Liputan KESEHATAN

Selain untuk Atasi Stunting, Daun Kelor Juga Bisa Tambah Pendapatan

Ditulis oleh Liputan68 pada 17 Desember 2021 ā±ļø 2 Menit Baca

MEDAN—LIPUTAN68.COM—Kasus stunting atau kondisi gagal pertumbuhan tubuh pada anak karena kurang gizi terus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Karenanya Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah (Ijeck) mendorong Dinas Kesehatan Sumut terus berupaya menekan angka kasus stunting tersebut.

Tidak hanya dengan program yang sudah ada, namun menurut dia, juga perlu terus mengikuti perkembangan atau inovasi yang ada dalam hal pemenuhan nutrisi dan gizi anak, khususnya dengan menggunakan daun kelor.

BACA JUGAKepala dan Salah Satu Kasie Kantor Kementerian ATR/BPN Pacitan, Dikabarkan Terinfeksi Covid-19?

“Asupan makanan yang bervitamin sangat dibutuhkan dalam penanganan stunting untuk bayi dan ibu hamil, apalagi saat ini kita juga masih dalam suasana pandemi,” kata Ijeck didampingi Wakil Ketua TP PKK Sumut, Sri Ayu Mihari saat menerima kunjungan Owner Keloria Moringa Syahrani Devi dan Fachrul Rozi Lubis, di Rumah Dinas Wagub, Jalan Teuku Daud, Medan, Rabu (15/12). Salah satu yang dia melihat dan dengar bahwa daun kelor banyak vitamin yang terkandung di dalamnya.

Salah satu pelaku UMKM Keloria yang fokus dengan daun kelor Syahrani Devi, lanjut Ijeck, telah banyak menjelaskan khasiat daun kelor dan dibuktikan dengan suksesnya Keloria hingga go internasional.

“Inovasi (Bu Devi) daun kelor keringnya sudah banyak diekspor ke luar, dan kenapa kita tidak juga memanfaatkannya, alami dan berasal dari lahan subur yang dimiliki Sumut,” ujarnya.

Di sisi lain tentu juga bisa menambah pemasukan masyarakat jika serius pada bidang dimaksud.

“Tanaman kelor ini juga bisa menjadi tanaman yang menghasilkan atau jadi mata pencarian,” ujarnya.

Adapun Devi sebelumnya menjelaskan, Sumut telah manjadi satu dari enam daerah di Indonesia yang menjadi pusat daun kelor. Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memerkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi.

“Jadi di luar negeri itu, di Afrika tepatnya daun kelor sudah menjadi suplemen untuk ibu menyusui dan untuk anak bayi untuk membantu tumbuh kembangnya,” ungkapnya.

Devi mengaku dirinya memiliki lahan sendiri untuk menanam daun kelor. Menurut pengalamannya, daun kelor sangat mudah tumbuh di wilayah Sumut. Penanaman perdana bisa dipanen di usia empat bulan.

“Jadi dia model panennya dipangkas, setelah panen perdana bisa dipanen lagi setelah 30-40 hari dan jumlahnya akan lebih banyak dibanding panen perdana karena setelah dipangkas dia bercabang. Panen ganda dan gak perlu peremajaan,” ujarnya. Ia menambahkan proses pengeringan yang dilakukan adalah metode kering dingin tanpa sinar matahari.

Dukungan pemerintah untuk memajukan atau menaikkan kearifan lokal kelor untuk meningkatkan kesehatan dan perekonomian masyarakat, dianggapnya sangatlah penting.

“Kami berharap dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar kita bisa menaikkan kearifan lokal kita sendiri untuk meningkatkan kesehatan dan perekonomian,” ujarnya. (Hasby)

TEKS FOTO:
DIABADIKAN: Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah didampingi Wakil Ketua TP PKK Sumut, Sri Ayu Mihari diabadikan usai menerima kunjungan Owner Keloria Moringa Syahrani Devi dan Fachrul Rozi Lubis, di Rumah Dinas Wagub, Jalan Teuku Daud, Medan, Rabu (15/12). ISTIMEWA

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian