Sentra Ciamis-Tasik Terpuruk: Peternak Ayam Jabar, Terkapar
BANDUNG – LIPUTAN68.com -Jangan tanya (lagi) dampak penanggulangan pandemi Covid-19 terhadap sektor ekonomi rakyat. “Sangat hebat..,” jawab Ir. Herry Dermawan, pelaku usaha ternak ayam di Ciamis, Jawa Barat.
Dua kata yang cukup menggambarkan kondisi kronis kegiatan usaha ternak ayam potong Bahkan kasat mata, Dihajar nyaris tanpa henti dalam kurun 5-6 bulan terakhir.
Herry, memang tak sendirian didera lumpuh. Tak ada geliat ekonomi yang bisa diharapkan Sekadar pun tidak, Tak mungkin pula mengamputasi diri. Sangat mungkin puluhan, bahkan ratusan milyar rupiah tak terkendali arahnya. Menguap?! Betapa tidak, kegiatan usaha satu ini menuntut kolaborasi dan sinerji banyak pihak.
Lazim disebut plasma, Warga yang memiliki lahan dengan kandang seukuran rumah. Bibit ayam atau DOC (day old chick) disuplai oleh perusahaan induk. Dalam tempo tiga pekan atau 23-25 hari, siap panen.
Bobot per ekornya 1,5 kg. Siap dipasarkan. Antar keduanya kerjasama bagi hasil. Namun pihak plasma tidak menanggung kerugian apa pun yang ditimbulkan.
Terkapar, Terus Merugi
Kawasan Ciamis – Tasikmalaya mampu menyuplai kebutuhan daging ayam kota Bandung dan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).
Mencapai 200 hingga 300 truk setiap harinya, Catatan kondisi normal. Setiap truk memuat sekira 2,5 ton ayam siap potong. Tentu saja, diharapkan harga jual di atas harga pokok produksi (HPP) senilai Rp 18 ribu/kg.
Sebutlah harga jual Rp 20 ribu, Dengan minimal 200 truk, maka pendapatan mencapai Rp 10 Milyar per hari. Dengan pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), utamanya di seluruh Jakarta angka rupiah itu kadung “terjun bebas”.
Alih-alih meraup keuntungan, Harga jual pun otomatis anjlok di bawah HPP. Pernah pada posisi sama HPP, yakni Rp 18 ribu Masih mending balik modal.
Berikutnya menukik ke angka Rp 15 ribu, Rp 12 ribu, Rp 10 ribu — bahkan sampai Rp 6 ribu atau minus Rp 12 ribu berbanding HPP. Dalam kondisi harga jual terendah seperti itu, kerugian dengan hitungan 200 truk bisa mencapai Rp 6 Milyar per hari, Resiko pasar Tak mungkin menghindar Pelaku usaha terkapar.
Selama masa “paceklik” panjang itu, praktis terjadi penumpukkan produksi. Ayam siap jual terpaksa dibagikan cuma-cuma. Akibat beruntun, pabrik pakan berhenti beroperasi. Berakibat pada suplai pakan ke peternak. Bersamaan gagal bayar pembelian pakan, Di tingkat produksi (ternak) pun, terkendala hebat Bak “sudah jatuh tertimpa tangga”.
Menjelang Idul Adha kemarin, harga jual sempat naik (lumayan) Rp 18.500. Permintaan konsumen meningkat. Tapi setelah itu, kembali ke harga Rp 17 – 17,5 ribu. Lagi-lagi, masih minus dari HPP (Rp 18.000,-).








