Liputan BERITA

Inspektur Mahmud Ajak Bertafakur dan Jangan Memperluas Ruang Gibah. “Monggo, Kita Bersama-Sama Bertafakur, Memohon Ampunan dan Perlindungan Dari Allah SWT. Semoga Pacitan Senantiasa Dijauhkan Dari Berbagai Musibah, Baik Lahir Maupun Batin”

Ditulis oleh Liputan68 pada 21 Januari 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com-Di tengah dinamika sosial yang diwarnai oleh maraknya kasus dugaan tindak pidana korupsi di sejumlah daerah tetangga, seruan reflektif dan menyejukkan disampaikan oleh salah seorang mubaligh Pacitan, KH. Mahmud.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan peristiwa tersebut sebagai cermin bersama, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk bertafakur dan memperkuat ikhtiar demi keselamatan daerah.

KH. Mahmud menekankan bahwa musibah, khususnya yang bersifat moral dan sosial, tidak datang begitu saja. Ia kerap diawali oleh kelalaian manusia dalam menjaga amanah, integritas, serta kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Karena itu, ia mengajak masyarakat Pacitan untuk memperbanyak munajat, memohon ampunan, dan meminta perlindungan kepada Allah SWT.

“Monggo, kita bersama-sama bertafakur, memohon ampunan dan perlindungan dari Allah SWT. Semoga Pacitan senantiasa dijauhkan dari berbagai musibah, baik lahir maupun batin,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Namun demikian, KH. Mahmud mengingatkan bahwa doa tidak boleh berhenti pada lisan dan ritual semata. Dalam ajaran Islam, doa harus berjalan seiring dengan ikhtiar, yakni usaha sungguh-sungguh untuk hidup lurus, jujur, dan taat pada aturan. Hal ini, menurutnya, menjadi sangat penting bagi para penyelenggara pemerintahan dan aparatur sipil negara yang memegang amanah publik.

“Doa tidaklah cukup tanpa ikhtiar. Jangan sampai kita tergoda bujuk rayu duniawi. Fokuslah pada amanah dan pekerjaan, patuhi seluruh peraturan yang ada. Ini menjadi benteng utama agar kita tidak tergelincir,” jelas pendakwah yang juga menjabat sebagai Inspektur di Inspektorat Pacitan tersebut.

Ia menguraikan bahwa korupsi bukan semata-mata lahir dari niat jahat, tetapi sering muncul karena adanya kesempatan yang dibiarkan terbuka. Oleh sebab itu, penguatan sistem pengawasan, transparansi, serta kesadaran spiritual harus berjalan beriringan. Integritas personal, menurutnya, adalah fondasi utama dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan berkeadilan.

Dalam ulasan agamisnya, KH. Mahmud juga menyoroti pentingnya menjaga akhlak sosial. Ia mengingatkan agar masyarakat Pacitan tidak terjebak dalam sikap mengolok-olok, memperluas gibah, atau menyebarkan narasi negatif terhadap daerah lain yang saat ini tengah menghadapi persoalan hukum.

“Sebagai sesama manusia, kita semua tidak luput dari kekhilafan. Yang terbaik adalah mendoakan agar mereka diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi konsekuensi yang ada, bukan justru menjadikannya bahan cibiran,” tuturnya.

Ia menutup seruannya dengan ajakan kolektif untuk menciptakan keselamatan Pacitan melalui keseimbangan antara doa, ikhtiar, dan akhlak mulia. Menurutnya, kemajuan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas moral, spiritualitas, serta kesadaran bersama dalam menjaga amanah.

“Yang terpenting, mari kita ciptakan keselamatan untuk Pacitan. Dengan doa yang tulus, ikhtiar yang jujur, dan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama,” pungkasnya.

Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa ketahanan sebuah daerah bukan hanya soal kebijakan dan regulasi, melainkan juga tentang kekuatan iman, integritas, dan kebersamaan warganya dalam menjaga nilai-nilai kebaikan.(Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian