Liputan KEAGAMAAN

Keesaan Tuhan dalam Pandangan Hindu (Bagian 2 – Tamat)

Ditulis oleh Liputan68 pada 21 Juli 2022 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh : Selwa Raja, Mbp.

Om Swastiastu,

Kita memuja Tuhan dengan berbagai manifestasi-Nya, karena sesungguhnya Tuhan meresapi seluruh yang ada dan yang akan ada.

Tuhan berada di semua ciptaan-Nya dan secara bersamaan berada juga di luar ciptaa-Nya, tidak terbatas oleh ruang dan waku dan ada di mana-mana, bahkan di dalam diri kita.

Tuhan bersifat Acintya atau tidak terfikirkan oleh manusia. Artinya, manusia tidak dapat menggambarkan Tuhan dengan sempurna.

Sebagai makhluk yang dikarunia akal dan fikiran, manusia memiliki cara untuk mewujudkan bhaktinya kepada Sang Penguasa Alam Semesta dengan berbagai cara berdasarkan nilai-nilai dharma (kebenaran).

Kita sebagai manusia tidak dapat menggambarkan Tuhan secara utuh. Kita hanya dapat menggambarkan Tuhan seperti apa yang kita pikirkan dan untuk diri kita sendiri.

Karena definisi Tuhan menurut saya akan berbeda dengan definisi Tuhan menurut anda. Namun kebenaran yang mutlak itu adalah Tuhan itu satu tunggal adanya.

Kita seperti orang buta yang meraba gajah dalam menggambarkan keagungan Tuhan. Orang buta pertama, ketika diberi kesempatan meraba gajah dan yang diraba adalah kaki gajah, maka dia akan memberikan definsi berdasarkan pengalaman indrawinya, bahwa gajah itu seperti tiang-tiang yang kokoh.

Selanjutnya, orang buta kedua yang meraba telinga, maka akan mendefinisikan bahwa gajah seperti kipas yang besar.

Demikian juga orang buta ketiga yang meraba ekor gajah, maka dia akan memberikan kesimpulan bahwa gajah itu seperti cambuk cemeti.

Apakah orang buta tadi meraba objek yang sama ? Tentu iya. Namun apakah memiliki pandangan dan kesimpulan yang sama atas objek yang dirabanya, tentu tidak.

Kebenarannya adalah dia meraba gajah yang sama, tapi tidak bisa menggambarkan gajah itu dengan utuh. Jika orang buta satu memaksakan pandangannya untuk dapat diterima oleh orang buta lainnya, maka akan terjadi konflik.

Demikian juga kita dalam memahami Tuhan. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang dapat menggambarkan Tuhan dengan utuh. Mereka memuja Tuhan dengan cara yang berbeda.

Jadi Pujalah Tuhan itu berdasarkan keyakinan yang mendalam yang tumbuh dari hati sanubarimu yang terdalam. Karena kebenaran itu muncul dari hati sanubari kita yang terdalam.

Maka tanamkan nilai-nilai keTuhanan itu ke dalam diri kita masing-masing. Ketika nilai-nilai Ketuhanan yang ada dalam diri kita tumbuh subur, maka tidak ada kesengsaraan, karena yang ada hanya kedamaian.

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.(SR)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian