Liputan BERITA

Jogo Pacitan sebagai Benteng Sosial: Ratna Budiono Ajak Publik Rawat Kewaspadaan dan Kendalikan Narasi

Ditulis oleh Liputan68 pada 21 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Upaya menjaga stabilitas daerah tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan aparat dan regulasi formal. Kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sikap, ucapan, serta cara pandang terhadap berbagai peristiwa sosial justru menjadi benteng utama.

Pesan inilah yang ditegaskan Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Pacitan, Ratna Budiono, saat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membentengi Pacitan dari berbagai potensi dampak buruk.

Ajakan tersebut menguat seiring dengan seruan Kapolres Pacitan, AKBP Ayub Diponegoro Azhar, tentang pentingnya semangat “Jogo Pacitan”. Sebuah konsep sederhana namun bermakna dalam, yang menempatkan keamanan dan ketenteraman daerah sebagai tanggung jawab bersama, bukan semata tugas institusi negara.

Ratna yang baru saja menduduki posisi strategis di lingkaran kewaspadaan dan intelijen daerah menilai, dinamika sosial nasional belakangan ini menuntut kedewasaan publik yang lebih tinggi. Arus informasi yang begitu cepat, khususnya di ruang digital, kerap memantik kegaduhan jika tidak disikapi dengan nalar dan empati.

Dalam konteks tersebut, ia mengingatkan agar masyarakat Pacitan tidak ikut larut menyuarakan hal-hal negatif yang terjadi di daerah lain, terutama yang berkaitan dengan persoalan hukum. Menurutnya, membicarakan isu sensitif tanpa proporsi yang tepat justru berpotensi menimbulkan keresahan baru dan merusak iklim kondusif yang selama ini terjaga.

“Kita ini sebagai insan manusia tentu jauh dari kata sempurna. Yang terbaik mari kita doakan agar mereka yang saat ini bermasalah dengan hukum bisa mendapatkan ketabahan, sekalipun itu sebagai konsekuensi logis yang harus mereka hadapi,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Lebih jauh, Ratna menekankan bahwa kewaspadaan nasional di level daerah bukan hanya soal deteksi dini konflik, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengendalikan emosi kolektif dan energi sosialnya. Narasi yang dibangun di tengah masyarakat, menurutnya, sangat menentukan arah ketenangan atau justru kegaduhan.

Ia menilai Pacitan memiliki modal sosial yang kuat, kultur guyub, kearifan lokal, serta tradisi saling menghormati. Modal ini harus terus dirawat dengan cara menahan diri dari sikap menghakimi, memperbanyak empati, dan mengedepankan doa serta dukungan moral, ketimbang cemoohan atau sensasi.

Sejalan dengan semangat “Jogo Pacitan”, Ratna berharap sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga dapat terus diperkuat. Dengan demikian, Pacitan tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga sehat secara sosial dan psikologis.

“Menjaga Pacitan berarti menjaga cara kita berpikir, berbicara, dan bersikap,” tegasnya.

Melalui pendekatan yang humanis dan berimbang, Bakesbangpol Pacitan optimistis daerah berjuluk Kota 1.000 Goa itu tetap menjadi ruang yang teduh, bermartabat, dan tahan terhadap berbagai gejolak di tengah dinamika nasional yang terus bergerak.(Red/yun) 

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian