun, apakah bergabungnya EBW otomatis mengubah peta politik Pacitan?
Pengamat politik Pacitan, Berty Stevanus, menilai manuver tersebut memang akan memberi energi baru bagi Gerindra. Meski demikian, ia berpandangan efek elektoralnya belum tentu signifikan terhadap konfigurasi politik yang sudah terbentuk.
Menurut mantan Ketua Bawaslu Pacitan tersebut, basis dukungan personal EBW belum dapat dipastikan mampu berpindah secara utuh mengikuti langkah politiknya. Karena itu, ia menilai perpindahan tersebut tidak secara otomatis menggeser dominasi kekuatan politik yang selama ini dimiliki Partai Demokrat.
“Kalau menurut saya, konstituen Pak Budi ini tidak jelas. Sehingga tidak akan berdampak signifikan terhadap calon dari Partai Demokrat,” ujar Berty, Senin (6/7/2026).
Berty juga mengakui adanya informasi yang berkembang di internal Gerindra bahwa siapapun calon yang diusung partai tersebut harus mampu memenangkan Pilkada. Namun menurutnya, konteks politik Pacitan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding daerah lain.
Ia menyebut Pacitan masih memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat terhadap Partai Demokrat. Faktor tersebut, menurutnya, menjadi variabel penting yang sulit dipatahkan hanya dengan mengandalkan efek kemenangan Gerindra di tingkat nasional.
“Saya mendapat informasi dari orang dalam, siapapun calon dari Gerindra harus jadi. Tetapi khusus Pacitan, instruksi itu tidak akan mudah diwujudkan. Jago Demokrat masih memiliki peluang yang sangat tinggi untuk memenangkan Pilkada,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa politik lokal tidak selalu bergerak mengikuti arus politik nasional. Di banyak daerah, terutama Pacitan, kedekatan historis, loyalitas pemilih, serta figur calon masih menjadi faktor dominan dibanding sekadar kekuatan mesin partai.
Masuknya EBW ke Gerindra memang menjadi babak baru dalam konfigurasi politik Pacitan. Namun, apakah langkah itu akan menjadi titik balik lahirnya poros kekuatan baru atau hanya menjadi dinamika elite yang belum mampu mengubah preferensi pemilih, semuanya masih akan ditentukan oleh kerja politik, konsolidasi akar rumput, serta kemampuan menghadirkan gagasan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, Pilkada bukan hanya soal perpindahan tokoh dari satu partai ke partai lain. Lebih dari itu, masyarakat akan menilai siapa yang mampu menawarkan kepemimpinan yang visioner, rekam jejak yang teruji, serta komitmen nyata dalam membangun Pacitan. Di tengah semakin cairnya peta politik, pertarungan ide, integritas, dan kedekatan dengan rakyat tetap menjadi mata uang utama dalam memenangkan kepercayaan publik. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan