“Ojo Kepaten Obor”: Pesan Gagarin agar Orang Jawa Tak Kehilangan Akar
Pacitan,Liputan68.com- Zaman bergerak semakin cepat. Teknologi menghadirkan kemudahan dalam genggaman, tetapi pada saat yang sama, perlahan mengikis ingatan banyak orang tentang akar kehidupannya sendiri. Di tengah derasnya arus digital, tak sedikit generasi yang mengenal dunia luas, namun asing terhadap silsilah keluarganya.
Bagi masyarakat Jawa, keadaan itu dikenal dengan istilah kepaten obor, padamnya obor yang seharusnya menerangi jejak asal-usul sebuah keluarga. Ketika obor itu padam, bukan hanya nama leluhur yang terlupakan, melainkan juga nilai, perjuangan, serta jati diri yang diwariskan lintas generasi.
Pandangan itulah yang disampaikan Wakil Bupati Pacitan, Gagarin. Menurutnya, memahami siapa diri kita sejatinya tidak cukup hanya mengetahui nama sendiri, melainkan juga mengenali mata rantai kehidupan yang telah mengantarkan seseorang hadir di dunia.
“Fenomena sekarang ini orang Jawa mengistilahkan kepaten obor. Mereka buta dari mana asal-usulnya, siapa kakek, nenek, buyutnya dan sebagainya. Dari situlah kita kembali mencari trah dan silsilah siapa kita sebenarnya, dari mana kita bisa hadir di dunia ini,” ujar Gagarin, Selasa (7/7/2026).
Dalam falsafah Jawa, manusia ibarat sebatang pohon. Daun boleh berganti setiap musim, ranting boleh bertambah, bahkan batang bisa menjulang tinggi. Namun, semuanya tetap bergantung pada akar yang menghunjam ke dalam bumi. Ketika akar dilupakan, pohon kehilangan penyangga kehidupannya.
Karena itu, mengenal trah bukan sekadar menghafal nama buyut atau leluhur. Lebih dari itu, ia adalah upaya merawat ingatan kolektif keluarga, memahami perjalanan hidup para pendahulu, sekaligus mengambil teladan dari setiap jejak yang mereka tinggalkan.
Gagarin menilai, setiap manusia juga memiliki tanggung jawab meninggalkan warisan yang baik bagi generasi berikutnya. Warisan itu bukan semata harta benda, melainkan juga keteladanan, karya, dan sejarah kehidupan yang layak dikenang.
Dalam petuah berbahasa Jawa yang sarat makna, ia mengungkapkan, “Wong urip iku kudu agawe patilasan seng becik, tumrap anak lan putu. Lelantaran patilasan, anak lan putu bisa paham sapa warise kabeh mbesok.”
Manusia, menurutnya, hendaknya meninggalkan patilasan yang baik. Sebab dari jejak itulah anak-cucu kelak dapat memahami siapa leluhurnya, dari mana mereka berasal, dan nilai-nilai apa yang harus terus dijaga.
Di tengah modernitas, pesan itu terasa semakin relevan. Kemajuan teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk mendokumentasikan sejarah keluarga, bukan justru memutus mata rantai ingatan. Foto-foto lama, cerita para sesepuh, naskah silsilah, hingga kisah perjuangan keluarga dapat menjadi pusaka yang nilainya jauh melampaui materi.
Pepatah Jawa mengatakan, “Mikul dhuwur mendhem jero.” Mengangkat tinggi kehormatan leluhur, sekaligus menyimpan rapat kekurangannya. Sebuah ajaran yang mengingatkan bahwa menghormati asal-usul bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan menjadikannya pijakan untuk melangkah ke masa depan.
Sebab pada akhirnya, seseorang boleh melanglang buana ke berbagai penjuru dunia. Namun, ia akan selalu pulang kepada satu pertanyaan sederhana: dari mana ia berasal. Dan jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menjaga obor kehidupan agar tetap menyala, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan