Pengamat Sejarah Islam Pacitan: Rawat Jagat Sebagai Pepiling Asal Muasal Manusia
Pacitan– Festival Rawat Jagat memang lebih mengedepankan kolaborasi budaya dan seni sebagai salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat luas bahwa di Pacitan memiliki keragaman kebudayaan yang diharapkan bisa selalu diuri-uri oleh generasi penerus bangsa.
Menurut sudut pandang agama, salah seorang pengamat sejarah Islam di Pacitan, Ahmad Topan berpandangan bahwa Rawat Jagat sejatinya sebagai sebuah pepiling. Terlebih kegiatan bertaraf nasional tersebut dihelat pada bulan Muharam.
“(Rawat Jagat) merupakan pepiling bagi semua umat. Bahwa di Bulan Muharam ini, kita kembali ke asal muasal.
Ingat, bahwa setiap manusia itu berasal dari sari pati tanah. Mengingat jati diri dan ingat pada sang kuasa,” kata pria yang lebih akrab disapa Gus Mad ini menanggapi kegiatan festival Rawat Jagat Pacitan, Kamis (27/7).
Perihal yang dipertontonkan dalam bentuk kreasi seni dan budaya, Gus Mad yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah tersebut menegaskan, itu hanyalah sebuah perwujudan yang dilambangkan dengan suatu bentuk cipta, rasa dan karsa.
“Jagat itu sebenarnya diri kita sendiri. Di bulan Muharam ini, beragam kejadian istimewa pernah berlangsung. Termasuk pembentukan bumi semesta alam dan seisinya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Mad mengungkapkan, perwujudan atau perlambang memang bisa berwujud macam-nacam. Termasuk seni kreatif. “Sebenarnya seni atraktif bisa kita maknai sebagai sebuah pengejawantahan tentang siapa diri kita, dari mana asal usul kita dan kepada siapa kita kelak akan kembali,” tandas Gus Mad. (Red/yun).

Tinggalkan Balasan