Liputan BERITA

IDI Pacitan Berpendapat: Sub Varian Kraken Sangat Mudah Menular. Pemerintah Keluarkan SE Untuk Vaksinasi Booster Kedua

Ditulis oleh Liputan68 pada 3 Februari 2023 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan – Sekalipun tak seheboh ketika awal kali covid-19 bermutasi ke Indonesia sekitar Tahun 2019 lalu, namun kemunculan sub varian Omicron XBB 1.5 atau Kraken, tak bisa disepelekan.

Apalagi saat ini pemerintah telah mencabut beleid terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Tentu interaksi masyarakat semakin bebas. Padahal disisi lain, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pacitan, berpendapat kalau varian Kraken tersebut, sangat mudah penularannya.

“Covid-19 sub varian Omicron XBB 1.5, atau disebut Kraken, menjadi kasus dominan secara global,” kata Wakil Ketua IDI Pacitan, Johan Tri Putranto dalam siaran persnya, Jumat (03-02-2023).

Menurut dokter yang juga dipercaya sebagai nahkoda di UPT Puskesmas Gondosari, Kecamatan Punung, Dinas Kesehatan Pacitan tersebut, Ketua Satgas Covid PB IDI, Erlina Burhan menyebut, sub varian Kraken masuk dalam kategori penyakit yang sangat mudah menular.

Kraken XBB 1.5 banyak ditemukan di Amerika. Dimana salah satu sifatnya yang disampaikan, karakteristik dari virus ini adalah sangat mudah menular. Bahkan jauh lebih mudah dibandingkan dengan varian apapun yang ada.

“Tapi gejala atau keluhannya memang ringan saja, dan bahkan sebagian besar tidak ada keluhan. Varian tersebut telah ditemukan di 38 negara,” tutur Johan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sambung Johan, ahli epidemiologi senior di Afrika Selatan, Maria van Kerkhove mengatakan, varian Kraken merupakan varian paling menular yang terdeteksi selama ini. Mengapa begitu? Sebab, XBB 1.5 memiliki mutasi tambahan, sehingga membuatnya lebih mudah dan lebih baik dalam
mengikat ke sel lain, meskipun tidak ada data resmi yang dirilis mengenai tanda-tanda infeksi awal dari varian baru tersebut.

“Kebanyakan dari gejala awalnya akan serupa dengan varian Omicron pada umumnya. Antara lain, tenggorokan gatal, nyeri punggung bawah, hidung meler/tersumbat, sakit kepala, kelelahan, bersin, keringat malam dan pegal-pegal,” jelasnya.

Masuknya sub varian Omicron XBB 1.5 ke Indonesia, yang awal kali terdeteksi terbawa oleh warga Polandia yang berkunjung ke Jakarta, belum lama ini akhirnya ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan mengeluarkan surat edaran untuk masyarakat, agar melakukan vaksinasi booster kedua.

“Meski kita akui, bahwa booster tak mampu mencegah 100 persen. Artinya bahwa booster ini mencegah, agar jangan sampai ketika tertular jadi berat, jadi tidak 100 persen bisa dikatakan booster.

Ini pun bisa mencegah seseorang untuk tidak jadi sakit. Kuncinya tetap harus protokol kesehatan, harus meningkatkan sistem imun. Karena sesungguhnya ini pertarungan keseimbangan antara sistem imun dan keganasan dari virus.

Jika virusnya semakin banyak tentu akan mudah menginfeksi, sehingga diperlukan imunitas yang tinggi. Tapi kalau imunitasnya tinggi, virusnya
sedikit tidak akan merasakan gejala apapun,” bebernya.

Masih dikesempatan yang sama, Johan menegaskan, IDI menilai bahwa memang masyarakat saat ini sudah merasa jenuh dengan pemberitaan covid-19. Ataupun juga ajakan untuk melakukan vaksinasi. “Masyarakat mungkin sudah capek dengan berita covid-19 maupun vaksin.

Untuk itu, mari bersama-sama kita mengingatkan kembali kepada masyarakat, tapi mungkin dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan
kemampuan masing-masing.

Selain itu menurut kami, tidak perlu melakukan PPKM lagi, namun diperlukan penguatan deteksi dan ketertiban dalam menjalankan protokol kesehatan, walaupun karakteristik dari virus sub varian kraken ini adalah sangat mudah menular, jauh lebih mudah dibandingkan dengan varian apapun yang ada. Meski angka kesakitan rendah, dan bahkan banyak kasus kraken yang tanpa gejala,” pungkasnya. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian