Liputan BERITA

Menjelang 1 Muharram, Mengapa Kawasan Pesisir Selalu Menjadi Tujuan Ritual? Ini Pandangan Ketua DPRD Pacitan Roko Mas, Dr. Arif Setia Budi

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 16 Juni 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan, Liputan 68.com-Setiap kali Tahun Baru Islam atau 1 Muharram tiba, kawasan pesisir di berbagai daerah, termasuk di Pacitan, selalu dipadati masyarakat yang datang untuk mengikuti beragam kegiatan spiritual dan tradisi budaya. Fenomena ini seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan pergantian tahun dalam kalender Hijriah.

Bagi sebagian masyarakat, laut bukan sekadar bentang alam yang memisahkan daratan dan cakrawala. Hamparan biru yang luas itu kerap dimaknai sebagai ruang perenungan, tempat manusia menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran Sang Pencipta. Di sanalah doa dipanjatkan, introspeksi dilakukan, dan harapan baru dititipkan untuk mengawali lembaran tahun yang baru.

Menanggapi fenomena tersebut, Ketua DPRD Pacitan sekaligus sesepuh salah satu perguruan pencak silat ternama di Pacitan, Dr. Arif Setia Budi, menilai bahwa tradisi berkumpul di kawasan pesisir menjelang 1 Muharram tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang budaya Nusantara yang tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai keagamaan.

Menurutnya, laut sejak dahulu menjadi simbol perjalanan hidup manusia. Ombak yang datang dan pergi mengajarkan tentang perubahan, kesabaran, serta keteguhan hati dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Karena itu, banyak kelompok masyarakat menjadikan pesisir sebagai lokasi untuk melakukan refleksi diri dan memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.

“Pergantian tahun Islam sejatinya adalah momentum hijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bersih hati, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Laut menjadi salah satu media kontemplasi yang mengingatkan manusia akan luasnya ciptaan Tuhan dan keterbatasan dirinya,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Politikus yang akrab disapa ASB itu juga menegaskan bahwa esensi utama dari setiap ritual yang dilakukan masyarakat hendaknya tidak terjebak pada aspek seremonial semata. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum tersebut menjadi sarana edukasi moral dan spiritual bagi generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam, Muharram merupakan bulan yang dimuliakan. Karena itu, pergantian tahun hendaknya diisi dengan kegiatan yang membawa kemaslahatan, seperti doa bersama, muhasabah, mempererat persaudaraan, menjaga lingkungan, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.

“Jika masyarakat datang ke pantai, hendaknya bukan untuk mencari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama. Jadikan laut sebagai sarana tafakur, mensyukuri nikmat Allah, sekaligus menjaga alam yang telah dititipkan kepada kita,” katanya.

Lebih jauh, politikus Demokrat ini menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan alam dalam khazanah budaya Jawa maupun tradisi Nusantara pada dasarnya mengandung pesan tentang harmoni. Alam dipandang sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus dihormati dan dijaga, bukan dieksploitasi atau dijadikan objek yang disakralkan secara berlebihan.

Di tengah gemuruh ombak yang memecah karang dan semilir angin yang menyapu pesisir selatan Pacitan, masyarakat diajak merenungkan makna waktu yang terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu, usia bertambah, sementara kesempatan untuk berbuat baik semakin berkurang. Karena itulah, pergantian tahun Islam menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia sesungguhnya adalah perjalanan menuju Sang Khalik.

Momentum 1 Muharram, menurut ASB, seharusnya menjadi titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan yang baik tidak hanya diukur dari keberhasilan duniawi, tetapi juga dari kedekatan spiritual kepada Allah SWT dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Kesimpulannya, tradisi masyarakat yang berbondong-bondong menuju kawasan pesisir menjelang Tahun Baru Islam dapat dimaknai sebagai ruang refleksi bersama. Bukan sekadar ritual tahunan, melainkan upaya merawat nilai budaya, memperkuat spiritualitas, dan meneguhkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih bermakna.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian