Rupiah Melemah, Ancaman Baru di Balik Deflasi Pacitan: UMKM Bersiap Hadapi Lonjakan Biaya Produksi. Dollar Amerika Tembus Rp. 18.143
Pacitan,Liputan68.com- Di tengah kabar baik berupa deflasi sebesar 3,32 persen pada pekan kedua Juli 2026 yang dipicu turunnya harga sejumlah bahan pokok penting (bapokting), pelaku usaha di Kabupaten Pacitan justru dihadapkan pada tantangan baru. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh kisaran Rp18.143 per dolar pada Senin (13/7/2026) berpotensi memicu kenaikan biaya produksi, khususnya bagi sektor usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Secara ekonomi, deflasi memang mencerminkan penurunan harga barang tertentu yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Namun, kondisi tersebut belum tentu menjadi kabar baik bagi seluruh sektor usaha. Pelemahan kurs rupiah justru meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang penolong sehingga menekan margin keuntungan para pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perindustrian (Dinkoperin) Kabupaten Pacitan, Muhammad Ali Mustofa, mengatakan bahwa depresiasi rupiah akan berdampak langsung terhadap komoditas yang masuk dalam rantai pasok global.
“Yang pasti barang-barang tertentu yang melalui rantai pasok dunia akan mengalami eskalasi harga. Hal ini membuat pelaku UMKM harus kembali putar otak agar usahanya tetap dapat berjalan,” ujarnya.
Ia mencontohkan komoditas kedelai yang sebagian besar masih bergantung pada impor. Beberapa waktu lalu harga kedelai sempat menembus kisaran Rp17 ribu sekian per kilogram, dan dengan kondisi rupiah yang terus melemah, harga komoditas tersebut diperkirakan kembali mengalami kenaikan.
“Kedelai mengikuti rantai pasok dunia atau impor. Harganya akan linier dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Kalau rupiah melemah, tentu harga kedelai juga akan ikut meroket,” jelasnya.
Bukan hanya bahan pangan, tekanan biaya juga dirasakan pada sektor kemasan. Ali menyebut harga kemasan berbahan plastik hingga kini masih bertahan tinggi karena bahan bakunya juga dipengaruhi harga global dan nilai tukar.
“Packaging juga mengalami kenaikan karena bahan bakunya berasal dari plastik. Ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan roda usaha pelaku UMKM,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi ironi di tengah deflasi yang sedang terjadi. Di satu sisi, harga sejumlah kebutuhan pokok mengalami penurunan, tetapi di sisi lain biaya produksi terus meningkat akibat pelemahan rupiah. Bagi pelaku UMKM, situasi ini menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga keseimbangan antara kenaikan biaya produksi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Para pelaku usaha pun dituntut semakin adaptif, mulai dari meningkatkan efisiensi produksi, mencari alternatif bahan baku lokal, hingga melakukan inovasi produk agar tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global yang turut memengaruhi perekonomian daerah.(Red/yun).

Tinggalkan Balasan