Liputan BERITA

Pacitan Mrabu Rahayu, Bupati Aji Ajak Generasi Muda Eling Babad dan Asal-usul Tanah Kelahiran SBY

Ditulis oleh Liputan68 pada 19 Februari 2024 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan 68.com- Pagi itu, terik sang mentari terasa menyengat. Sementara segumpal awan putih nampak menggelayut diatas langit Pacitan yang pada hari itu genap berusia 279 tahun. Tepatnya 19 Februari 2024.

Angin berhembus sepoi-sepoi menelisik relung sanubari yang riang, beriringan alunan gamelan Jawa, yang terdengar rampak bersahutan.

Perlahan awan pun menepi, mengiringi kemunculan “Songsong Agung Pacitan”, Raden Mas Temenggung Indrata Nur Bayuaji, saat berjalan berarak di iringi para punggawa kerajaan menuju singga sana agung Pendopo Pemkab Pacitan.

Atmosfer “good vibes” rampak menyatu dan saling berpaut dengan kehadiran orang nomor satu di tanah wengker kidul berdampingan bersama Kanjeng Ratu, Evi Suraningisih Indrata Nur Bayuaji.

Suasana saat itu, melukiskan sebuah pesta rakyat sangat meriah seperti zaman kerajaan silam.

Begitulah sekilas fenomena prosesi puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Pacitan, ke-279 Tahun 2024, yang mengambil tema “Pacitan Mrabu Rahayu”, yang dalam bahasa Sansekerta Jawa bermakna keberkahan.

Mungkin tak salah tema yang disematkan pihak panitia pada hari jadi tanah kelahiran Presiden ke enam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut. Mrabu Rahayu
menjadi manifestasi keberhasilan sang Bupati Aji dalam memimpin daerah dan mengemban kondusifitas pelaksanaan pesta demokrasi yang pada 14 Februari lalu digelar.

Tentu kedepan, Pacitan akan semakin maju, gemah ripah loh jinawi dibawah kepemimpinan keponakan dari Presiden SBY tersebut. Dan juga semangat segaris dengan pemerintahan di atasnya. Baik itu provinsi maupun pemerintah pusat.

Dalam sambutannya, Bupati Indrata Nur Bayuaji mengatakan, selamat datang dan berterimakasih kepada semua undangan yang hadir dalam prosesi tersebut.

“Matur sembah nuwun dumateng poro rawuh ingkang kerso midangetne pasugatan prosesi Hari Jadi Pacitan kaping 279,” kata Bupati Aji dengan berbahasa Jawa kromo inggil.

Menurut Bupati, prosesi puncak hari jadi tersebut sebagai wujud rasa syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat berupa Pacitan Mrabu Rahayu. “Selain itu juga sebagai pepiling bagi generasi muda tentang babad Pacitan.

Dimana pada 279 tahun silam Raden Tumenggung Noto Puro ditetapkan sebagai
bupati pertama di Pacitan. Yang akhirnya dikuatkan dengan Perbup Nomor 45/1995 sebagai penetapan hari jadi Pacitan sampai sekarang ini,” jelasnya.

Di kesempatan yang sama, Bupati Aji juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terimakasih setinggi-tingginya kepada masyarakat di Pacitan yang telah melaksanakan Pemilu secara damai, rukun, ayem tentrem.

Lebih lanjut, Bupati juga memohon doa dan dukungan bila sejak peringatan hari jadi ke 278 lalu, telah dilaksanakan penelusuran tentang asal-usul Pacitan. Kegiatan tersebut diketuai oleh Sekda Heru Wiwoho Supadi Putro. “Alhamdulillah sampai saat ini sudah hampir 90 persen. Semoga beliau-beliau bisa melaksanakan kewajiban dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sebelum menutup sambutannya, Bupati Aji juga menyampaikan apresiasi kepada beberapa pihak sebagai pelestari kesenian tradisi dan budaya.

Mereka seperti Sukarni, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Sukiman, dari Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, dan Sukiman dari Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo. “Tak lupa beriringan dengan hari jadi Pacitan ke 279, pemkab juga membebaskan tarif retribusi tiket masuk di kawasan Pantai Pancer Door sebagai ruang terbuka publik,” pungkasnya.

Sementara itu, beberapa bupati dari kabupaten tetangga ikut hadir memeriahkan acara, seperti Bupati Wonogiri, Ponorogo, Trenggalek dan juga Magetan. (Red/yun).

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian