Liputan KOLOM

Sejarah Klepon

Ditulis oleh Liputan68 pada 23 Juli 2020 ⏱️ 2 Menit Baca

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum

(Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara, LOKANTARA)

Klepon diciptakan tahun 1647 oleh Kanjeng Ratu Wiratsari. Beliau adalah Permaisuri Sinuwun Amangkurat Agung, raja Mataram yang berkuasa tahun 1645 – 1677. Ibukota Kraton Mataram di Plered. Juru masak terwadahi dalam lembaga Mondro Budoyo. Lembaga ini dipimpin oleh Nyi Menggung Gondoroso.

Sinuwun Amangkurat Agung sebagai narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil para marta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Untuk memberi perintah atau dhawuh menggunakan sasmita klepon atau kalepon. Kalepon, bermakna kalaning malebu kudu pono ing samubarang gawe.

Atas usul Ki Ageng Giri Larangan yang berasal dari Gumelem Susukan Banjarnegara. Tahun 1654 Ratu Wiratsari juga membuat unjukan wedang, nyamikan gedang kepok. Wedang, gawe kadang untuk tujuan kerukunan. Gedang, berarti digeget supaya padang. Kepok berarti keturutan anggone ndhedhepok, kesampaian segala cita cita.

Begitulah makna filosofis makanan tradisional dari perspektif historis. Nenek moyang kita punya pemikiran yang gemilang.

Ketika Sinuwun Amangkurat berkunjung ke Banyumas, klepon diproduksi besar besaran. Bersamaan itu pula tahun 1653 makanan bawah dikembangkan dengan adanya mendowan. Artinya dimen jodo jiwane bebrayan.

Kehadiran Sinuwun Amangkurat di wilayah Kediri tahun 1758 disambut hangat oleh Kanjeng adipati Cakraningrat. Patih Nrangkusuma memberi contoh pembuatan tahu takwa. Makanan Kediri ini lestari sebagai peringatan untuk menjaga kualitas iman. Tahu takwa untuk meningkatkan ketakwaan.

Jadwal kunjungan dari Kediri lantas datang Madiun pada tanggal 24 maret 1659. Kata Madiun, yakni marsudi hadining kayun. Artinya mengusahakan agar gagasan luhur menjadi agung dan anggun. Tak lupa wejangan orang Trenggalek, agar terang ing galeh. Dengan cara pono atas rogo, yakni Ponorogo dengan simbol reyog. Di Madiun ini ada suguhan brem, bareng marem. Wejangan solidaritas keadilan sosial.

Kearifan lokal tergelar dari Sabang sampai Merauke. Pangan beraneka rupa ragamnya. Kekayaan yang pantas disyukuri. Ragam makanan daerah termasuk identitas kultural. Panganan tradisional telah berkontribusi atas perdamaian dunia.

Klepon dalam lintasan kultural historis merupakan warisan bangsa. Sepanjang masa memberi kenikmatan lidah yang mendatangkan rasa syukur. Inilah jajan klepon yang membuat keselarasan lahir batin.

(M-01)

Ditulis oleh Liputan68

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian