Coronavirus Dianggap Sebagai Rekayasa Tersistem? Ini Penjelasan Sekertaris IDI Pacitan
Pacitan- Belakangan, kasus covid-19 confirm di Pacitan dan juga banyak daerah terus mengalami lonjakan cukup signifikan. Tak heran, dari kejadian tersebut ada sebagian masyarakat yang punya argumentasi miring, kalau coronavirus dianggapnya hanya sebuah rekayasa tersistem.
Tak sedikit dari bincang-bincang mereka di warung kopi ataupun tempat kongkow-kongkow, yang beranggapan kalau Covid-19, dinilainya sebagai lahan bisnis baru para pejabat dan juga rumah sakit. Apalagi kenaikkan kurva pasien positif covid-19 terjadi menjelang akhir tahun. Seakan-akan virus SARS-CoV-2 tahu akan adanya pergantian tahun, dan berakhirnya tahun anggaran.
Menyikapi pergunjingan miring tersebut, penanggung jawab wisma atlet Pacitan sebagai lokasi karantina, dr Johan Tri Putranto ikut angkat bicara.
Dia menegaskan, seorang dokter atau tenaga medis lainnya, sudah menjalani sumpah profesi sebelum mereka bertugas. “Kami akan katakan A bila itu benar A. Dan kami tidak akan mungkin mengatakan B, kalau sebenarnya A yang terjadi. Kami menjalankan profesi, dibawah sumpah yang pernah kami lakukan. Hasil dari kinerja profesi, tentu akan kami pertanggung-jawabkan dunia dan akhirat,” kata Johan, memberikan klarifikasi atas kemunculan beragam argumentasi miring tentang covid-19, Rabu (31/12).
Pada kesempatan tersebut, dokter yang diberikan kepercayaan mengendalikan UPT Puskesmas Gondosari Kecamatan Punung Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan ini kembali mengulas, bahwa coronavirus diibaratkan penyakit dengan 1001 wajah.
Selain itu, sebagai tenaga ahli di bidang kesehatan, ia juga menegaskan kalau coronavirus itu memang tergolong penyakit ganas dan mematikan. “Jadi covid-19 itu memang benar ada dan bukan sebuah rekayasa tersistem. Sebab bukan hanya di Indonesia, namun saat ini sudah menginfeksi jutaan manusia dibelahan dunia lainnya,” jelasnya.
Untuk itu ia meminta agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh isu-isu menyesatkan. Lebih baik tetap waspada dan selalu berhati-hati. Utamakan porotokoler kesehatan ketika melakukan aktivitas diluar rumah. “Lebih baik tetap tinggal di rumah kalau memang tidak ada keperluan mendesak. Dan jalankan 3 M, yaitu memakai masker, menjaga jarak fisik, sesering mungkin cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan sedapat mungkin hindari berkerumun, meskipun dengan keluarga terdekat yang bukan satu rumah,” pesan Sekertaris Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pacitan ini. (yun).

Tinggalkan Balasan