87 % Wilayah Indonesia Dilanda Kemarau
JAKARTA – liputan68.com – Jumlah wilayah yang berstatus “awas” kekeringan di Indonesia meningkat menjadi 23 wilayah. Warga di berbagai kabupaten/kota yang terdampak mulai merasakan kekurangan air bersih akibat puncak kemarau.
Berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis terkini yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat 23 kabupaten/kota yang berstatus awas. Peringatan dini diklasifikasikan dalam tiga jenis, yakni waspada, siaga, dan awas.
Wilayah berstatus awas terbanyak di NTT. Mulai dari Alor, Belu, Ende, Flores Timur, Kota Kupang, hingga Kabupaten Kupang. Lalu Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Sikka, Sumba Barat, Sumba Timur, Timor tengah Selatan, hingga Timor Tengah Timur. Wilayah berstatus ‘awas’ terbanyak kedua (5) di NTB. Mulai dari Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga Sumbawa.
Selanjutnya dua wilayah di Provinsi Maluku, yakni Maluku Barat Daya dan Maluku Tanimbar. Dua terakhir adalah Buleleng di Bali dan Selayar di Sulawesi Selatan.
Jumlah wilayah yang berstatus “awas” meningkat jika dibandingkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG yang dirilis pada 23 Agustus 2020. Berdasarkan data akhir Agustus itu, jumlahnya baru 21 wilayah.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono Prabowo mengatakan, peningkatan itu terjadi karena musim kemarau di Indonesia sedang berada di fase puncaknya (Agustus-September). Kini, sebanyak 87 % wilayah Indonesia dilanda kemarau.
Penyebab lainnya adalah pola aliran udara yang masih berupa aliran udara timuran dari Australia yang kering. “Sehingga potensi hujan di wilayah-wilayah, (seperti) NTT, NTB, Bali, dan Jawa Timur belum banyak,” kata Mulyono, Minggu (06/09/2020).(JB01)

Tinggalkan Balasan