Dikutip dari ayobandung.com :
Hampir semua orang hanya mengenal setidaknya tiga jenis, Golek, Kulit dan Orang. Namun, ternyata terdapat juga wayang jenis baru yang diberi nama Wayang Tavip.
Wayang Tavip diciptakan oleh seorang seniman asal Kabupaten Bandung, Muhamad Tavip. Wayang ini merupakan inovasi wayang kontemporer yang berpijak dari seni wayang sebelumnya.
“Dari sisi fisik, pendekatan wayang kulit,” ucap Tavip kepada Ayobandung ketika ditemui di kediamannya, Komplek Delima Endah, Wargaendah, Baleendah, Kabupaten Bandung.
Konsep wayang kulit yang diambil adalah pementasan zaman dulu, yakni bayangan dalam sebuah layar. Namun, kini dalam pagelaran wayang kulit mengedepankan unsur hiburan yang mana bayanganya bukan menjadi unsur utama.
“Saat melihat wayang kulit, sekarang bukan melihat bayangan. Kalau zaman dulu, pertunjukan wayang kulit itu benar-benar melihat bayangan. Masalahnya karena orang ingin melihat warna,” ujarnya.
Unsur warna tersebut yang menjadi penguat, wayang Tavip menggunakan bayangan, namun dengan warna tetap terlihat jelas.
Hal tersebut dikarenakan bahan utama wayang. Menurut Tavip, secara logika kulit tidak akan tembus ketika disorot cahaya, sehingga saat bayangan tampil di layar tetap akan berwarna hitam. Sehingga, dia memilih bahan plastik yang diberi warna, sehingga bayangan yang muncul juga akan berwarna.
Berbahan Platik Bekas
Pemilihan bahan menjadi keunikan sendiri dalam wayang Tavip. Secara umum, wayang Tavip terbuat dari plastik, untuk memunculkan warna. Plastik dilukis menggunakan spidol atau dilakukan print menggunakan tinta laser.
“Kalau menggunakan cat padat, bayangannya tetap akan hitam, warna tidak akan muncul. Makanya tintanya harus yang transparan supaya saat lampu menyorot, bayangan yang dihasilkan akan tetap sesuai warnanya,” papar Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISBI Bandung tersebut.
Namun uniknya plastik yang digunakan hampir semuanya bekas. Tavip mengungkapkan ada beberapa jenis plastik yang biasa digunakan wayangnya. Plastik bekas jilid buku dan bekas botol air kemasan.
Untuk plastik bekas botol air kemasan, dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan cara dipotong, kemudian disetrika supaya menjadi datar. Setelah datar, baru dilakukan pembentukan karakter wayang.
“Memang tidak akan lurus seperti plastik jilid buku, tapi tekstur dari botol plastik memiliki efek bayangan luar biasa,” ucapnya.
Selain itu, pengambilan bahan botol plastik juga sebagai upaya daur ulang. Tavip sadar betul jika plastik menjadi masalah saat ini, terutama dampak terhadap lingkungan. Dengan daur ulang diharapkan bisa menjadi inspirasi dan solusi bagi masyarakat luas.
Berawal Dari Tugas Akhir Magister
Pada mulanya, ide wayang Tavip berasal dari sebuah perjalanan proses panjang. Namun, kata Tavip, secara garis besar ide tersebut muncul ketika dirinya membuat tugas akhir Pasca Sarjana di ISI Surakarta pada 2010. Kala itu, Tavip memang telah membuat wayang dari bahan plastik.
Nano Riantiarno, salah seorang pembimbing Tavip mengusulkan agar wayang berbahan plastik buatannya dijadikan bahan karya ilmiah untuk tugas akhir pasca sarjananya. Judulnya masih standar, pemanfaatan botol plastik dijadikan wayang.
“Tapi judul itu ditolak. Dosen pembimbing menyarankan agar ganti judul. Beliau menghargai proses kesenian pembuatnya. Akhirnya diberi nama wayang Tavip dan Alhamdulillah diterima,” ungkapnya.
Tavip memang merupakan senimam, wayang plastik yang diciptakannya, selain mengambil inspirasi dari wayang kulit, namun juga diilhami oleh perjalanan proses keseniannya.
Sejak 1993, Tavip sering berkerjasama dengan seniman asal Bandung, Herry Dim, terutama dalam mengolah bayangan.
Nama Wayang Tavip Berhubungan dengan G30S
Nama wayang Tavip memang erat kaitan dengan nama kreatornya yakni Tavip. Namun, jauh dari itu ternyata menimpan makna lain.
Suami dari Yati tersebut mengungkapkan, salah satu dosen pembingnya, Prof Sri Hastanto, menyetujui penamanaan wayang Tavip, namun bukan diambil dari nama kreatornya, melainkan sejarah kelam bangsa Indonesia, yakni G30S.
Dijelaskannya, Tavip bagi kalangan sejarawan dikenal sebagai sebuah akronim Tahoen Vivere Pericoloso (Tavip) yang dipopulerkan oleh Presiden Soekarno sebagai judul Pidato Kenegaraan Peringatan HUT RI ke 19 tahun 1964. Pada tahun tersebut juga muncul tragedi pembantaian 7 jenderal yang dikenal sebagai G30S.
Tavip yang menjadi judul pidato Soekarno, diambil dari bahasa Italia yang artinya Tahoen menyerempet bahaya. Tahun tersebut Muhammad Tavip juga lahir, tepatnya 27 Oktober.
“Ini juga berkaitan dengan tema yang diangkat bagi anak-anak, ruang bermain yang menyerempet bahaya,” ujarnya.
Saat ini anak-anak sedang diambang bahaya globalisasi. Ruang bermain dan berkreasi semakin terkikis oleh gawai dan teknologi. Semangat memerangi bahaya tersebut yang diambil oleh Tavip, dengan wayang ciptaannya diharapkan bisa menjadi jembatan kembali munculnya kreativitas anak-anak.








