Liputan BERITA

Di Balik Seragam Bhayangkara, Aiptu Hendro Menjemput Rezeki Dengan Berwirausaha Untuk Menebar Manfaat

Ditulis oleh Yuyun Abdhi pada 17 Juli 2026 ⏱️ 2 Menit Baca

Pacitan,Liputan68.com- Mentari telah lama tenggelam ketika suasana di sisi timur Pendopo Kabupaten Pacitan mulai dipenuhi tawa. Di sudut Alun-alun, deretan sepeda listrik berwarna-warni tak pernah benar-benar sepi. Di balik ramainya usaha kecil itu, berdiri sosok sederhana yang sehari-hari mengemban tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Dialah Aiptu Hendro Subekti, Bhabinkamtibmas Desa Gawang, Kecamatan Kebonagung.

Seragam Polri yang melekat di tubuhnya tak pernah membuatnya merasa gengsi untuk mencari tambahan penghasilan dengan cara yang halal. Begitu jam dinas usai, ia tak segan berganti peran menjadi pedagang, pengusaha kecil, hingga kini mengelola usaha rental sepeda listrik.

Baginya, bekerja bukan semata-mata mengejar keuntungan. Ada nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar angka di dalam dompet: keberkahan dan kesempatan berbagi kepada sesama.

“Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya berusaha,” ucap Hendro lirih, sembari sesekali menerawang mengenang perjalanan panjang hidupnya, Kamis (16/7/2026) malam.

Jiwa wirausaha ternyata sudah tumbuh dalam dirinya jauh sebelum ia mengenakan seragam cokelat. Saat masih duduk di bangku sekolah, Hendro sudah terbiasa berdagang kecil-kecilan. Bukan karena ingin terlihat hebat, tetapi agar uang saku yang diberikan orang tuanya tak terlalu banyak terkuras.

Dari situlah ia belajar satu hal sederhana: tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang jujur.

Kebiasaan itu terus terbawa hingga ia resmi menjadi anggota Polri pada tahun 2003 silam. Di sela kesibukan sebagai aparat negara, ia pernah berjualan nasi rawon bersama sang istri. Kuliner khas Kota Malang, tanah kelahirannya, itu menjadi salah satu ikhtiar mereka dalam menambah penghasilan keluarga.

Tak berhenti di situ, ia juga pernah menjual tempe kripik, keripik buah khas Malang, membuka konter telepon seluler, hingga mencoba berbagai usaha lain. Semua dijalani tanpa rasa malu.

Sebab bagi Hendro, kehormatan seseorang tidak diukur dari jenis pekerjaannya, melainkan dari kejujuran dalam mencari nafkah.

Perjalanan usaha Hendro tentu tidak selalu mulus. Tiga tahun lalu, ia mencoba sesuatu yang sama sekali baru. Bermodal hanya tiga unit sepeda listrik, ia mangkal di kawasan Alun-alun Pacitan. Awalnya bukan untuk bisnis besar.

Ia sekadar ingin mengisi waktu luang. Sesekali ia menawarkan kepada anak-anak yang sedang bermain untuk mencoba mengendarai sepeda listrik miliknya.

Tak disangka, sambutan masyarakat begitu hangat. Hari demi hari, penyewa semakin banyak berdatangan. Tiga unit sepeda perlahan bertambah menjadi belasan unit. Bahkan kini usahanya juga dilengkapi dengan wahana boneka listrik yang semakin menarik perhatian keluarga yang berkunjung ke Alun-alun.

Usaha kecil yang lahir dari keberanian mencoba itu kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi beberapa orang. Sebuah bukti bahwa rezeki memang kerap datang melalui jalan yang tak pernah diduga.

Namun Hendro tak pernah memandang usahanya sebagai jaminan bahwa setiap hari akan selalu ramai. Ada masa ketika penyewa membludak. Ada pula hari-hari ketika tak satu pun pelanggan datang. Baginya, itulah wajah kehidupan.

Pasang dan surut adalah bagian dari proses yang harus diterima dengan hati lapang. “Yang terpenting tetap bersyukur dan terus berbagi meski sedang dalam kesempitan. Insyaallah Allah SWT akan membukakan pintu rezeki yang lebih luas,” tuturnya dengan senyum sederhana.

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Ia adalah prinsip hidup yang telah menemani setiap langkah Hendro selama puluhan tahun.

Di tengah anggapan bahwa profesi tertentu harus selalu tampil bergengsi, Aiptu Hendro Subekti justru memberikan pelajaran berharga. Bahwa kehormatan tidak berkurang karena berdagang seperti yang diajarkan Rasulullah SAW.

Bahwa seragam kebanggaan bukan alasan untuk enggan bekerja lebih keras. Dan bahwa tangan yang sibuk mencari nafkah dengan cara halal adalah tangan yang sedang menjaga martabat keluarga sekaligus membuka pintu manfaat bagi orang lain.

Di balik deretan sepeda listrik yang setiap sore mengantar tawa anak-anak di Alun-alun Pacitan, tersimpan kisah tentang kerja keras, kesederhanaan, dan keyakinan bahwa rezeki bukan hanya soal banyaknya penghasilan, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang mampu dibagikan kepada sesama.

Sebuah pelajaran hidup yang sederhana, namun akan selalu relevan: jangan pernah malu bekerja, selama yang dicari adalah rezeki yang halal dan keberkahan hidup.(Red/yun).

Ditulis oleh Yuyun Abdhi

Jurnalis dan penulis berita di Liputan68.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Home Trending

Kategori Berita

Pencarian