Pacitan,Liputan 68.com-Saat sebagian langit memilih gelap tanpa letupan cahaya, Desa Jeruk di Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, justru menemukan terang dengan caranya sendiri.
Pergantian tahun di desa kecil yang berjarak dari hiruk-pikuk kota itu berlangsung tanpa gemerlap kembang api. Tak ada suara dentuman yang memecah malam, tak ada cahaya warna-warni yang menghias langit. Namun, suka cita sama sekali tak padam. Ia justru tumbuh pelan, menyala dari ruang-ruang sederhana yang dipenuhi rasa syukur dan kebersamaan.
Malam pergantian kalender di Desa Jeruk disambut dengan kesunyian yang sarat makna. Warga berkumpul tanpa kemewahan. Ibu-ibu sibuk di dapur, meracik masakan dengan tangan-tangan penuh kasih.
Di halaman rumah, aroma kambing bakar mengepul, menyatu dengan udara malam yang dingin. Anak-anak berlarian kecil, sementara obrolan hangat mengalir tanpa sekat.
Tak ada hitung mundur yang riuh. Tak ada teriakan menyambut angka satu. Yang ada hanyalah lantunan doa, mengalir pelan, menutup tahun dengan puji syukur dan membuka lembaran baru dengan ketundukan hati. Dalam keheningan itulah, warga Desa Jeruk menautkan harapan, tentang keselamatan, ketenteraman, dan hidup yang lebih berkah.
Bagi masyarakat setempat, pergantian tahun bukan sekadar ritual pergantian waktu. Ia adalah momentum bercermin, menoleh ke belakang untuk memahami perjalanan, lalu menatap ke depan dengan harapan yang lebih jernih. Kesederhanaan menjadi kekuatan, membuat malam itu terasa hangat meski tanpa cahaya pesta.
Anggota DPRD Pacitan dari Fraksi Golkar, Arief Nurman, menyebut kebahagiaan tak selalu harus dirayakan dengan kemeriahan visual. Menurutnya, meski langit Pacitan tak dihiasi kembang api, jendela suka cita masyarakat tetap terbuka lebar.
“Langit boleh gelap, tapi hati masyarakat tetap terang. Ada rasa syukur yang tak bisa digantikan oleh gemerlap apa pun,” ujarnya, saat dikonfirmasi, Rabu (31/12/2025).








