Tren Kantor di SOHO dan Perbedaannya Dengan RUKO
Medan – Liputan68.com – Sebutan small office home office (SOHO) tak lagi asing terdengar di dalam pembahasan sektor ritel.
Namun sebenarnya, apa yang diartikan sebagai SOHO?
Wakil Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya menjelaskan, SOHO termasuk dalam kategori hunian vertikal atau apartemen yang menggabungkan tempat tinggal dengan tempat usaha atau bisnis berupa toko atau kantor.
Selain ada di kota-kota besar, SOHO juga biasanya ditemukan di dalam mal dan gedung-gedung perkantoran.
Selain itu, SOHO dibangun dengan fasilitas yang lengkap dan digunakan secara bersama. Misalnya pusat kebugaran, kafe, lobi, taman, lift, parkir dan yang lainnya.
Dari sisi interior, SOHO didesain seperti loft atau plafon yang tinggi dan juga mezzanine.
“SOHO itu termasuk hunian vertikal, dengan sertifikat strata title, jadi kepemilikan tanahnya bersama,” ucapnya.
Lantas, apa bedanya SOHO dengan rumah toko (ruko)? Bambang menjelaskan, ruko dan rumah kantor (rukan) secara bentuk fisik tidak jauh berbeda. Biasanya berupa bangunan tapak yang memiliki 2-4 lantai.
Hanya, secara fungsi keduanya punya perbedaan. Ruko dijadikan sebagai toko ritel sementara rukan difungsikan sebagai ruang kantor untuk kerja, bisnis dan usaha.
Berbeda dari hunian vertikal, ruko dan rukan pada prinsipnya merupakan hunian terpadu dan landed house. Karena itu, kepemilikan tanahnya dimiliki oleh satu orang.
“Ruko atau rukan itu kepemilikannya landed, punya tanah sendiri, punya sertifikat mandiri. Jadi biasanya para pemilik biasanya menyewakan kembali ruko dan rukan ini ke orang lain,” tuturnya.
Selain itu, ruko dan rukan biasanya berada di lokasi strategis seperti di pinggir jalan raya. Peruntukan ruko dan rukan juga lebih fleksibel. Lantai satu bisa dijadikan sebagai tempat usaha dan toko, kemudian lantai berikutnya sebagai hunian.
“Tergantung kebutuhan kantor atau toko. Umumnya toko dan kantor itu di lantai satu, tapi banyak juga yang lantai duanya dipakai sebagai tempat usaha,” lanjut Bambang.
Menjamurnya ketiga model bangunan ritel di kota-kota besar ini dipicu oleh ketersediaan lahan yang semakin sempit dan terbatas.
“Banyak konsep hunian yang digabungkan dengan kantor ataupun toko. Alasannya karena lahan di perkotaan yang semakin terbatas,” kata pungkas Bambang.(SS)

Tinggalkan Balasan